
"Kamu ..." Shaka menatap tak percaya kepada istri di depannya yang sedang memandangnya dengan mata berkaca.
"Iya, aku hamil, Mas," ucap Rania dengan sedikit isakan.
"Allahu Akbar!" Shaka langsung meluruhkan tubuhnya ke lantai, lalu bersujud syukur di sana diiringi tangisan haru dari keduanya.
"Alhamdulillah, terimakasih, ya Allah ..." Shaka memeluk Rania yang berada di sampingnya erat. Ia mengecup bibir itu berkali-kali. Air mata keduanya saling bersentuhan dan lebur menjadi satu dalam balutan rasa syukur yang tiada tara.
"Terimakasih, Sayang. Kamu wanita hebat! Aku semakin mencintaimu. Kita periksa ke dokter sekarang juga, ya? Aku akan menyuruh Adi untuk mengatur ulang jadwalku." ujar Shaka, lalu mengusap air mata yang membasahi pipi Rania menggunakan ibu jarinya.
"Iya, tapi pulangnya aku mau meninjau perkembangan pembangunan butik di cabang baru, Mas. Boleh?" tanya Rania ragu.
"Boleh, tapi harus sama aku,"
"Mulai posesifnya, ih," protes Rania.
"Ini merupakan bentuk upaya suami melindungi istrinya yang sedang hamil. Hargai aku, dong," decak Shaka sebal.
"Aku ngikut ajalah. Cepetan sana kamu bersiap. Udah jam sembilan, loh." Shaka pun mengangguk lalu bergegas bersiap dengan mengenakan pakaian non formal.
**
__ADS_1
Saat ini, mereka sudah sampai di rumah sakit Bina Medika dan langsung menuju ruang pemeriksaan kandungan. Dengan gelar pemilik rumah sakit, tentu tidak membuat Shaka sulit untuk memeriksakan kandungan istrinya. Tidak harus antri apalagi susah-susah melakukan pendaftaran.
Shaka langsung menjadi pasien nomor satu meski pendatang paling akhir. Tapi sialnya, Shaka lupa membuat janji dengan dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakit tersebut. Apalagi, saat ini dokter terbaik--dokter Farida sedang melakukan operasi besar yang tentu tak dapat beliau tinggalkan.
Sehingga, terpaksa Rania mengambil dokter kandungan umum. Dan dia belum tahu siapa dokter tersebut. Shaka pun hanya bisa berdo'a semoga bukan Aina yang menangani Rania.
"Silahkan masuk, Tuan dan Nona," ucap seorang perawat sambil menundukkan kepala hormat, yang dibalas senyuman hangat dari seorang istri pemilik rumah sakit tersebut.
Sesampainya di dalam, Rania dan Shaka langsung disambut oleh seorang dokter yang membuat Rania tak bergeming.
"Silahkan duduk, Shaka dan Nona Rania," ucap Aina tersenyum manis.
Rania mematung sejenak. Mencoba mengendalikan emosi yang singgah di hatinya.
"Tidak apa." jawab Rania singkat, lalu ia duduk di sebelah Shaka, berseberangan dengan Aina.
"Maaf, kapan Nona terakhir haid?" tanya Aina berusaha profesional, meski hatinya sedang bergemuruh hebat.
"Kira-kira, dua minggu yang lalu," ucap Rania dingin.
"Baik, ada keluhan?" tanya Aina lagi.
__ADS_1
"Ada. Saya sering merasa cemburu ketika melihat suami saya dipeluk dan dicium perempuan lain. Apa itu normal?" serang Rania tiba-tiba, membuat Aina terhenyak sampai memalingkan wajahnya menahan malu sekaligus rasa tak terima.
"Sayang, kamu kenapa begitu ngomongnya? Kendalikan emosimu, kasihan bayi kita di sini, hm?" bisik Shaka lembut, lalu mengelus perut Rania dengan gerakan memutar.
Aina mematung. Bingung, apa yang harus ia katakan. Hingga akhirnya, seorang perawat datang dan menuntun Rania menuju tempat pembaringan. Aina menghela nafasnya lega, telah terbebas dari suasana canggung dan kaku, begitu pula dengan Shaka. Ia hanya bisa menatap Aina dengan tatapan tajam.
Aina melangkahkan kakinya menuju tempat USG, di mana Rania sudah bersiap dan berbaring di sana.
"Kita lihat bersama debay nya ya, Nona," ucap Aina canggung.
"Oke, usia janin enam minggu, sudah terlihat ya calon debay nya, belum kelihatan bentuknya ya, kondisi sehat, detak jantung oke, air ketuban oke, plasenta oke, bagus. Ibunya juga sehat," Aina melakukan tugasnya sebagaimana mestinya, profesional meski jantungnya berdetak hebat.
Setelah selesai dengan pemeriksaan USG, perawat membersihkan sisa gel diperut Rania lalu menuntun Rania turun dari ranjang pembaringan. Baru saja menapakkan kakinya di lantai, Shaka langsung mendekap tubuh ramping itu, lalu mengecup kening Rania.
Pria itu tak henti-hentinya mengucap rasa syukur bahkan sampai mengeluarkan air matanya, sejak melihat dengan langsung buah cintanya dengan Rania yang terlihat masih sebesar biji jagung, kata orang dulu.
Dan pemandangan itu tak luput dari penglihatan seorang perempuan yang tak lain adalah Aina. Ia meremas jarinya kuat di bawah sana, melihat pria yang begitu ia gilai mendekap mesra perempuan lain.
"Terimakasih, Istriku." bisik Shaka, lalu menuntun Rania berhadapan dengan Aina.
"Selamat atas kehamilannya, Nona Rania. Maaf, saya telah membuat kebahagiaan Nona terganggu akibat ulah saya yang kurang ajar," ucap Aina menunduk tajam.
__ADS_1
"Saya sudah memaafkan Anda, Nona. Asal jangan diulangi lagi," Rania tersenyum, membuat Shaka yang berada di sampingnya pun lega. Istrinya begitu berhati bersih, bangga karena dapat memiliki istri sebaik dan selembut Rania.
"Terimakasih, Nona. Saya janji, tidak akan mengulanginya lagi. Sungguh, Shaka beruntung memiliki istri sebaik Anda. Saya lega," Aina sadar, orang baik akan mendapatkan jodoh yang baik. Lalu, jika dia menggoda suami orang, akan seperti apa jodohnya kelak?