
Kini Rania, Adi, Alvin, telah sampai di sebuah apartemen yang diyakini Rania akan dijadikan tempat penyekapan-nya nanti.
"Yah ...masih lebih unggul tiga level lah sama Nova. Dia kan disekap di gudang," batin Rania dalam hati.
Tapi namanya diculik, apalagi melihat kemarahan Shaka waktu itu, siapapun akan merasa takut. Pasti semua bayangan-bayangan menakutkan akan terlintas.
Namun, beruntungnya meski tangan bergetar, keberanian lebih dominan. Sedikit banyak Rania sudah mengerti dengan kepribadian si penculik. Jadi, dia tahu apa yang harus dia lakukan ketika bertemu dengannya nanti.
Pintu apartemen terbuka setelah Alvin memencet tombol kode kunci. Dengan hormat Alvin mempersilahkan Rania masuk. Adi langsung menghubungi Tuannya bahwa target sudah berhasil dibungkus.
"Bantengnya di mana, Di? Sepi amat," tanya Rania heran, sambil mengamati seluruh penjuru apartemen tersebut. "Lumayan mewah," batinnya.
"Di kebun binatang dan di taman satwa liar, Nona," jawab Adi logis.
"Cih, itu sih anak TK aja tahu, Di. Yang aku maksud itu, Rajanya kalian. Aku tahu loh yang nyuruh kalian itu siapa," ujar Rania ketus.
"Tunggu saja kedatangannya, Nona. Sebentar lagi dia datang," ucap Alvin.
"Oh ...kalau begitu, setelah dia datang kalian jangan pergi, ya," Rania mengedipkan matanya sambil tersenyum semanis mungkin.
"Nona takut?" tanya Adi mengerutkan alisnya.
"Iyalah, gobl*k. Namanya diculik, mau dikasih ingkung sapi pun ya tetap takut," Rania mendengus.
"Oh, kirain cewek galak nggak punya rasa takut," kekeh Alvin.
"Aku galak?! Yang beliin kalian boba siapa? Yang bersihin tisu-tisu dibawah jok mobil siapa?" teriak Rania. Sungguh tak akan ada yang menyangka sisi buruk Rania. Gadis yang selalu lemah lembut di depan siapapun itu, kini berubah wujud menjadi seekor singa betina PMS.
"Maaf, Nona. Kalau masalah minuman kan Anda sendiri yang menawarkan. Dan dapat diskon juga, kan? Kalau masalah tisu berserakan, Nona sendiri yang mengusap air mata pakai tisu dan dibuang sembarangan," protes Adi. Alvin hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mau diskon atau enggak, yang namanya beli banyak tetap tambah uang juga. Dan tadi di dalam mobil nggak ada tempat sampah. Berarti salah kalian, dong," ucap Rania tak terima.
"Sudah, Di. Mau sampai rambut memutih pun, kamu nggak akan pernah menang sama perempuan," ucap Alvin menengahi.
Ehem!
Alvin dan Rania terkejut melihat siapa yang datang. Akan tetapi, dengan sigap Rania langsung memeluk Alvin erat.
Hal itu sukses membuat Shaka naik pitam. Rahangnya mengeras dan matanya memerah. Alvin mencoba melepas pelukannya, tapi pelukan Rania terlalu erat.
"Maaf, Tuan. Ini bukan kesalahan saya. Nona Rania tiba-tiba memeluk saya," ucap Alvin membela diri.
"Karena aku merasa nyaman denganmu, Pak Sopir," ujar Rania, yang sedang berusaha melindungi diri.
Shaka langsung menarik secara paksa lengan Rania. Tak dia hiraukan Rania yang menjerit kesakitan.
"Umurmu di ujung tanduk, Vin," bisik Adi mengompori.
Tiba di kamar Shaka yang berada di lantai dua, dengan gerakan kasar Shaka menghempaskan Rania hingga dia jatuh ke lantai bahkan keningnya terbentur sisi lancip meja, dan nahasnya sampai mengeluarkan darah.
"Ssshhh ...sakit," rintih Rania lirih.
Ketika Shaka melihat darah yang mengalir dari kening Rania, kepanikan pun terjadi.
"Maaf, maafkan aku. Sakit?" tanya Shaka yang sudah mulai menurunkan emosinya.
"Nggak, masih sakit yang di sini," jawab Rania sambil meletakkan telapak tangannya di dada sebelah kiri.
"Maafkan aku. Aku hanya tidak terima kamu memeluk Alvin," jelas Shaka.
__ADS_1
"Memang kenapa kalau aku memeluk Alvin? Aku hanya berusaha melindungi diri, Kak. Aku tahu kamu pasti akan melukaiku dan--" tiba-tiba pandangan Rania kabur dan berkunang-kunang. Rania pingsan dan langsung di tangkap oleh Shaka.
Beberapa saat kemudian, Dokter Aina datang. Dia adalah Dokter keluarga Pradikta. Adi yang memanggilnya untuk segera datang setelah diberitahu oleh Shaka bahwa Rania pingsan.
Dokter Aina langsung memeriksa kondisi Rania dan mengobati luka di keningnya. Kini, gadis malang yang sok kuat itu sedang terbaring lemah di ranjang king size milik Shaka. Sehingga membuat Dokter Aina dapat menebak apa yang sedang terjadi.
"Ini hanya luka ringan saja kok, Ka. Jangan khawatir. Aku akan memberikan obat pereda nyeri dan paracetamol," kata Dokter Aina sekaligus sahabat Shaka ini.
"Tapi dia pingsan, Ain," ucap Shaka khawatir.
"Dia hanya terlalu tertekan dan shock. Makanya, jangan paksakan kehendakmu. Dia mantan istri adikmu, Ka," ucap Dokter Aina dengan lembut.
"Jangan ikut campur urusanku, Ain. Kamu tidak ada hak untuk hal itu," ucap Shaka dengan sorot mata tajam.
"Oke, aku pergi sekarang juga. Pesanku, jangan mengorbankan seorang perempuan hanya karena emosi dan ambisi sesaat. Bedakan, mana emosi dan mana ambisi." Setelah mengatakan itu, Dokter Aina langsung pergi meninggalkan Shaka dan Rania di kamar super mewah itu.
"Morgan ..." Rania mengigau.
"Tolong aku, Mas,"
Rintihan itu sukses membuat Shaka menyesal yang sedalam-dalamnya.
"Shaka ..."
Shaka mengernyit. Apa yang sedang Rania impikan sampai namanya disebut.
Shaka menggenggam jari lentik Rania dengan lembut.
"Maafkan aku, Nia," bisik Shaka dan setelah itu dikecupnya luka Rania yang sudah dibalut kain kasa oleh Aina.
__ADS_1
TBC.