Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Pingsan


__ADS_3

Pernikahan Aslan dan Nova digelar sangat sederhana. Hanya disaksikan keluarga Aslan dan Nova saja. Bahkan bisa dibilang tertutup. Kedua orang tua Nova bahkan tak tahu jika putrinya tengah hamil dan bahkan korban pemerkosaan. Nova berniat menyembunyikan hal itu karena dia tak ingin terjadi sesuatu dengan mamanya yang kesehatannya sedang tidak stabil.


"Aslan, sekarang kamu sudah menjadi seorang suami. Pemimpin sekaligus teman hidup untuk putriku. Aku titipkan dia kepadamu sepenuhnya, yang berarti aku lepas tanggung jawabku atas Nova dan ku pikulkan di pundakmu. Dia adalah anak perempuan yang sangat kami sayangi, jangan sakiti dia. Jika dia salah, beritahu dia baik-baik. Jika dia masih tetap tak bisa diberitahu, bawa dia kepadaku. Maka aku akan memperbaikinya," terang ayah Nova panjang lebar dengan mata berkaca.


"Iya, Dad. Saya pastikan, saya akan membahagiakan Nova semampu dan sekuat saya. Dady tak perlu khawatir," jawab Aslan sopan.


"Aku lega karena akhirnya putriku bahagia. Juga ... aku sangat berterimakasih kepada adikmu karena telah membuat Nova berubah menjadi gadis yang baik." pria paruh baya itu menepuk pundak Aslan, lalu memeluk Nova yang tengah duduk di kursi pelaminan sambil menundukkan wajahnya.


"Nak, sekarang kamu bukan lagi seorang anak, melainkan istri yang sudah memiliki hak dan kewajiban yang tak boleh kau abaikan. Lakukan tugasmu dengan baik dan berbaktilah kepada suamimu. Ridha Allah tergantung ridha suamimu, Nak ..." isak ayah Nova, sembari mengusap punggung Nova yang terguncang.


"Dad ... maafkan aku jika selama ini aku memiliki salah sama Dady. Aku jarang sekali nengok Dady dan Mommy, apalagi sekarang aku udah dimiliki orang lain." Nova semakin mengeratkan pelukannya kepada sang ayah, sebelum akhirnya dia jatuh pingsan tak sadarkan diri.


"Bawa dia ke rumah sakit, cepat!" seru Rania yang melihat ada darah di hidung Nova.

__ADS_1


"Mas, Nova kenapa dia?" tanya Rania lirih kepada Shaka yang baru saja mengeluarkan kunci mobilnya kepada Adi.


"Antar dia, pastikan keadaan dia dulu baru kamu kembali," ucap Shaka tegas yang dibalas anggukan oleh Adi.


"Mas ..." isak Rania. Lalu datanglah Fatma yang tak kalah khawatir memeluk Rania.


"Rania ... Nova kenapa? Di hari ulang tahun sekaligus pernikahannya ini, kenapa dia mendapati masalah lagi?" isak Fatma.


"Benar, atau jika kalian ingin menyusul Nova, silahkan. Biar kami yang mengurus mereka," sahut Tuan Yudi yang dibalas anggukan oleh Nyonya Irene.


"Baiklah, aku akan menyusul Nova, Ayah," Rania segera mengambil tas lalu keluar dengan langkah tergesa tanpa menunggu balasan dari Shaka.


"Sayang, apa kamu lupa dengan keadaan kamu? Ada bayi yang harus kamu jaga, Sayang." Shaka menahan lengan Rania dan menatap ibu hamil itu tajam.

__ADS_1


"Benar kata Shaka, Ran. Biar aku saja yang ke sana, oke," bujuk Fatma lembut. Rania pasrah, dia mengangguk lemah.


"Baiklah, tapi kamu biar diantar Alvin, ya? Boleh kan, Pa?" tanya Rania memastikan. Semua orang tertuju pada Tuan Harsa yang mengangguk dengan senyum ramahnya.


"Terimakasih, Pa,"


"Sama-sama, Nak. Alvin!" seru Tuan Harsa kepada pemuda tampan, berkulit sawo matang, yang tengah duduk di depan pintu sambil bercakap dengan para ikan yang berada di kolam di depannya.


"Ya, Tuan!" sahut Alvin tak kalah seru, lalu dia lari tergopoh menghampiri majikannya.


"Antar Fatma menyusul Aslan dan Nova," titah Tuan Harsa.


"Baik, Tuan," jawab Alvin dengan wajah tersipu, dan itu tak luput dari pandangan Tuan Harsa.

__ADS_1


__ADS_2