Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Tak Ingin Berpaling


__ADS_3

Aina benar-benar seperti orang yang tengah kebakaran jenggot. Ia tak rela jika sesore ini sudah dihantui oleh suara yang begitu meresahkan jiwa dan raganya.


Tepat pukul setengah tujuh malam, Rania dan Shaka baru saja keluar kamar. Seperti biasa, Rania akan memasak untuk makan malam dirinya dan Shaka.


Aina juga baru saja keluar kamar dengan mengenakan bathrobe dan handuk kecil yang membungkus rambutnya.


"Nona Rania sedang membuat makan malam rupanya?" tanya Aina, tetapi matanya tertuju pada sosok tampan yang tengah fokus dengan layar ponselnya di ruang makan.


"Iya. Dokter mau sekalian aku masakin?" tanya Rania ramah.


"Tak usah repot. Aku sudah makan kok tadi," jawab Aina bohong. Yang ada, sore tadi dia cuma makan angin sama makan ati. Tapi Aina terlalu meng-iman-kan keegoisan.


"Oh, syukurlah. Kalau begitu, aku masak untukku dan suamiku saja," gumam Rania, tapi masih terdengar di telinga Aina.


"Nona, suamimu itu suamiku juga. Kenapa kamu selalu membuat suasana hatiku terasa panas? Kamu mau pamer karena Mas Shaka mencintaimu?" sungut Aina tiba-tiba. Rania tercenung dan menatap wajah Aina datar. Ia sudah memprediksi suasana ini pasti akan terjadi. Jadi, dia sudah menyiapkan segala hal untuk melawan Aina.

__ADS_1


"Ya, Dokter. Suamiku memang suamimu juga. Tapi perlu kamu ketahui, kamu yang memaksa masuk ke dalam rumah tangga kami. Kamu yang terus mendesak suamiku untuk menikahimu dengan alasan desakan dari Papa mertuaku. Tapi bukankah kamu menginginkan hal ini benar terjadi? Jadi, bisa dikatakan bahwa Dokter ini selain menyelamatkan pasien, Dokter juga bertugas untuk merusak rumah tangga orang lain, begitukah?" skak Rania.


"Maaf, Nona. Ada kesalah pahaman sedikit di sini. Aku, disuruh Mama Marsya untuk menikah dengan Mas Shaka karena beliau menginginkan menantu seorang Dokter sepertiku, agar kelak jika beliau sakit, beliau tak perlu ribet bolak-balik ke rumah sakit," kilah Aina.


"Lalu, dengan bodohnya Anda menyetujui permintaan Mama, kan? Mana harga diri Anda yang katanya seorang Dokter? Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu yang mengompori Mama agar beliau mau mendesak Shaka untuk menikahi Anda," Rania menggigit kuku jarinya, bergaya seperti orang yang sedang berpikir keras.


"Sayang, ada apa ini?" Shaka menghampiri Rania serta merangkul pundaknya.


"Mas, kok kamu malah belain dia daripada aku? Padahal, dia yang cari gara-gara sama aku, loh," Aina mengerucutkan bibirnya.


"Istriku bukan kamu yang pandai mencari masalah. Dia memiliki harga diri dan hati nurani, Aina," ucap Shaka dingin. Rania tersenyum miring merasa menang telah dibela oleh suaminya.


Melihat Aina terlihat memang terluka, Rania menyentak nafasnya kasar.


"Tenangkan dia, Mas. Aku nggak mau dicap sebagai istri tua yang egois dan tukang menghakimi. Aku lanjut masak dulu," meski tak rela, Rania harus tetap menguatkan hatinya. Karena ini adalah pilihannya. Dan Allah benar-benar sedang menguji keimanan dan kesabarannya. Rania yakin, ada pelangi yang tangah menunggunya di depan sana.

__ADS_1


"Sayang-"


"Tenangkan dia, minta maaflah. Selama dia menjadi istrimu, perlakukan dia dengan baik. Jangan sampai kamu mendapat dosa besar karena tidak berlaku adil terhadap kedua istrimu. Aku berharap, kita masih tetap bersama sampai di Surga nanti," Rania tersenyum hangat, lalu melirik Aina yang masih terisak membelakangi Shaka.


"Baiklah. Tapi percayalah, aku tetap milikmu. Aku hanya menenangkan saja, tak ada maksud lain dan tak akan pernah ada rasa lain di sini," Shaka menunjuk dadanya dan menatap manik hitam pekat istrinya lekat.


Shaka merengkuh bahu Aina lalu membawanya ke sofa panjang di ruang TV.


"Jangan menangis. Aku nggak mau Rania semakin merasa terluka melihatmu seperti ini," ucap Shaka dingin.


"Kamu menenangkan aku cuma demi dia, Mas? Kok kamu tega, sih?" tangis Aina semakin menjadi. Dan terdengar sedikit berlebihan.


"Iya, cuma demi dia. Asal kamu tahu, dia menangis sepanjang hari memikirkan perempuan tak tahu diri sepertimu. Dia nggak mau kamu terluka karena aku yang nggak bisa membiarkan hatiku terbuka untukmu. Dia takut aku dan dirinya dzalim terhadapmu. Tapi apa yang sudah kamu perbuat untuknya? Sinting," Shaka mendesis lalu menyugar rambutnya ke belakang.


Sejenak, Aina menunduk. Merasa Rania memang tulus dan berhati bak Malaikat. Tapi lagi-lagi, egonya terlalu tinggi.

__ADS_1


"Kamu memang sudah menyakiti aku, Mas. Buktinya, kamu nggak mau menyentuhku sama sekali. Padahal, aku sudah berlagak seperti j*lang di depanmu," sergah Aina sembari melepas tali bathrobe sehingga tampak bagian depan miliknya menyembul dan menantang untuk segera dinikmati.


"Cih!" Shaka beranjak pergi menyusul Rania, merasa muak oleh tingkah Aina yang kekanak-kanakan.


__ADS_2