
Sore ini, Rania dan Shaka telah sampai di kediaman Brahma. Mereka memasuki rumah bernuansa Eropa itu dengan saling bergandengan tangan.
Mbok Mun menyambut mereka dengan suka cita. Memeluk Rania erat untuk melepas rindu. Setetes air mata jatuh bebas akibat rasa haru.
"Non, Mbok kangen sekali sama Non," isak Mbok Mun mengelus punggung Rania.
"Aku juga kangen banget sama Mbok Mun. Kak Aslan di mana, Mbok?" tanya Rania, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Namun, yang dicari tak terlihat batang hidungnya sama sekali.
"Den Aslan sedang kuliah, Non. Katanya lagi mau krispi, jadi nggak boleh absen." ucap Mbok Mun melepaskan pelukannya, serta memandang Shaka dan tersenyum kepadanya.
"Skripsi kali, Mbok," sahut Shaka terkekeh.
"Intinya sama, Den Shaka," kilah Mbok Mun cemberut. Rania dan Shaka pun tertawa dengan celotehan Mbok Mun.
"O iya, Non Rania dan Den Shaka mau Mbok buatkan minuman?" tanya Mbok Mun ketika Rania dan Shaka sudah duduk di sofa panjang ruang keluarga.
"Boleh, Mbok. Aku mau jus mangga, ya? Kamu mau apa, Mas?" tanya Rania.
"Kopi capuccino, ada?" Shaka sebenarnya terkejut mendengar Rania memanggil dirinya dengan sebutan "Mas". Namun, ia urung untuk membahasnya, lantaran ada Mbok Mun yang sedang menunggu jawabannya.
"Ada, Den. Mbok buatkan dulu,"
__ADS_1
"Antar ke kamar aku aja, Mbok. Aku mau istirahat di atas!" seru Rania dan dibalas anggukan oleh Mbok Mun.
Sesampainya di kamar bernuansa lilac yang penuh akan miniatur dan poster One Piece itu, Shaka mengunci pintu kamar dan menyusul istrinya yang sedang melepas rindu dengan ranjang kesayangannya.
"Oh i miss you so much, my bed," ucap Rania manja.
Melihat istrinya yang begitu menggemaskan itu Shaka tak tahan dan langsung mengukung Rania dan mengecupnya mesra.
"Panggil aku," bisik Shaka tepat di telinga Rania, membuat si pemilik bergidik.
"Maksud kamu?" tanya Rania heran.
"Oh, i-itu anu ... ahhh," Rania tak sengaja mengeluarkan suara lakn*t, karena saat ini Shaka tengah bermain di intim Rania yang masih terbungkus kain.
"Panggil aku apa tadi?" tanya Shaka sekali lagi.
"Mashhh ... sudah, ak-aku mau minum. Hhhh,"
Shaka tersenyum smirk, lalu mengecup bibir Rania kilat.
"Manggil Mas saja susah banget,"
__ADS_1
"Aku malu. Tadi aku kebablasan, makanya khilaf," sungut Rania dengan wajah memerah semerah tomat matang.
"Kenapa malu? Aku senang dengan panggilan itu, Sayang." Shaka mencubit pipi Rania gemas.
Belum sempat menjawab, perhatian Rania tertuju pada ketukan pintu dari luar yang tersangkanya pasti Mbok Mun.
"Makasih, Mbok," ucap Rania menerima nampan yang berisi dua gelas minuman.
"Sama-sama, Non. Kalau begitu, Mbok mau siapkan makan malam dulu." ujar Mbok Mun kemudian berlalu dari hadapan Rania.
"Mas, minum dulu. Setelah itu, kita shalat asar. Keburu habis waktunya." Rania meletakkan nampan tersebut di nakas samping ranjang, dan segera menyeruput jus mangganya.
**
Sementara itu, Aslan tengah dalam perjalanan. Pandangannya kosong menatap jalanan yang kebetulan sepi.
Setiap hari, bayangan Nova selalu menghantui pikirannya. Bahkan sore ini, ia rela melewati butik Rania hanya demi melihat sosok yang mengganggu otak dan hatinya.
Hingga tepat di halaman parkir butik tersebut, Aslan benar-benar tak menyangka melihat gadis yang selalu masuk dalam mimpinya sedang bersenda gurau dengan seorang laki-laki di teras butik. Terlihat akrab dan mesra.
"Siapa laki-laki itu? Bukankah Nova jomblo?" gumam Aslan mencengkeram setir mobil dengan erat. Pandangannya tajam bak mata elang yang sedang mengincar mangsa.
__ADS_1