Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Hamil?


__ADS_3

Shaka menatap istrinya yang masih tidur dengan cantiknya. Kecantikan alaminya berhasil membuat Shaka begitu terpana. Terjerat oleh pesonanya hingga tak mampu untuk keluar lagi. Perlahan, jari itu menyentuh kening, mata, turun ke hidung dan terakhir turun ke bibir tipis, berwarna pink, manis nan menggoda itu.


Merasakan ada sentuhan dingin di bibirnya, Rania pun membuka matanya secara perlahan. Sedikit menyipit karena pantulan sinar matahari yang entah mengapa siang ini terasa begitu terik.


"Mas, jangan ganggu aku. Aku masih mengantuk," desah Rania kesal.


"Adikku ingin segera dipuaskan, Sayang." ucap Shaka tanpa basa-basi sambil menoel hidung mancung Rania.


"Ih, bangun-bangun udah mesum aja. Mimpi apa tadi, hem?" tanya Rania gemas.


"Aku bermimpi, kamu memuaskanku tiga hari tiga malam tanpa henti. Sampai kita kebanjiran keringat kita sendiri. Menggairahkan sekali, bukan?" bukannya ber-empati, justru Rania tergelak kencang sampai matanya berair mendengar cerita mimpi suaminya.


"Kok ketawa?" tanya Shaka heran.


"Kalau benar kebanjiran keringat, kita udah mati, Mas. Bukannya malah bercocok tanam seperti mimpimu. Ada saja kamu," ucap Rania yang masih menyisakan tawanya hingga terasa nafasnya yang tak beraturan.


"Namanya juga mimpi. Mau aku berubah jadi Doraemon pun sah-sah aja, kan?" Shaka berdecak. Niat hati ingin menggugah gairah istri, malah jadi candaan karena mimpi.


"Sah-sah aja. Yang nggak sah itu kalau kamu bermimpi wanita lain," ujar Rania.


"Mimpi itu bukan kemauan kita loh, Yang. Kalau sampai aku bermimpi sedang anu wanita lain ya mau bagaimana lagi?" goda Shaka. Sontak Rania mengerungkan wajahnya dan hendak mendaratkan cubitan di dada Shaka.

__ADS_1


"Eits. Jangan asal cubit, nanti aku balas cubit di sini, mau?" Shaka menaik-turunkan alisnya genit.


"Jangan sentuh aku! Pokoknya detik ini juga, aku mau pisah!" sentak Rania tiba-tiba, membuat Shaka terhenyak.


"Jangan bercanda, Sayang. Kamu pasti lapar, kan?"


"Aku nggak bercanda, Shaka. Talak aku sekarang juga," kali ini Rania tidak menambahkan embel-embel Mas dalam panggilannya.


"Rania! Apa maksud kamu berbicara seperti itu, hah?! Kamu pikir pernikahan itu mainan?" seru Shaka tak kalah garang.


"Kamu sendiri kan, yang mau bermimpi bercinta sama wanita lain. Sana! Tapi aku mau pisah!" Rania merubah posisinya menjadi duduk sambil merapikan rambutnya.


"Pffhhh ... hahaha. Sayang, kamu kok jadi baperan gini, sih? Aku cuma bercanda, loh. Mana ada aku seperti itu. Sungguh aku hanya bercanda, Sayang. Tak ada niat sedikitpun untuk aku melakukan itu. Kamu adalah satu-satunya, dan hanya kamu untuk selamanya." jelas Shaka mulai melembut.


"Iya, aku bercanda. Maafkan aku. Kamu kok jadi baperan gini, sih? Lagi PMS?" tanya Shaka heran.


"Enggak, aku belum haid-" tiba-tiba Rania membulatkan matanya lebar-lebar ketika mengingat sesuatu.


"Ada apa, Sayang? Kamu jangan bikin aku khawatir gini, dong." ucap Shaka cemas. Tapi apalah daya, Rania tidak mau percaya diri. Ia lebih memilih diam sebelum membuktikannya sendiri dan melihat hasilnya.


"Kamu kok malah ngelamun. Kenapa? Sakit, hem?" tanya Shaka menyentuh dahi Rania.

__ADS_1


"Aku nggak papa. Kita makan siang, yuk. Aku lapar sekali,"


"Baiklah kalau begitu. Mau makan apa siang ini?" tanya Shaka yang selalu menjadi rutinitas setiap akan makan bersama sang istri. Pasalnya, apa yang Rania makan maka Shaka pun makan.


"Aku mau makan bubur rumah sakit, Mas," ucap Rania cengengesan.


"Aneh. Kita nggak sedang sakit, Sayang. Kamu kenapa, sih?" Shaka yang belum pernah berpengalaman apa-apa itu hanya mendesah berat akibat ulah sang istri.


"Aku nggak tahu. Yang penting aku mau makan bubur rumah sakit, sekarang." Rania melipat kedua tangannya di dada.


"Ah, entah lah. Ayo kita makan di restauran biasanya saja," ujar Shaka lemas. Entah kenapa hari ini begitu menguras emosinya.


"Kamu kok gitu?" mata Rania berkaca-kaca. Penolakan suaminya sangat menyayat hati baginya.


"Sayang, kamu kenapa, sih? Ya udah, ayo kita ke rumah sakit Bina Medika. Kita minta orang di sana buat bikinin bubur. Gimana?" ya, mau tak mau Shaka harus mengalah jika sudah begini. Terbukti wajah Rania langsung berbinar mendengar ucapan suaminya.


"Ayo, sekarang. Kamu memang suami terbaik, aku semakin mencintaimu, Mas." ucap Rania mengecup bibir suaminya. Mendapat suntikan energi tersebut, Shaka yang sudah lelah itu segar kembali.


"Apapun untukmu, Sayang." Shaka menyambut kecupan itu menjadi luma*an, lembut dan mesra.


"Jangan diterusin, nanti makin ke mana-mana," pungkas Rania melepas tautan mesra yang baru saja terjadi selama dua puluh detik itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2