Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Aku Talak Kamu!


__ADS_3

Satu minggu sudah Nyonya Marsya pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Satu minggu pula Rania, Aina, dan Shaka menginap di rumah utama keluarga Pradikta.


Kini, tuan Harsa telah bangkit dan tak semurung sebelumnya. Selain dukungan dari anak dan menantu, kedua orang tua Rania rupanya setiap hari menemani tuan Harsa dan sedikit memberi wejangan.


Berbeda dengan kedua orang tua Rania. Aina justru melarang kedua orang tuanya datang melayat. Karena dia tak ingin kedua orang tuanya diacuhkan oleh Shaka.


Dan di sinilah Rania, Aina, dan Shaka berada. Di dalam kamar tamu, mereka tengah merundingkan perihal talak yang akan dijatuhkan kepada Aina.


"Baiklah. Aku setuju jika memang ini yang terbaik untuk kita. Tapi ada syaratnya." Aina menyeringai licik.


"Sebutkan." Shaka melipat kedua tangannya di dada. Ia sudah menduga jika Aina tak kan semudah itu ia jatuhkan talak.

__ADS_1


"Syaratnya ... aku ingin malam ini kamu menunaikan kewajiban sebagai seorang suami terhadap istri,"


Deg.


Katakan, wanita mana yang tak merasa sakit hati jika suaminya harus memadu kasih dengan perempuan lain?


Shaka menyentak nafasnya kasar. Sebenarnya, Shaka berfikir untuk mentalak Aina tanpa menunggu persetujuan Aina. Namun, Shaka menghargai status mereka yang telah bersahabat selama puluhan tahun.


"Aku menolak," ucap Shaka tegas.


"Bisa. Ketika bunga itu tak disiram sama sekali, maka layulah bunga yang sedang mekar itu," sahut Rania dengan nafas memburu menahan amarah.

__ADS_1


"Begitu pula aku, Rania. Aku juga akan layu jika Mas Shaka tak sudi menyiramku," kata Aina, dengan nada yang dibuat semanja mungkin.


"Menurutku, menyiram bunga tak hanya boleh disiram oleh si pemilik. Orang lain pun boleh menyiram bunga. Untukmu dokter Aina yang terhormat, jika kamu ingin bungamu mekar dengan indah dan wangi, maka bukalah hatimu agar seseorang bisa menyirammu menggunakan air jernih. Kamu harusnya sadar, Mas Shaka hanya bisa menyirammu menggunakan air comberan. Kotor dan berbau tak?"


Shaka tersenyum puas dengan serangan yang diberikan Rania kepada Aina yang sangat pedas itu. Shaka bangga Rania tak lagi mendorongnya untuk melakukan kewajiban sebagai seorang suami terhadap Aina.


"Kamu memang tak punya hati, Rania. Aku juga istri sah Mas Shaka. Kita punya hak dan kewajiban yang sama!" seru Aina, tatapannya menyalang bagaikan elang yang tengah mengintai dan siap menerkam mangsa.


"Aku luruskan, dokter Aina. Shaka menikahimu karena desakan dari kamu dan almh.Mama Marsya. Tak ada rasa di hatinya untukmu. Kita sesama perempuan, jika kamu menjadi aku, relakah kamu jika Shaka beristri lagi, hah?! Apalagi, dengan keadaanku yang tengah hamil muda seperti sekarang ini! Bukankah kamu seorang dokter?! Tentunya, kamu lebih tahu mengenai kondisi psikis seorang ibu hamil, bukan?!" sentak Rania, hingga nafasnya tersengal. Bahkan, wajahnya memerah karena amarah yang sudah tak dapat ia bendung.


Shaka segera memeluk Rania dan memberinya kecupan di kening basah Rania karena keringat pasca ledakan emosi.

__ADS_1


"Aina, maaf jika aku harus melakukan hal ini kepadamu. Tapi ... kepadamu, Aina Isma binti Sarman Budiman, mulai hari ini aku menjatuhkan talak kepadamu. Dan mulai detik ini, menit ini, dan di jam ini, kita telah sah bercerai di hadapan Allah S.W.T,"


"Tidak, Mas!"


__ADS_2