Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Fatma Yang Terluka


__ADS_3

Matahari telah menampakkan diri. Kicauan burung menjadi lagu paling merdu di pagi hari. Aroma embun menyapu wajah dua insan yang masih setia bergelung dengan selimut.


Shaka menatap Rania yang masih tidur dengan lelapnya. Wajah damainya membuat Shaka enggan mengganggu tidurnya. Terlihat jelas raut kelelahan dan menggemaskan. Lelah pasti, karena semalam digempur sampai pukul empat pagi.


"Nghhh," Rania melenguh merasakan tidurnya terusik karena Shaka mencubit pipi Rania dengan gemas.


"Sudah bangun?" Shaka mengeratkan pelukannya, menjadikan tangan kanannya sebagai bantal untuk Rania.


"Capeeek .." rengek Rania manja.


"Maaf ya. Tapi enak, kan?" Shaka menciumi pipi Rania.


"Kakak ...geli," Rania menjauhkan pipinya dari wajah Shaka.


"Love you, Istriku," Shaka meraih leher Rania dan mencium pelipis Rania dalam dan khidmat.


"Aku juga. Maaf, selama ini aku enggan menunjukkan perasaanku. Aku takut dipandang gampangan sama orang-orang," Rania menelusupkan wajahnya ke leher Shaka.


"Tak perlu minta maaf. Dengan kamu membalas perasaanku saja, aku sudah sangat bahagia," Shaka menghela nafasnya berat.


"Lama aku menantikan momen ini. Momen di mana kamu hanya milikku, dan aku milikmu. Tanpa ada orang ketiga, keempat, dan seterusnya. Aku menunggumu berbulan-bulan sampai harus menyandang status sebagai kakak ipar bagimu," Shaka menatap Rania sendu.


"Maafkan aku, Kak. Sepertinya, aku terlalu banyak melukaimu," Rania mengecup pipi Shaka.


"Tidak. Justru aku yang terlalu banyak melukaimu, atas dasar obsesi belaka. Aku yang bodoh karena terlalu mencintaimu. Tak sepantasnya manusia terlalu mencintai manusia, melebihi cintanya kepada Sang Pencipta. Padahal, yang membolak-balik kan hati manusia adalah Dia,"


"Benar, dan aku salah karena merasa Allah tidak adil telah mengambil Morgan. Nyatanya, aku diberi pendamping yang lebih dari Morgan, meskipun yang menjadi suamiku sekarang ini adalah kakaknya Morgan sendiri," Rania terkekeh.


"Lebih dari Morgan, maksudnya?"


"Kamu lebih sabar menghadapi aku yang tidak bisa mengendalikan perasaanku,"


"Just it?"

__ADS_1


"No," jawab Rania mantap.


"And then?"


"Ngamuknya sama, cemburuannya sama, wajahnya hampir sama, dompetnya-"


"Lebih dari Morgan," jawab Shaka cepat. Rania tergelak.


"Aku akan terus mencari cara untuk membuatmu tertawa seperti ini, sampai kamu lupa cara untuk menangis,"


Di butik Rania.


Pagi ini, butik Rania terlihat sangat ramai. Kebanyakan dari mereka adalah para staf kantor yang iseng melihat-lihat sambil menunggu jam kerja mulai.


Kebetulan, sang CEO masih bergelung di tempat tidur bersama istri, sehingga para pegawai merasa santai dan lupa diri. Apalagi, asisten Adi langsung meninjau proyek pembangunan rumah sakit keluarga Pradikta. Lengkap sudah kesempatan mereka untuk bersenang-senang.


"Nov! Kemeja dan blazer size M!" seru Fatma memerintah Nova untuk mencarikan stok barang tersebut.


"Mbak! Yang ini warna navy, ada?"


"Mbak, bungkus yang ini aja, ya?"


"Mbak, ini harganya kok mahal banget? Diskon 30% aku ambil,"


Begitu lah keramaian butik pagi ini. Kepala Fatma serasa mau meledak menghadapi para pengunjung ini. Ia berencana setelah semua urusan selesai, akan mengajukan permohonan tambah pegawai kepada Rania.


"Sungguh melelahkan ..." desah Nova setelah para pengunjung pergi.


"Sangat melelahkan, Nov. Pokoknya, besok harus ada pegawai baru," ucap Fatma sambil mengusap keringat di pelipisnya menggunakan tisu.


"Oh My God! Baru satu jam kita buka, udah dapet omset lima belas juta, Nova!" seru Fatma membuat Nova terkejut.


"What! Bonus kita bakalan berlipat ganda bulan ini, Nov," Nova berjingkrak girang. Yah, putri seorang pengusaha ini sudah tak mau lagi mengandalkan "Papa minta uang". Dia merasa lebah puas akan hasil keringatnya sendiri. Dan itu semua berkat ulah dosen Fatma yang mengajarkan Nova berbagai hal. Mereka terus berjingkrak sesekali berpelukan karena saking senangnya.

__ADS_1


Hingga suara seorang perempuan menghentikan aksi kekanak-kanakan mereka.


"Assalamualaikum, Mbak Fatma," ucap Amora sopan.


"Wa'alaikumsalam, Nona Amora," sahut Nova tak kalah sopan.


Berbeda dengan Nova, justru Fatma terpaku melihat sosok laki-laki di belakang Amora. Laki-laki itu memalingkan wajahnya ketika tatapan mereka beradu.


"Eh, ada Fikri juga? Fat, kamu kok diem aja, sih?" tanya Nova heran.


"Loh, kalian kenal Mas Fikri juga?" tanya Amora heran.


"Loh, kok?" Nova bingung dengan situasi saat ini. Apalagi melihat wajah Fikri memerah dan terlihat salah tingkah.


"Mas Fikri ini calon suami saya, Mbak. Dia datang ke sini karena mau fitting jas pengantin,"


Duaarr!!!


Fatma mengepalkan tangannya erat. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Ia menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Oh, begitu. Baiklah, silahkan masuk, Nona Amora dan Tuan Fikri," ucap Fatma penuh penekanan.


Mendengar Amora memanggil dengan sebutan Mas saja sudah membuatnya sesak, apalagi sampai menikah.


Nova mematung, ikut merasakan sesak yang dirasakan Fatma. Ia menggenggam tangan Fatma, memberikan kekuatan yang pasti tak seberapa untuknya.


"Terimakasih, Mbak Fatma," ucap Amora ramah. Fikri masih mematung di tempat dengan mata berkaca. Ketika mereka hendak melewati Fatma, Fikri mengehentikan langkahnya tepat di depan Fatma dan berkata, "aku akan menghentikan pernikahan ini, Sayang. Aku mencintaimu,"


Fatma terkesiap mendengar ucapan Fikri.


"Kamu memang tak punya hati, Fikri. Kamu datang kepadaku dan berjanji sedemikian rupa, sementara kamu sudah terikat janji dengan perempuan lain? Teruskan pernikahan itu, jangan sampai ada hati yang terluka lagi karena ulahmu."


Masih penasaran nggak sama cerita ini?

__ADS_1


__ADS_2