
Pagi ini seharusnya Shaka sudah sampai di kota J*****,namun karena permintaan Morgan semalam yang harus menunggu Rania selesai makan akhirnya jadwal ke luar kota itu diundur . Shaka terlambat satu jam.
Hingga akhirnya pagi ini Shaka mengalami kecelakaan di tengah jalan karena terlalu asyik melihat Rania dari kejauhan.
Namun,Shaka harus berterimakasih kepada bapak pengendara mobil tadi karena kecelakaan itulah akhirnya Shaka bisa mengenal lebih dekat dengan Rania.
Di warung inilah Rania dan Shaka berbincang layaknya teman.Bukan atasan dan bawahan.
"Maaf Rania,karena insiden ini aku merepotkanmu.Kamu ditinggal kakakmu dan kamu juga meninggalkan jam kuliahmu"ucap Shaka yang sedang diobati oleh Rania.Sedangkan Aslan sengaja meninggalkan Rania karena dia memiliki janji dengan kekasihnya.
"Tidak Pak,justru karena saya tahu bapak itu atasan saya maka sudah seharusnya saya membantu anda ketika anda dalam masalah" Rania masih fokus mengobati luka memar di kening Shaka.
"Kalau boleh tahu,dimana alamat rumahmu?" kini Shaka mulai mengorek informasi.
"Saya ngekos di jalan M**** blok C belakang masjid Pak"jawab Rania santai.
"Orang tuamu?" Shaka mengangkat salah satu alisnya
"Orang tua saya masih ada,mereka tinggal di Perumahan B*** A**" sejenak Shaka terdiam mendengar jawaban Rania.
bukankah itu perumahan elit?dan kalau tidak salah ,salah satu managerku tinggal disana juga ucap Shaka dalam hati.
"Bapak melamun?" ucap Rania membuyarkan lamunan Shaka.
__ADS_1
"Ah iya,kalau memang kamu tinggal di perumahan itu seharusnya kamu mengenali seorang laki-laki bernama Yudi Brahma,right?" tanya Shaka lembut.
"Ah i..iya tentu.Beliau Papa saya p..pak!!" mau tak mau Rania harus berkata jujur agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari. Meski sejauh ini Morgan tak pernah menanyakan tentang hal ini.
Shaka mengerutkan alisnya.Ada apa dengan gadis di depannya ini? Bahkan jika dia tak bekerja sekalipun,orang tuanya masih sanggup untuk membiayai hidupnya.Lantas mengapa dia malah bekerja sebagai OG di perusahaan HPD Corp?
"Pasti anda sedang berfikir mengapa saya bekerja sedangkan Papa saya saja bekerja sebagai manager di perusahaan anda bukan?" Rania tersenyum.
"Tepat sekali!" jawab Shaka tegas.
"Saya ingin mandiri Pak,saya pun memiliki impian yang harus saya wujudkan namun tanpa campur tangan kedua orang tua saya.Itu akan lebih membanggakan bukan?" Rania menerawang jauh ke arah langit.
"Saya pernah dalam posisi paling rendah Pak, oleh karena itu lebih baik saya membiasakan diri untuk hidup merendah.Karena menurut saya itu dapat membuat saya selalu bersyukur dan lebih nyaman.Tak ada tuntutan dari berbagai pihak.Saya hidup sesuai dengan apa yang saya inginkan.Memulai semuanya dari nol.Ketika saya sukses nanti,saya tak akan merasa tinggi,ketika saya jatuh lagi maka saya akan bangkit lagi!" Rania masih setia menerawang jauh ke langit.
Gadis yang baik..semoga dia tak berdusta. Batin Shaka.
"Tak apa,santai saja.By the way,sebagai rasa terimakasih karena kamu telah menolongku,maka hari ini ijinkan aku untuk mentraktir kamu makan siang nanti setelah jam istirahat tiba,apa kamu bersedia?" tanya Shaka sungguh-sungguh.
"Maaf Pak,saya takut jika Mas Morgan..."
"Ah sepertinya aku memahami perasaanmu,kalau begitu aku akan mengabari Morgan kalau aku akan meminjam calon istrinya untuk menemaniku makan siang,bagaimana?Masih ragu?"
"Baiklah kalau anda memaksa"
__ADS_1
Di seberang jalan tanpa Rania dan Shaka sadari,Max masih setia menguntit mereka bermodalkan ponsel Max mengambil beberapa potret untuk diperlihatkan kepada Nova.
Setelah pertemuan itu pula Rania memutuskan untuk pulang ke rumah besarnya.
Sedangkan di perjalanan Shaka masih terngiang oleh percakapan antara dirinya dan Rania.
"Rania,ah sepertinya aku harus memastikan apa benar dia putri seorang Yudi Brahma"
Akhirnya Shaka menancap gas menuju perumahan B*** A**.Karena sebelum dia dan Rania berpisah,Rania memberi tahu bahwa dirinya akan pulang menuju rumah orang tuanya.
Setelah sampai di depan rumah besar Yudi,Shaka nampak ragu untuk masuk ke dalam rumah itu.Shaka hanya berdiam tak pasti di dalam mobil mewahnya sambil menunggu Rania terlihat di rumah itu.
Dan benar saja,Shaka melihat Rania yang tengah berjemur di taman depan rumahnya sambil memangku Rara.
Shaka begitu terkejut melihat kelinci yang sedang dibelai lembut oleh Rania.Apalagi kalung pemberiannya masih melingkar indah di leher kelinci kesayangannya itu.
"Steve?? bagaimana kamu bisa bersama Rania?" Shaka hanya terdiam tanpa memastikan karena tiba-tiba ponselnya berdering
"Ada apa Adi?" tanya Shaka kepada Adi yang tiba-tiba menelponnya.
"Tuan Harsa mencari ada Tuan Muda,sepertinya ada sesuatu yang terjadi" ucal Adi di seberang sana.
"Baik,suruh Papa bersabar.Aku menuju perusahaan sekarang" Tanpa menunggu jawaban Adi,Shaka memutus telepon sepihak.
__ADS_1
Dan akhirnya Shaka bergegas menuju perusahaannya dengan perasaan bimbang Di sisi lain dia ingin memastikan kelinci yang berada dalam pangkuan Rania,di sisi lain pula dia ingin memastikan apa yang terjadi oleh Papanya.Sesuatu pasti terjadi jika Tuan Harsa sudah mencari dirinya.