Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Kebodohan yang berulang


__ADS_3


Shaka Putra Pradikta


Memiliki watak dingin. Namun, dia sosok laki-laki baik dan penyayang.



Queen Rania Brahma


Perempuan yang lembut, baik, penyayang, ramah dan kuat menghadapi segala gelombang yang menerpa.



Fatma Ayu Wardani.


Sahabat karib Rania, wataknya ceria tapi lola.



Morgan Veer Pradikta.


Cowok playboy, bucin, lebay, kasar, tapi setia.



Nova Vien Carlotte


Perempuan angkuh, manja, dan arogan.



Tina Ellora Moon


Sahabat Nova yang over lola, tapi setia kawan.


Author:Maapkeun othor yang tergila-gila ama drama cinesek ya🤧. Artis n aktor chino gada obat getoo, pa lagi si Shaka noh.. sebenernya aku juga suka Xu Kai, tapi kasian kalau dapet peran Morgan 🤣🤣. Eh kurang babang Aslan nih. Ada usul nggak?


...****************...


Rania benar-benar terkejut melihat sosok laki-laki yang berada di depannya. Pasalnya, setiap di lampu merah, dia selalu nongol.


"Kak Shaka? Kok bisa ada di sini?" Rania mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Ketika seorang perempuan sedang berada dalam keadaan tidak baik-baik saja, amankah dia bepergian mengendarai motor, sendirian?" tanya Shaka sambil melangkahkan kakinya mendekati Rania.


"Kak, tolong jangan ikuti aku terus. Aku nggak mau Morgan lihat," desah Rania. Kepalanya celingukan takut Suami galaknya melihat mereka.


"Aku tahu kamu sedang bertengkar dengan Adikku. Oleh karena itu, aku ingin kamu pulang dan selesaikan masalahmu, Nia," ucap Shaka tegas. Dengan mudah, Shaka bisa menebak masalah yang sedang terjadi dengan Rania.


"Darimana Kakak tahu aku sedang bertengkar dengan Morgan?" tanya Rania heran.


"Aku punya ilmu telepati, Nia. Aku jelaskan sekalipun, kamu tidak akan paham," ucap Shaka sambil tersenyum jenaka.


"Memang, di kampus Kakak ada pelajaran ilmu telepati?" sontak Shaka tergelak mendengar pertanyaan Rania yang polos itu.


"Ada dong! Kalau kamu mau mempelajari ilmu itu, kamu harus berpuasa selama empat puluh hari penuh. Berbuka puasa hanya dengan air putih dan nasi putih saja, tertarik?" tanya Shaka sambil menaikkan alisnya.


"Aku nggak tertarik sama sekali. Aku lebih tertarik dengan ilmu Teletubbies yang bisa ada TV di perutnya. Bisa ajarin?" Shaka kembali tergelak karena celotehan Rania.


"Ada, tapi kamu yang beli TV nya. Nanti, aku yang pasangin TV itu ke perut kamu, gimana?" tanya Shaka serius.


"Hahaha, perut aku nggak muat dong, Kak. Apalagi TV yang 32 Inch," ucap Rania sembari tertawa lepas.


"Akhirnya, aku bisa melihatmu tertawa lagi, Nia. Apalagi, di balik tawamu itu ada aku sebagai dalangnya," ucap Shaka dalam hati.


"Ah iya Kak, aku pergi duluan ya," ucap Rania yang tiba-tiba teringat dengan sahabatnya.


"Mau ke mana? Biar ku antar,"


"Jika aku tak bisa memilikimu, setidaknya aku bisa melindungimu, Nia," ucap Shaka dengan tatapan dalam penuh arti.


"Apaan sih, Kak. Jangan bercanda deh!" seru Rania.


"Hahaha, iya aku bercanda," ucap Shaka berbohong. Dalam hatinya, Shaka merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan ucapannya.


"Tuh, kan. Ya sudah, aku pergi dulu ya,"


"Biar ku antar, Nia. Tolong, jangan menolak," ucap Shaka tegas.


"Baiklah, tapi motorku gimana?"


"Biar di sini, nanti Adi yang akan mengambilnya," Rania mengangguk dan langsung melepas helmnya. Setelah itu, Rania dan Shaka masuk ke mobil sport milik Shaka. Mobil berjalan, melaju dengan kecepatan sedang.


...****************...


Di kamar Rania, Morgan kelimpungan sendiri karena panggilan teleponnya tak dijawab sama sekali oleh Rania. Morgan mondar-mandir kebingungan di kamar Rania.

__ADS_1


Akhirnya, Morgan memutuskan untuk keluar mencari Rania. Sebelumnya, Morgan menyuruh Mbok Mun untuk merapikan kamar yang sudah berantakan karena pergulatan setengah matang itu.


Di rumah itu, Morgan sama sekali tidak melihat Rara. Karena kelinci itu berada di kamar Mbok Mun. Sesekali Rania menjenguk dan menggendongnya. Namun, itu jarang karena Rania begitu sibuk belakangan ini.


"Aku harus mencarimu ke mana, Rani? Haruskah aku ke rumah Fatma? Lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang fatal dan membuatmu terluka," gumam Morgan lirih. Kini, Morgan tengah berada di sebuah jalan dekat dengan jalan menuju ke rumah Fatma.


Rumah Fatma dengan Rania memang tak terlalu jauh. Oleh karena itu, Morgan berinisiatif mencari Istrinya ke rumah Fatma terlebih dahulu, setelah mendapat informasi dari Mbok Mun.


Namun, mata Morgan tertuju ke sebuah mobil yang tak asing.


"Bukankah itu mobil Kak Shaka?" ucap Morgan.


"Dan perempuan itu, bukankah dia Rania?" Morgan menajamkan penglihatannya. Morgan melajukan mobilnya mengikuti mobil yang diduga milik Kakaknya.


Tepat di halaman rumah sederhana, mobil berhenti.


Morgan benar-benar tak menyangka melihat siapa yang turun dari mobil tersebut.


"Rania, Shaka? Teganya kalian melakukan hal ini padaku," Morgan mencengkeram erat setir mobilnya.


Dengan kemarahan yang meluap, Morgan keluar dari mobilnya. Morgan mempercepat langkah kakinya. Dan-


Plak!


"Istri murahan!" pekik Morgan. Rania jatuh karena tubuhnya yang tak seimbang.


Sontak Shaka terkejut dan langsung membantu Rania berdiri.


Bug!


Giliran Shaka yaang mendapat bogem mentah dari tangan Morgan.


"Kau juga, Kakak penghianat. Kalian sama, sama-sama menghancurkan hidupku!" sentak Morgan.


"Ya, Mas! Aku perempuan murahan yang sedang mencari kenyamanan. Karena Suamiku yang tiada mempercayaiku, Suamiku yang selalu merendahkanku, dan Suamiku yang selalu menyiksaku!" seru Rania dengan nafas memburu karena emosi.


"Setelah kejadian ini, aku jadi semakin mantap untuk menentukan pilihan. Dan pilihan itu adalah aku, mau, kita, cerai, Mas," ucap Rania penuh penekanan.


Shaka terkesiap.


"Jangan bicara sembarangan, Nia. Kalian hanya sedang emosi sesaat," ucap Shaka menengahi.


"Maaf, Morgan. Aku hanya mengantar Istrimu untuk menemui sahabatnya yang sedang berduka. Mana mungkin aku membiarkan dia mengendarai motor sendiri dalam keadaan kacau, bahaya. Aku melihatnya di pinggir jalan dalam keadaan sedang menangis. Aku tidak tega. Akhirnya, aku menghampirinya dan menghiburnya. Dan sampailah kita di tempat ini. Itu saja," jelas Shaka.

__ADS_1


Morgan terpaku. Lagi-lagi, dia gegabah. Beruntung, saat ini Fatma sedang berada di makam Ayahnya bersama sang Bunda. Sehingga, mereka tidak melihat kejadian salah paham tersebut.


"Pokoknya, aku mau kita cerai, Mas!"


__ADS_2