Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Usaha Aslan


__ADS_3

Aslan meminta bantuan Fikri kekasih Fatma, dalam rencana pencarian Rania. Mereka bersahabat sejak SMA. Dan berpisah ketika melanjutkan pendidikan tinggi.


Fatma sendiri belum mengetahui kasus hilangnya Rania. Sengaja tak diberi tahu, karena Aslan tak ingin semua penghuni butik tidak fokus dengan pekerjaan mereka. Apalagi Fatma yang memang bestie nya Rania. Pasti bakalan rempong sendiri.


Tempat pertama yang mereka datangi adalah Mansion Utama Pradikta. Kali ini, Fikri yang mengorek informasi melalui satpam penjaga Mansion Utama itu.


"Mohon maaf, Pak. Perkenalkan saya sahabat karib Shaka," kata Fikri ramah. Sengaja dia tidak mengatakan nama untuk berjaga.


"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Satpam.


"Saya mau tanya, apa Shaka ada di dalam?"


"Oh, Tuan Muda Shaka tidak ada di Mansion. Biasanya dia akan pulang pukul sepuluh malam tiap hari Senin, Jum'at, kadang Minggu," terang Pak Satpam.


"Pas banget, sekarang kan Senin. Tapi masa iya sedari pagi sampai sore begini dia belum pulang, Pak?"


"Tuan Muda Shaka biasanya ke apartemen dulu, malam baru datang. Mas kok bisa nggak tahu?" tanya Pak Satpam yang sudah mulai curiga.


"I-itu, saya kan baru pulang dari luar negri. Jadi, saya tidak tahu kegiatan Shaka tiap harinya, Pak,"

__ADS_1


"Oh begitu," Pak Satpam itu mengangguk paham.


"Ya sudah, kalau begitu saya ke apartemen Shaka saja, Pak. Barangkali lagi di sana,"


"Silahkan, Mas. Hati-hati," ucap Pak Satpam, membukakan pintu gerbang untuk memudahkan jalan Fikri.


Sesampainya di mobil Aslan, Fikri langsung menampar kepalanya berkali-kali, sampai membuat Aslan keheranan.


"Kamu kenapa, Fik?" Aslan mengerutkan alisnya.


"Aku merasa orang terbodoh di dunia, As. Masa iya, aku bilang mau ke apartemen Shaka tapi lupa nanya alamatnya," ujar Fikri, membuat Aslan terbelalak.


"Kok bisa? Shaka nggak ada di dalam?" tanya Aslan penasaran.


"Nggak papa, kita bisa datang ke perusahaan Shaka, kan? Kita pantau dia dan ketika dia keluar dari perusahaan itu, ikuti dia ke manapun dia pergi," Aslan menatap tajam Mansion mewah di depannya.


Di apartemen Shaka.


Lelah menangis membuat Rania memejamkan mata hingga menjemput mimpi indahnya. Shaka yang baru saja selesai dengan pekerjaan yang dikirim Adi, iseng membuka rekaman CCTV di laptopnya.

__ADS_1


Bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman, ketika melihat perempuan tercintanya tengah tertidur lelap. Ia bergegas menuju kamarnya, ingin segera menemui perempuan itu.


Sesampainya di kamar, terlihat Rania sedang tidur lelap tanpa selimut. Shaka menarik selimut dan menyelimuti tubuh rapuh Rania sebatas dada. Di kecup-nya mata yang sembab itu dengan lembut.


"Maafkan aku, Nia. Aku menyadari ambisiku untuk memilikimu. Maafkan aku yang memanfaatkan kematian Morgan untuk menjeratmu ke dalam kubangan dendamku," Shaka menyentuh lembut pipi tirus Rania. Membuat si pemilik terusik.


Rania mengerjapkan matanya ketika merasakan sentuhan lembut di pipinya. Dan langsung menyunggingkan senyum termanisnya ketika melihat Shaka yang sedang salah tingkah.


"Kamu kenapa, Kak?" tanya Rania dengan suara serak khas bangun tidur.


"Tidak, lanjutkan tidurmu. Aku mau mandi," jawab Shaka memalingkan wajahnya.


"Mandi itu di kamar mandi, bukan di kamar tidur," skak Rania.


"Memang kenapa? Ini kamarku, ya terserah aku mau melakukan apapun itu," ucap Shaka ketus. Padahal mati-matian Shaka sedang membela harga dirinya.


"Iya, ini memang kamarmu. Tapi kamu yang membawaku ke sini loh, Kak,"


"Diam!" sentak Shaka, setelah itu langsung meninggalkan Rania.

__ADS_1


Rania terdiam dan tersenyum setelahnya.


"Aku yakin kamu baik, Kak. Kamu hanya sedang melampiaskan emosimu karena belum bisa ikhlas melepaskan Morgan. Aku ikhlas jika dengan melukaiku dan mengurungku, itu dapat membuatmu segera mengikhlaskan kepergian Morgan," batin Rania dalam hati. Lagi, air mata itu dengan kurang ajarnya meluncur bebas membasahi pipi mulusnya.


__ADS_2