Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Morgan dan Rania


__ADS_3

Keesokan paginya, Rania merasa dirinya lebih nyaman dan lebih segar. Dia meminta Shaka untuk membantunya mandi. Meski hanya mandi usap di ranjang saja. Rania merasa tubuhnya yang lengket, membuatnya tak nyaman.


"Nunggu handuk dari suster dulu, ya?" Shaka merapikan rambut Rania yang berantakan. Rania mengangguk menyetujui.


"Mas, kalau boleh tahu, siapa yang udah nyelakain aku?"


Deg.


"Mas, kok malah bengong?" Rania mengernyitkan dahinya.


"Sayang, kamu jangan mikir sampe sana dulu, ya? Kata dokter, kamu nggak boleh banyak pikiran. Fokus ke perkembangan aku junior, oke!" Shaka mengecup dahi Rania, lalu turun ke bibir. "Cepat sembuh, aku rindu sekali dengan servis kamu yang asoy digeboy," goda Shaka sembari mengerlingkan matanya genit.


"Mas! Istri lagi sakit masih sempet-sempetnya mikir yahut-yahut-an, deh! Mesum!" Rania memalingkan wajahnya malu, membuat Shaka tertawa geli.


"Udah nikah hampir dua puluh tahun, masih aja malu, Neng?" Shaka semakin senang melihat istrinya mulai tumbuh benih-benih merona setelah hampir lima hari hanya wajah pucat yang terlihat.


"Kok dua puluh, sih? Aku kan belum mau tua," sungut Rania kesal.


"Mau baru nikah satu tahun atau lima tahun, intinya kan hampir dua puluh tahun, Sayang." Shaka menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Kalau hampir itu misal kita udah nikah delapan belas tahun, soalnya mendekati dua puluh tahun. Kamu kurang smart, deh," kekeh Rania.


"Iya, ya? Oh, iya, kamu belum makan, loh. Makan dulu, ya?" dalam hati, Shaka bersyukur bisa mengalihkan topik pembicaraan.


"Boleh, tapi aku lagi pengen makan nasi sama garam doang. Boleh?" Shaka terdiam, lalu dia menatap mata Rania lekat.


"Kenapa, Mas?" Rania mengernyitkan dahinya.


"Kamu ... ngidam?"


"Nggak tahu, aku cuma ngikutin insting aku aja. Kayanya, makan nasi sama garam doang enak, deh! Pasti gurih mirip bubur Mbok Mun." Rania menatap langit-langit kamar, ada binar harapan tersembunyi di mata hitam lekatnya.


Setelah Shaka tak lagi tercium aromanya, diam-diam Morgan mendatangi Rania tanpa sepengetahuan kakaknya.


Dengan bantuan kursi roda, Morgan masuk ke kamar Rania yang berada tepat di samping kamar inapnya.


"Loh, Morgan? Sejak kapan kamu di sini?" Rania menatap Morgan heran.


"Sejak Shaka keluar. Oh, iya, gimana keadaan kamu dan ... bayi kamu?" ada rasa nyeri menusuk ulu hatinya mengingat dalam perut Rania ada janin hasil buah cinta Rania bersama pria lain.

__ADS_1


"Baik. Kamu gimana?" tanya Rania canggung. Beruntungnya, Rania sudah memakai kerudung setelah Shaka selesai menyisir rambutnya.


"Aku baik." seketika, ruang VVIP itu mendadak berubah penuh kecanggungan.


"Eh ... anu ... Rania?"


"Ya?"


"Apa yang kamu pikirkan setelah mengetahui aku masih hidup?"


"Bahagia dan bersyukur. Meski ada rasa bimbang atas pernikahanku dan Shaka," jawab Rania penuh ketegasan.


"Kalau boleh aku tahu, apa kamu masih mencintaiku? Karena jujur, rasa di sini dari dulu hingga sekarang masih tetaplah sama. Dan aku selalu menganggap kamu sebagai istriku."


Duarrr.


"Morgan, maaf. Seandainya aku tahu kamu masih hidup atau kamu tengah pergi jauh, intinya aku tahu ke mana kamu pergi, tentu aku tak mungkin menerima kakakmu. Tapi kasus kita beda. Yang aku tahu, kamu udah nggak ada. Tiga tahun aku tak mendapat nafkah baik lahir maupun batin dari kamu. Itu berarti kamu sudah bukan lagi suamiku."


"Tapi aku tak menjatuhkan talak padamu, Rania."

__ADS_1


"Kalau begitu, apakah orang-orang sebelum meninggal harus menjatuhkan talak istri-istri mereka?"


__ADS_2