
Pagi-pagi sekali,Rania bangun seperti biasa dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.Setelah itu Rania memberi makan Rara yang juga sudah bermain di kandangnya.Kelinci kecil itu nampaknya sudah mulai terbiasa dengan majikan barunya.
Rania berniat menitipkan Rara kepada Mbok Mun karena mungkin di minggu ini dia akan sibuk mempersiapkan konveksi nya.
Selesai membersihkan diri Rania menuju ruang makan untuk sarapan.
"Selamat pagi Ma,Pa,Dady Rara" Rania mengecup keluarganya satu per satu.
"Aku bukan bapak kelinci itu" Aslan mendengus.Sedangkan Yudi dan Irene hanya tersenyum menanggapi tingkah tom and jerry itu.
Mereka sarapan bersama dengan penuh canda tawa.
"Sayang kamu berangkat kuliah sama Kakakmu ya,jangan jalan kaki lagi" Ucap Irene menghentikan kakak beradik yang sedang bercengkerama.
"Tapi aku ada urusan di jalan Ma,aku jalan kaki aja ya" jawab Rania karena pagi ini Rania berencana menemui Lula untuk membahas kerajinan yang akan dibuat Lula nanti.
"No sayang,kalau kamu mau bertemu seseorang suruh kakakmu menunggu.Nggak ada penolakan" Mendengar jawaban Mamanya,Rania hanya bisa mengangguk patuh.
"Good girl"Irene mengelus puncak kepala Rania lembut.
Setelah sarapan selesai,Rania menemui Mbok Mun.
"Mbok ku yang cantik,aku nitip Rara selama satu minggu ya Mbok,kayanya aku bakalan sibuk banget deh minggu ini" Ucap Rara sedikit mengejutkan Mbok Mun yang sedang menjemur pakaian.
"Iya Non,nanti Rara nya Mbok pindahkan ke kamar Mbok saja ya"jawab Mbok Mun tersenyum.
"Makasih Mbok,kalau begitu ini uang untuk membeli wortel dan sayuran Rara ya Mbok,ingat jangan kasih makanan dingin,nanti dia pilek" Rara menyerahkan uang satu lembar pecahan seratus ribu.
"Makanan Rara biar Mama yang belikan,uang itu untuk Mbok Mun saja" tiba-tiba Irene sudah berdiri di belakang dua perempuan berbeda generasi itu.
__ADS_1
"Mama,kapan kesininya? Mama tuh dimana-mana ada deh kayanya" canda Rania.Irene langsung mencubit pipi Rania gemas.Terakhir dia mencubit pipi putrinya ketika putrinya itu masih berusia dua tahun,dimana waktu itu pipi Rania gembul sangat menggemaskan.
"Kamu ya,sudah sana berangkat kuliah dulu! Kakakmu sudah uring-uringan tuh"
"Ah iya,aku berangkat dulu ya Ma,Mbok" Rania menyalami dua ibu itu dengan takzim dan segera berlari menuju halaman rumah.
"Eh Papa,aku berangkat dulu ya Pa.Love you Pa mmmuaach!!" seru Rania tanpa sempat menyalami papanya karena kini mereka sudah berada di kendaraan berbeda.Yudi sudah masuk ke mobilnya dan Rania sudah naik ke motor kakaknya.
Tanpa mereka sadari,Max orang suruhan Nova sudah berdiri tak jauh dari gerbang rumah Rania berharap target segera keluar dari rumahnya.Dan benar,Max melihat Rania keluar berboncengan dengan Aslan.
"Hmmmm keluar juga yang kutunggu-tunggu" Laki-laki itu menyeringai tajam.
Tiba di lampu merah,Rania menyuruh Aslan berhenti di sebuah warung tak jauh dari tempat Lula yang sedang berdiri bersenandung ria dengan tangannya bertepuk membentuk alunan musik.
Sejenak Aslan berfikir, untuk apa Rania bertemu dengan anak jalanan itu.Karena sejauh ini Aslan tidak pernah tahu adiknya itu dekat dengan anak-anak jalanan.
"Kakak??? Mengapa baru datang,aku pikir Kakak akan membawa lari uangku" ucap Lula yang sebenarnya menahan rindu yang teramat dalam kepada Rania.
"Iya memang uang itu sudah dibawa lari sama Kakak itu tu.."Rania mengacungkan jarinya mengarah ke Aslan.
"Sungguh??" tanya Lula polos.
"Hahaha tidak dong La,uang itu masih ada.Dan Kakak berencana menggunakan uang itu untuk membeli bahan-bahan untuk dijadikan hiasan rumah.Nanti teman Kakak yang akan mengajari kamu"
Tak jauh dari Lula dan Rania berdiri,ternyata Shaka sedang berada di lampu merah itu dan pandangannya pun tak lepas dari dua gadis beda usia itu.
Saking asyiknya melihat kedekatan dua gadis itu,Shaka sampai tidak sadar bahwa lampu telah menjadi hijau.Dan..
"Braakk!!!"
__ADS_1
Mobil Shaka tertabrak dari belakang. Rania dan Lulapun terkejut melihat kejadian tersebut.
Shaka segera keluar dari mobilnya dan melihat bagian mobil yang tertabrak.
"Kamu itu bagaimana sih Mas! Sudah tahu lampu hijau kenapa nggak jalan? Kamu buta!" seru seorang pengendara mobil yang menabrak Shaka.
"Maaf Pak,tapi sepertinya anda sengaja menabrak mobil saya.Atau anda mengendara mobil terlalu cepat sehingga anda tidak bisa mengontrol rem"ucap Shaka dingin.
"Kalau saya cepat pun tidak akan terjadi tabrakan kalau kamu tidak berhenti di tengah jalan seperti ini!!" serang pengendara itu.
"Beri saya uang lima puluh juta maka kamu saya bebaskan!" ancamnya.
"Lima puluh juta?Nominal yang tidak seberapa tapi cara anda memeras saya itu masih kurang bijaksana,jangankan uang lima puluh juta,membeli mobil rongsokan anda saja saya mampu!!" tatapan Shaka menajam seakan ia hendak memangsa manusia di hadapannya ini.
"Cukup Pak Shaka! Dalam masalah ini kalian berdua sama-sama salah!" seru Rania.Merasa mengenali orang yang sedang berseteru itu Rania berinisiatif melerai pertengkaran mereka sebelum polisi datang.Sebab jika sampai masalah ini ditangani polisi,maka urusannya akan panjang dan pasti Shaka yang disalahkan.
"Sabar Pak,mohon maaf bukannya saya sok pintar tapi kalian sama-sama salah.Yang saya lihat Pak Shaka melamun di tengah jalan sampai tidak sadar jika lampu merah telah berganti hijau.Dan anda juga salah Pak,anda terlalu cepat dalam berkendara dan tidak fokus karena ada mobil berhenti di depan saja tidak lihat sampai hilang kontrol" Rania berhenti sejenak untuk menormalkan deru nafasnya.
"Seharusnya dalam kasus ini kalian sama-sama sadar bahwa kalian sama-sama salah.Sebelum polisi datang lekaslah berdamai,karena jika kasus ini ditangani polisi maka semuanya akan bertambah panjang."
Shaka dan bapak-bapak tersebut akhirnya berdamai di tempat dan kerusakan mobil ditanggung masing-masing pemilik mobil.
Setelah semuanya beres dan bubar Rania menuntun Shaka ke sebuah warung untuk mengobati luka memar di wajah akibat tabrakan tadi.Aslan hanya diam menyimak karena dia tidak mengenali siapa orang yang sedang Rania obati.Ketika kecelakaan terjadi itupun Aslan tidak mendekat karena banyaknya kerumunan orang yang hanya sekedar kepo atau melerai perdebatan itu.
Melihat keakraban Shaka dan Rania,Max segera mengambil foto dan mengirimkan foto tersebut kepada majikannya,Nova.
"Ini kan Kakaknya Morgan.Hmmmm sepertinya aku tau langkah yang harus ku ambil setelah ini." Nova menyeringai menatap tajam ponselnya yang menampilkan Shaka dan Rania tengah duduk berhadapan dan terlihat mesra.
Komennya dongš„°
__ADS_1