
Betapa terkejutnya tuan Harsa kala melihat sosok yang dirindukannya berada tepat di hadapannya. "M-Morgan, kamu kah ini?"
"Aku Morgan Veer Pradikta, putramu yang tiga tahun kamu anggap tiada, Pa,"
Mimpi ... inikah yang disebut mimpi non fatamorgana? Tuan Harsa menatap Morgan tak berkedip sedetikpun, agar bayangan di depannya tak segera pergi.
Tapi sayangnya, cahaya putih seakan memenuhi tubuh Morgan dan-
"TIDAK!" nafas tuan Harsa semakin memburu seperti seorang baru berlari maraton dua ribu meter.
"Mimpi lagi? Pertanda apa ini? Kenapa kamu selalu datang dan mengatakan dianggap tiada, Nak? Beri Papa petunjuk ..." lirih tuan Harsa seraya menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Ya, karena lelah badan dan pikiran tuan Harsa beristirahat di sofa panjang berhadapan dengan foto keluarga miliknya. Hingga tanpa sadar, tuan Harsa tertidur dengan lelapnya dan mendapati mimpi bertemu Morgan yang sudah terjadi kesekian kalinya.
"Apa kamu memang masih hidup, Nak? Papa masih merasa, kamu masih hidup. Bahkan saat Papa ingin melihat jenazahmu saja, pihak rumah sakit tidak mengizinkan. Apa ada sesuatu yang terjadi kepadamu?" gumam tuan Harsa mencoba mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
Sedang di tempat lain, seorang laki-laki berpakaian kumal, kurus, bau, dan berambut gimbal tengah tertidur di samping pemakaman dengan tubuh menggigil.
"Ma ... Pa ... Kakak ... Sayang ..." gumamnya lirih.
Bersamaan dengan mulutnya yang terus meracau, datanglah seorang laki-laki bertubuh kekar dan berpakaian rapi. Laki-laki itu berkacak pinggang lalu menendang tubuh laki-laki yang tengah menggigil dengan kasar.
"Bangun!" serunya. Tapi laki-laki itu tak berkutik sama sekali.
"Bangun, woy! Manja banget lu! Bangun!" laki-laki itu terus menendang dan menginjak tubuh pria ringkih yang tertidur di samping makam seseorang tanpa ampun.
__ADS_1
"Hei! Ada apa ini?!" teriak seorang wanita yang berdiri tak jauh dari lokasi penyiksaan itu.
"Wanita idaman datang di saat yang tak tepat. Sial," gumamnya.
"Ingat, kalau lu sampai buka suara, habis lu di tangan gue," bisik pria tersebut lalu pergi dengan langkah tergesa.
Rania bergegas menghampiri pria yang tengah kesakitan itu.
"Pak ... Bapak dengar saya?" Rania menyentuh pergelangan tangan pria itu, dengan tujuan mengecek denyut nadi.
"Alhamdulillah ... tapi sangat lemah. Gimana ini? Mana aku nggak bawa ponsel lagi. Duh, ceroboh," gerutu Rania.
"S-sayang?" gumam pria tersebut dengan lengkungan bibir ke atas membentuk senyuman.
Akhirnya, dengan sekuat tenaganya, Rania berhasil membalikkan tubuh sosok pria tersebut.
Deg.
Rania merasa tak asing dengan wajah yang berewokan itu.
"Mirip ... Morgan," lirih Rania seraya mengamati wajah pria tersebut yang dipenuhi luka lebam.
"Ayo, saya bantu berdiri,"
Pria itu sedikit membuka matanya dan tersenyum lagi.
__ADS_1
"Ra ... Ni ... A ..." gumam pria itu terbata.
"Bapak tahu saya? Dan kenapa Bapak bisa ada di makam mertua saya?" tanya Rania yang sudah tak mampu menahan sejuta rasa penasarannya. Tapi Rania pikir, pria ini hanya orang jalanan biasa yang tak punya rumah.
"Sa-yang?"
"Sudah, Pak. Ayo, kita berdiri. Mobil saya nggak jauh dari sini kok." Rania membantu pria itu berdiri dan memapahnya menuju ke mobilnya.
Ya, setelah puas tertidur, Rania baru ingat memiliki janji untuk pergi ke makam nyonya Marsya tanpa sepengetahuan Shaka. Bahkan saat dia pergi tadi, Shaka masih asik tertidur sangat pulas.
Di perjalanan, Rania terus melirik pria misterius itu.
"Aneh, kok aku merasa dia ini familiar sekali, ya? Mirip Morgan, tapi dia versi tak terurusnya. Masa Morgan hidup lagi?" Rania tampak berpikir keras tapi tetap fokus pada jalanan.
Sesampainya di rumah sakit, Rania memanggil para perawat untuk membawa Morgan masuk.
"Tangani dia dengan baik, ya?" ucap Rania pada salah seorang Dokter.
"Iya, Ran. Dia siapa?" tanya Dokter Rian-teman Aslan.
"Aku nemuin dia di makan Mama tadi. Dia tanpa identitas, tapi aku yang akan bertanggung jawab penuh. Aku pulang dulu, suamiku pasti mencariku,"
"Siap, Bumil cantik," sahut dokter Rian sembari memberi menundukkan kepalanya.
"Lebay."
__ADS_1