
Rania menatap dua insan yang masih terus bertatapan tanpa satu patah kata pun terucap dari bibir mereka. Tak ada yang berniat membuka obrolan. Apalagi Morgan yang masih lemas dan shock.
Hening.
Dan Rania benci suasana ini ...
"Apa kalian hanya ingin saling diam tanpa penjelasan? Tolong, jangan diam terus. Kalian bukan suami istri yang lagi marahan, loh." Rania mendekat ke ranjang pasien yang tengah ditiduri Morgan dan diduduki Shaka.
"Coba kamu perkenalkan dirimu, Tuan Takur." Rania menyentuh bahu Morgan lembut sembari menatap manik hitam pekat itu lekat.
"A-ku--"
"Morgan? Kaukah itu?" lirih Shaka.
"A-apa kau mampu mengenaliku?" mata Morgan memerah, ada rasa haru di ujung hatinya bercampur dengan kecewa dan marah juga karena Rania telah menjadi milik Kakaknya.
__ADS_1
"Mata elangmu, suaramu, tatapanmu, dan yang utama adalah hatiku sangat mudah mengenalimu, Morgan. Kau Adikku, Kau saudaraku! Apa ini nyata?" Shaka menampar pipinya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tak puas dengan itu, Shaka mencubit tangannya hingga nampak bekas kuku di sana.
"Mas, jangan sakiti diri kamu." Rania mencekal tangan Shaka lalu menggigitnya lembut.
"Mas, bisa jadi dia cuma pura-pura. Jangan percaya gitu aja, dong."
Sakit, perih, sesak bercampur menjadi satu. Istrinya tak bisa mengenali dirinya. Istri yang begitu dicintai hingga sampai detik ini juga telah berpaling ke lain hati. Salahnya juga yang dengan mudahnya ditindas penculik gila itu.
"Kak Shaka, Rania ... ini aku--Morgan Veer Pradikta. Aku Adikmu yang tiga tahun ini kalian anggap mati. Aku berani bersumpah, Kak. Aku memang beda dari segi fisik, tapi di sini masih sama, Kak." Morgan mengarahkan jari ke dadanya dan menatap Shaka lekat.
"Aku Morgan, Kak. Percayalah," isak Morgan yang sudah tak tahan membendung air matanya.
"Mor-gan ..." Shaka melangkah mundur. Tak hanya tak percaya dengan kenyataan yang ada di depan matanya, Shaka pun berpikir, bagaimana nasib pernikahannya nanti?
Rania tak kalah terkejutnya. Wanita yang tengah hamil muda itu menutup mulutnya yang menganga lebar saking terkejutnya. Dia pun berpikir, bagaimana dengan Shaka dan janinnya jika memang benar dia Morgan.
__ADS_1
"Katakan, rahasia apa yang aku miliki, dan hanya kamu yang tahu," ucap Shaka tegas.
"Kamu punya tanda lahir di bagian intim kamu dan kamu juga pernah mencuri uang Papa buat traktir teman kampus kamu karena kalah taruhan," jawab Morgan enteng.
Shaka terdiam, tapi setelah itu dia tersenyum cerah. Laki-laki tampan itu merentangkan tangannya dan segera memeluk Adiknya erat. Menyalurkan rasa rindu yang terlalu dalam terpendam.
"Kamu Adikku ... aku merindukanmu, Morgan. Bagaimana bisa kamu masih hidup? Dan di mana saja kamu selama ini? Kenapa waktu itu kamu mati?" Shaka memberondong pertanyaan dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.
Rania terharu, sampai-sampai dia turut menumpahkan air matanya. Tak ingin mengganggu momen haru sepasang kakak beradik itu, Rania memilih mundur dan keluar dari ruangan tersebut.
Sementara itu, Aslan masih berada di rumah sakit karena kejadian lalu. Kandungan Nova dinyatakan lemah meski janin aman. Oleh karena itu, Nova masih harus menjalani rawat inap di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang sedang menjadi tempat rawat Morgan.
Nova harus bed rest dan rutin minum obat penguat janin serta masih harus dipantau gizi dan perkembangannya.
Happy Eid Mubarak
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Adha
Mohon Maaf Lahir dan Batin