Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Dijodohkan


__ADS_3

Rania dan Shaka, Aina dan Adi, kini Aslan dan Nova. Pasangan itu tengah disibukkan dengan putri kecil mereka. Kebahagiaan menyelimuti keduanya. Keluarga kecil itu tak pernah luput dari warna-warni pelangi yang indah.


Putri mereka sangatlah cantik, lincah, dan lucu. Aslan sangat menyayangi putrinya walaupun bukan darah dagingnya. Nova kerap merasa bersalah acap kali melihat Shaka dengan bangganya menggendong putra kandungnya. Sedangkan suaminya? Nova selalu merasa gagal menjadi istri yang sempurna. Memiliki suami yang begitu sabar, justru pukulan berat bagi Nova sebagai korban kepuasan laki-laki tak bertanggung jawab.


"Kak, maafkan aku, ya. Aku belum bisa memberikan seluruh hidupku untukmu." Nova menunduk tajam, menyembunyikan wajahnya yang menahan tangis.


Aslan yang sedang bermain dengan putrinya, sontak mengalihkan perhatiannya kepada Nova. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?"


"Dia bukan anak kandungmu, tapi kamu sangat menyayanginya. Di saat yang lain menggendong darah daging mereka, kamu malah menggendong anak dari hasil--"


"Nova!" sentak Aslan, berhasil membuat mulut Nova bungkam dan ketakutan. Ini kali pertama Aslan berkata dengan nada tinggi padanya.


"Maaf, Sayang," bisik Aslan, dan segera merengkuh tubuh bergetar Nova. "Tolong, jangan mengatakan hal buruk tentang putri kita. Dia adalah putri kandungku," bisik Aslan, mengusap lembut punggung Nova.


"Maafkan aku, Kak. Aku cuma merasa menjadi wanita yang gagal menjadi istri sepenuhnya. Harusnya, sekarang kamu sedang bahagia menggendong dan bermain dengan putri kandungmu," isak Nova.


"Tidak, Sayang. Dia putri kandungku, tak peduli siapa ayah biologisnya. Yang pasti, aku yang mengumandangkan adzan pertama kali di telinganya, sekaligus aku yang memberinya nama ... Slava Amora Pradikta. Detik itulah, dia telah resmi menjadi putri kandungku selamanya," ucap Aslan pelan, tapi penuh penekanan. Hal itu demi membuat Nova merasa jera dan tak lagi berpikir hal yang buruk mengenai Slava.

__ADS_1


Nova semakin meraung dalam pelukan Aslan. "Kak, maafkan aku," raungnya. Slava menangis melihat Ibunya tengah menangis, seakan turut merasakan kepedihan yang Ibunya rasakan.


"Lihat! Slava menangis," kata Aslan, dengan sigap menggendong Slava dan dikecupnya pipi gembul bocah itu. "Apa kamu merasakan kekhawatiran Bundamu, Nak?" tanya Aslan, lembut. Ajaib, bayi cantik itu langsung diam dan langsung memainkan bulu mata lentik Ayahnya.


Nova menatap Aslan penuh cinta dan rasa bangga. Wanita itu berinisiatif memeluk Aslan yang sedang menggendong Slava di tangan kanannya. Sontak, Aslan menoleh dan membalas pelukan Istrinya dengan tangan kirinya. Mereka bertiga saling berpelukan, meluapkan kasih sayang dan menyalurkan kehangatan.


**


Di sebuah kamar bernuansa hitam putih, Morgan tengah melukis lukisan abstrak. Ya, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melukis. Hasil karyanya tergeletak sembarangan hingga kamarnya penuh dan berantakan. Namun, mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa Morgan lakukan agar Rania terlupakan.


Bahkan, dari sekian lukisan tujuh puluh persen adalah wajah Rania. Isi kepalanya masih tentang wanita yang sekarang menjadi kakak iparnya itu.


"Morgan ..." panggil seorang laki-laki yang sudah berdiri di belakang Morgan.


"Pa." Morgan menoleh ke belakang, dan ia segera memeluk tubuh tua itu.


"Jangan cengeng, Nak! Kamu itu laki-laki. Di mana kegagahanmu? Di mana wibawamu?" tanya Tuan Harsa, seraya mengusap lembut kepala Morgan yang terbenam di perutnya.

__ADS_1


"Maaf, Pa," lirih Morgan.


"Papa berniat ingin menjodohkanmu dengan seorang perempuan yang punya masa lalu buruk, tapi dia telah berubah menjadi sosok perempuan yang sangat baik," ucap Tuan Harsa, sambil melepas pelukannya.


Morgan terkesiap mendengar penuturan Papanya. Ia mendongakkan wajah menatap Tuan Harsa penuh tanya. "Maksud Papa?"


"Fatma."


Detik itu pula, Morgan merasa dunia seakan turut menertawakannya, laut hendak menenggelamkannya, dan langit hendak menelannya. Perempuan itu, Morgan bahkan tak pernah sudi meliriknya. Perempuan itu pula yang menyakiti wanitanya.


"Sampai matipun, aku nggak sudi menikahinya, Pa," tolak Morgan tegas.


"Tapi dia telah menyetujui perjodohan ini, Morgan. Mau tak mau kau harus menerimanya," ucap Tuan Harsa, penuh penekanan.


"Begitu? Sampai kapan Papa mengatur hidupku?" tanya Morgan, seraya menatap Tuan Harsa dengan tajam.


"Kalau kau menolak perjodohan ini, biarkan Papa menetap di tempat yang jauh dan jangan hubungi Papa," ancam Tuan Harsa.

__ADS_1


Morgan terdiam, lalu sedetik kemudian bibirnya tersenyum miring seraya mengangguk kecil. "Karena dari dulu Papa yang mengatur hidupku, maka sampai sekarang aku juga akan menerima aturan Papa, sekalipun aku dalam keadaan hancur."


__ADS_2