
Setelah selesai dengan ritual mandi yang terasa begitu lama padahal hanya empat menit itu, Shaka bergegas memakai baju santai lalu menyusul istrinya yang sedang membuatkan teh untuknya.
"Sayang, ada apa sebenarnya? Aku tidak mau kamu menyembunyikan sesuatu seperti ini." keluh Shaka manja, sembari memeluk pinggang ramping Rania dari belakang.
"Hmmm ... ini baru bau suamiku. Kalau tadi, nggak tahu nemu di mana baunya." kekeh Rania lalu melepas tangan Shaka yang melingkar di pinggangnya.
"Bau apa, sih?" tanya Shaka heran.
"Nggak apa-apa. Aku cuma bau aneh yang nggak biasanya aja dari tubuh kamu," ucap Rania tersenyum kecut.
"Kamu hafal sekali sama semua yang ada dalam diriku." Shaka tersenyum hangat lantas mencium tengkuk Rania yang beraroma sweet choccolate.
"Ya, termasuk jika kamu berbohong kepadaku pasti akan tercium tajam oleh hidungku." tak ingin berlarut dalam kepedihan, Rania memilih pergi meninggalkan suaminya menuju kamar tamu. Ya, ia ingin tidur sendiri tanpa kehadiran dan pelukan seorang suami yang berhasil membuatnya candu.
Di ruang makan, Shaka membuang nafasnya kasar. Ia menyugar rambutnya yang masih agak basah dan beraroma mawar. Aroma itu ia dapatkan dari sampo yang biasa Rania pakai. Dia sangat menyukai aroma itu.
"Oh, ****. Jangan-jangan Rania tahu apa yang terjadi tadi sore." gumam Shaka lalu berlari menyusul Rania.
__ADS_1
Sesampainya di kamar tamu, Shaka menatap kaget istrinya yang sedang duduk meringkuk di ranjang berukuran 200x180cm tersebut dengan tubuh terguncang, yang artinya wanita itu tengah menangis.
"Sayang ..." Shaka mendekati Rania, lalu memeluk tubuh yang tengah rapuh itu dengan sejuta penyesalan.
"Maaf, aku salah telah menemui Aina. Tapi mengertilah, semua yang aku lakukan adalah demi mempertahankan rumah tangga kita,"
"Dan termasuk memeluk dan mencium perempuan itu, iya?" sergah Rania masih dalam pelukan Shaka.
"I-itu bisa aku jelaskan, Sayang. Aina yang tiba-tiba memeluk dan menciumku, dan itu di luar kendaliku," ucap Shaka berusaha menjelaskan.
"Maafkan aku yang tak pandai menjaga diri ini, Sayang. Ketahuilah, aku sama sekali tidak seperti dugaanmu. Aku tak menikmati peluk dan cium itu. Aku meminta Aina menemuiku karena aku ingin dia menolak permintaan Papa, Sayang. Ada kok buktinya," ucap Shaka mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi tetap saja aku tidak terima dengan perbuatan mesum kalian!" seru Rania membuat Shaka terhenyak.
"Bukan tentang alasannya, tapi tentang kamu yang diam-diam mengajak Aina bertemu tanpa sepengetahuan aku. Kalian hanya berdua tanpa ada pihak ketiga. Dan nyatanya benar, hal itu menimbulkan perbuatan hina yang berdosa besar dan berdampak besar dalam rumah tangga kita, Mas," ucap Rania dengan nafas memburu karena emosi.
"Dan salahnya lagi, kamu mengajak Aina bertemu di tempat romantis yang aku saja belum pernah kamu ajak ke sana. Lebih salahnya lagi, kamu berbohong kepadaku. Kamu tidak langsung mengatakan yang sebenarnya sewaktu aku mencecarmu dengan pertanyaan dan sindiran. Kamu berlagak bodoh seperti tidak terjadi apa-apa di antara kita." Rania menjeda ucapannya, menata hati dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar emosinya terkontrol.
__ADS_1
"Maaf, maaf, dan maaf, Sayang. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan aku? Katakan, apa yang harus aku lakukan, Sayang." isak Shaka lalu berlutut di kaki Rania. Dan hal itu tentu membuat Rania terkejut dengan segala pikiran yang berkecamuk.
"Jangan rendahkan dirimu. Kamu seorang pemimpin yang harus menunjukkan ketegasan dan kewibawaan. Bangunlah, dan keluarlah. Aku ingin sendiri," ucap Rania dingin dengan tatapan kosong.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan kamu sendiri yang jelas sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja," desah Shaka frustasi.
"Kalau begitu, aku yang akan keluar," ucap Rania tegas.
"Maka aku akan selalu mengikutimu, ke manapun kamu pergi," ucap Shaka tak mau kalah.
Rania termangu sejenak, lalu menghela nafasnya kasar.
"Terserah, aku ngantuk." Rania pun memutuskan untuk tidur membelakangi suaminya yang masih berlutut di samping ranjang.
"Tidurlah, Sayang. Percayalah, aku mencintaimu." ucap Shaka tulus lalu mencium pipi Rania lembut. Setelah itu, ia pun ikut tidur di samping Rania dengan posisi berhadapan.
"Bidadariku, jangan lama-lama marahnya, ya. Aku tidak akan tahan. Maafkan aku telah mengecewakanmu dan melukaimu. Percayalah, aku mencintaimu dan hanya kamu." pungkas Shaka lalu memeluk Rania, menyusul ke alam mimpinya berharap mereka akan berbaikan di sana.
__ADS_1