
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa, pernikahan Rania dan Shaka telah berjalan selama 9 bulan. Kabar bahagianya, Rania telah berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan mendapatkan nilai tertinggi. Dan saat ini, Rania sedang fokus untuk pembukaan cabang baru di depan Mall terbesar di kotanya.
Pernikahannya pun sangat harmonis. Meski terkadang masalah sepele kerap menjadi momok dalam rumah tangga mereka, Shaka akan menjadi dewa perdamaian yang selalu mengalah dan mencari solusi.
Seperti pagi ini, tiba-tiba Rania tak ingin keluar dari kamar. Sarapan pun enggan. Semua jurus rayuan telah dikeluarkan, tapi hasilnya mengecewakan.
Saat ini, Shaka tengah duduk di ranjang bersebelahan dengan Rania yang sedang terisak pilu.
"Sayang, kalau kamu tidak mau cerita, bagaimana aku bisa mencari solusi? Jangan seperti anak kecil dong," ucap Shaka lembut. Tapi berbeda di telinga Rania.
"Seperti anak kecil kamu bilang? Menurut kamu, anak kecil mana yang setiap hari harus melihat riwayat panggilan suaminya dengan perempuan lain? Anak kecil mana yang setiap hari harus membaca riwayat chat suaminya dengan sekertaris cantik, hah?!" sentak Rania tiba-tiba. Hal itu membuat Shaka mendesah berat dengan kelakuan istrinya yang dianggapnya cemburu buta.
"Sayang, itu cuma percakapan biasa yang membahas kerjaan doang, nggak lebih. Kamu jangan seperti ini dong. Aku nggak mau kamu jadi frustasi cuma karena hal sepele seperti ini, oke," Shaka mengusap pipi Rania dan mencium kedua matanya.
"Urusan kerjaan ya di kantor, dong. Kenapa dibawa ke rumah segala? Oke, kalau menurut kamu ini hal sepele. Mulai sekarang, semua temen cowok di kampus aku yang menghubungi aku, bakal aku ladenin. Impas, kan?" skak Rania dan setelah itu dia berlalu meninggalkan Shaka yang masih terpaku oleh perkataan istrinya.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Baru tau aku chat formal sama dia aja ngamuknya udah kaya gini. Apalagi kalau kamu tau siapa orangnya. Pa ... jangan ngasih duri di tengah rumah tanggaku yang sudah tenang ini ..." gumam Shaka lirih, air matanya pun menetes seakan air itu ikut merasakan apa yang sedang pemiliknya rasakan.
__ADS_1
"Dia? Dia siapa?" tanya Rania dalam hati. Ya, dia sedang bersembunyi di balik pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dan mendengar gumaman suaminya, membuat hatinya berdenyut nyeri dan penasaran dengan sosok "Dia" ini.
"Kamu menyembunyikan sesuatu rupanya. Baik, aku akan cari tahu sendiri." Rania keluar dari persembunyiannya dan bergegas menuju ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang kosong.
Shaka yang melihat istrinya keluar itu langsung melangkahkan kakinya menyusul sang istri.
"Kok cuma makan roti?" tanya Shaka basa-basi sambil ikut duduk di samping istrinya.
"Perutku sudah penuh sama kebohongan kamu, Mas," skak Rania.
Deg.
"Tidak. Lupakan saja. Aku berangkat ke butik dulu." ucap Rania dingin dan segera berlalu dari hadapan Shaka. Tanpa kecupan, tanpa salam cium tangan, yang selalu menjadi adat mereka ketika hendak berpisah. Rania meninggalkan Shaka dengan membawa sebongkah pertanyaan dan setumpuk luka yang mungkin akan sulit disembuhkan.
"Maafkan aku, Sayang. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin." gumam Shaka dan setelah itu ikut menyusul Rania yang sudah mengemudikan mobilnya.
Sementara itu, Fatma yang sedang asyik membuat design atasan wanita tiba-tiba dikejutkan oleh suara ponsel yang berdering nyaring di sebelah tangannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Maaf, dengan siapa ya?" tanya Fatma dengan orang di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, Fat. Ini aku, Fikri,"
"Oh, ada apa?" tanya Fatma dingin.
"Aku, merindukanmu,"
"Cih. Sudah jadi suami orang, masih saja godain mantan. Nggak malu?"
"Sungguh, aku merindukanmu. Maafkan aku, aku terpaksa-
Tut.
Fatma memutus telepon sepihak. Dia sudah muak dengan drama yang dibuat oleh Fikri. Dia pun tak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Fikri dan istrinya.
"Ya Allah, jika memang ini adalah cara-Mu dalam menguatkan imanku, maka aku ikhlas. Jika bukan, maka luaskan sabarku, Ya Allah," gumam Fatma lirih. Ya, hingga saat ini, rasa untuk Fikri masih tetap sama. Hanya saja, dia begitu pandai menyembunyikan perasaannya. Karena ia sadar, rasa itu terlarang dan haram hukumnya.
__ADS_1
Hai, maafkan author yang selalu ingkar janji ini ya. Bukan sengaja, tapi saat ini aku lagi ada acara keluarga. Maafkan aku ya 😠sebagai gantinya, aku udah up 2 bab nih ...