Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Baby D


__ADS_3

Satu bulan kemudian di rumah sakit Harapan Bunda.


"Ayo, Sayang! Semangat! Kamu bisa!"


"Aaaakkhhh! Sakit, Mas!"


"Ayo, Bu! Sedikit lagi!"


"Uuuukkkhhh!"


"Dorong lagi, Ibu! Iya, pintar. Iyak, terus, Bu. Oke, hilal sudah nampak, terus, Bu!"


"Aaaaaaakkhhh!"


"Oek! Oek!"

__ADS_1


"Alhamdulillah, ada baksonya!"


Begitulah jeritan dan teriakan yang terdengar dari ruang bersalin. Ya, tepat di tanggal 10 bulan 10 tahun 2010, bayi laki-laki nan tampan telah lahir dari rahim Rania. Dengan berat tiga kilogram dan panjang empat puluh delapan centimeter, bayi itu tampak menggemaskan dengan bibir mungil, merah merekah, mengeluarkan suara tangis yang begitu memekakkan telinga. Tampan seperti ayahnya, namun wajah dominan mirip ibunda.


"Raishaka Dirga Pradikta," bisik Shaka tepat di telinga kiri bayi mungil itu, setelah mengumandangkan adzan dan iqamah di kedua telinga. "Jadilah anak yang sholih dan berbakti kepada orang tuamu. Serta, semoga kelak kau menjadi anak yang selalu berjalan dalam kebaikan." Air mata tak dapat lagi dibendung. Cairan hangat itu mengalir deras, mengiringi kelahiran bayi tampan nan menggemaskan itu.


"Terimakasih, Sayang. Kamu telah melahirkan bayi hasil dari kerja kerasku tiap malam," bisik Shaka, yang sontak membuat suster di depannya merona malu.


"Mas, kamu benar-benar tidak tahu malu. Aku sedang merasa sangat lelah, malah kamu godain," gerutu Rania. Tubuhnya tengah dibersihkan oleh suster, setelah melakukan IMD satu jam yang lalu. "Maafkan suami saya, Suster," ucap Rania merasa tak enak hati.


"Mas, kamu jangan asal ngomong, ih. Aku malu," ucap Rania kesal. Namun, bukannya menyesal Shaka justru semakin tertawa melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan.


"Aku tak tahan untuk tak menggodamu, Sayang. Kamu sangat seksi. Apalagi--" kedua bola mata Shaka tertuju pada dua gundukan kenyal yang semakin tampak berisi, yang kini tengah dipompa oleh si pemilik. Rania tahu arah pandangan Shaka, secepat kilat Rania segera mengakhiri kegiatannya, dan menutup benda berharganya rapat-rapat.


"Kenapa ditutup, Sayang? Indah sekali, loh," decak Shaka pura-pura kesal.

__ADS_1


"Aku baru lahiran kamu sudah semesum ini, ya, Mas?" Kedua mata Rania melotot, sebagai bentuk kekesalannya. Ingin mencubit pun Rania masih lemah.


"Sayang, apa kau tak merasa kasihan pada suamimu ini? Aku harus puasa satu bulan penuh, sedangkan bagiku satu hari serasa sewindu." Shaka mengelus perut Rania yang masih sedikit besar.


"Aku juga puasa, Mas. Bukan cuma kamu saja. Kamu pikir, aku tak punya hasrat sepertimu?" tanya Rania.


"Iya juga, ya. Eh, tapi tenang saja. Kan ada jalan pintas." Kedua mata Shaka mendadak berbinar setelah terlintas ide cemerlang di kepalanya.


"Jangan ngadi-ngadi. Aku tahu maksud kamu," sungut Rania makin kesal.


"Ya ampun, Sayang. Jalan utama ditutup, masih ada jalan tol. Tetap sah saja, kan?" Kedua alis shaka naik turun. Sontak Rania segera memalingkan wajahnya, malu sendiri membayangkan apa yang ada dalam otak suaminya. "Jangan malu. Satu minggu dua kali, kamu rutin memanjakan suami," imbuhnya lagi.


"Mas Shaka!" Sentak Rania. Ia tak mampu lagi menahan tawanya, dan akhirnya keduanya pun tertawa bersama. Tercetak jelas raut kebahagiaan keduanya. Shaka tengah menggendong Baby Dirga, dan Rania tengah memompa ASI-nya.


"Terimakasih telah melahirkan bayi setampan ini. Terimakasih telah sudi melahirkan bayi hasil dari benihku. Terimakasih telah menjadikan aku seorang ayah. Dan terimakasih, karena kamu mau menjadi lubang jalan kenikmatanku."

__ADS_1


"Mas!"


__ADS_2