
Satu minggu kemudian, Morgan telah diperbolehkan pulang oleh dokter. Sedangkan Luna, gadis itu telah kembali ke rumah kedua orang tuanya. Luna kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Kuliah, menulis, dan mengajari para anak jalanan untuk membuat hiasan dari rotan dan flanel yang disponsori Fatma.
Pagi ini, Morgan berencana untuk menemui Rania. Rindu yang membuncah dan rasa bersalah yang bertumpah-ruah. Meski belum begitu pulih namun, tanpa Rania di sisinya, rasanya hampa.
Kini Morgan telah sampai di rumah mertuanya. Meski gugup, Morgan tetap bertekad untuk menemui istrinya. Apalagi setelah mendengar kabar tiga hari yang lalu bahwa pasca dia dirawat di ruang inap, Rania pingsan dan dirawat di ruangan yang berbeda dengannya.
Tok ... Tok ...
"Buka pintunya, Rania! Aku perlu bicara denganmu," Morgan berteriak karena pintu tak kunjung dibuka namun, Morgan akan tetap menunggu hingga Rania keluar.
Akhirnya selang beberapa waktu kemudian pintu terbuka. Gadis cantik yang sangat dia rindukan kini berada di depannya. Morgan menatap Rania tanpa berkedip.
"Maaf, ada apa kamu ke sini?" tanya Rania ketus.
"Rani, aku sangat merindukanmu," jawab Morgan lembut.
"Oooh, rindu rupanya," ucap Rania dingin.
"Maafkan aku, Rania. Aku salah telah menuduhmu tanpa alasan, aku salah telah melakukan kekerasan. Tolong, maafkan aku," Morgan mengiba.
"Aku memaafkanmu, Mas," ucap Rania masih dengan ekspresi datarnya.
"Sungguh? Kalau begitu, maukah kamu ikut denganku dan memulai semuanya dari nol?" tanya Morgan antusias.
Rania tersenyum miring.
"Ketika seseorang yang kamu cintai tidak mempercayaimu dan bahkan menyakiti fisikmu, apa kamu akan tetap bersedia berada di sampingnya? Bahkan, dia mengatakan akan menceraikanmu! Apa kamu akan tetap bertahan, Morgan Veer Pradikta?" sentak Rania dengan penuh penekanan. Nafasnya tersengal karena emosi namun, setidaknya dia lega karena telah meluapkan emosinya.
"Rani? Inikah kamu yang sesungguhnya?" Morgan menghela nafasnya kasar.
"Ya, Morgan! Ini aku setelah kamu lukai, ini aku yang katanya perempuan murahan yang menjajakan tubuh kepada para pria hidung belang, puas?" Rania mengepalkan tangannya.
Morgan menatap Rania sendu.
"Maaf, maafkan aku, Sayang. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Kamu Istriku, kembalilah kepadaku Ran,"
"Kembali untuk tersakiti lagi?" Rania menautkan alisnya.
"Tidak, aku akan menebus semua kesalahanku, Rani,"
Rania menghembuskan nafasnya kasar.
"Huh ... Baiklah, tapi, ini bukan karena aku melupakan semua perlakuanmu tapi, karena statusku yang masih menjadi Istrimu,"
"Itu sudah sangat cukup bagiku, Sayang," Morgan tersenyum melangkah maju hendak memeluk Rania namun, dengan sigap Rania menjauhkan diri.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu merasa risih kepadaku?" Morgan cemberut.
"Tidak! Tapi aku ingin kita jaga jarak dulu sebelum semua benar-benar membaik,"
"Loh, bukankah pelukan akan membantu memperbaiki hubungan kita?"
"Maaf aku belum siap.Untuk malam ini, menginaplah di sini, aku harus minta izin Papa, Mama, dan Kakak. Aku harap kamu mengerti," ucap Rania tegas.
"Apapun untukmu, Ran," Morgan mengangguk dan tersenyum lembut.
"Masuklah, Mas," Rania mempersilahkan Morgan masuk dan langsung membawa Morgan ke kamarnya.
"Ini kamarku, istirahatlah. Aku akan meminta Mbok Mun membawakan jeruk hangat untukmu,"
Setelah menemui Mbok Mun dan memintanya membawakan minuman, Rania kembali ke kamarnya.
"Aku harap, setelah kejadian ini, kamu bisa lebih pandai menggunakan bahasa, Mas. Tidak lagi memakiku seenak jidatmu," ucap Rania ketus dan segera duduk bersandar di kepala ranjang.
Morgan yang sedang duduk di bibir ranjang itu langsung membaringkan kepalanya di paha Rania.
"Iya, aku akan belajar untuk mengendalikan emosiku, jangan marah lagi ya?" Morgan mengelus pipi Rania lembut.
"Wajar kan kalau aku marah?" tanya Rania sengit.
"Iya, wajar banget kok. Aku yang keterlaluan. Tapi sungguh aku tidak sadar melakukan itu, apalagi mengataimu dengan sebutan kotor itu,"
"Terus kamu mau ceraikan aku?" tanya Rania manja.
"Ah, itu aku masih terbawa api cemburu, Rania. Apalagi Kak Shaka jelas masih mencintaimu,"
"Cemburu boleh, bodoh jangan. Kaya kamu tuh, nggak mau dengerin penjelasanku dulu main ngamuk aja," Rania mencebik.
Morgan tergelak.
"Maaf, Sayang. Maafkan aku ya. Sungguh satu minggu tanpamu bagaikan satu tahun nggak makan nasi loh,"
"Jangan samakan aku dengan nasi," ucap Rania cemberut.
Morgan bangkit dan duduk berhadapan dengan Rania.
"Iya, kamu sama dengan nasi yang harus siap aku makan kapan saja,"
Rania membulatkan matanya.
"Kok kamu malah main mesum sih!" Seru Rania.
__ADS_1
"Loh di mana mesumnya, Sayang?" Morgan mencubit hidung Rania gemas.
"Itu tadi kamu bilang mau makan aku," ucap Rania cemberut.
"Iya, hampir dua minggu kita menikah, aku bahkan belum sempat buat unboxing. Aku kelaparan, Rania," bisik Morgan tepat di telinga Rania dan sengaja menggigitnya.
"Awww ... Sakit, Mas! Kok kamu gigit sih?" seru Rania kepada Morgan, bahkan pipinya merah merona menahan malu.
"Kenapa? Mau aku gigit yang lain?" Morgan mengerlingkan sebelah matanya.
Tiba-tiba-
Tok! Tok!
"Non, ini minuman pesanan Non Rania sudah jadi!"
Terdengar suara Mbok Mun dari luar, Morgan berdecak sebal sedangkan Rania langsung bergegas membukakan pintu dan mengambil minuman tersebut.
"Minum dulu, Mas," Rania menyodorkan gelas tersebut untuk Morgan namun, Morgan menggeleng.
"Taruh dulu. Aku mau kamu di sini dulu," Morgan tersenyum.
Rania menghela nafasnya.
"Kenapa lagi sih?"
Rania duduk di samping Morgan.
"Aku ingin ini dulu," Morgan menyentuh bibir Rania menggunakan jarinya. Pipi Rania merona namun, dengan cepat Rania memalingkan wajahnya.
"Menolak suami tu dosa loh, Yang. Nanti dikutuk Allah menjadi istri cantik, mau?"
"Kalau kutukannya seperti itu, aku mau nolak kamu tiga kali sehari, gimana?" Rania mengembangkan pipinya membentuk sebuah senyuman yang sangat manis di mata Morgan.
Tanpa aba-aba, Morgan langsung menempelkan bibirnya di bibir ranum Rania. Rania sempat terkejut namun, lama kelamaan dia mulai bisa mengimbangi permainan tersebut. Semakin lama semakin panas dan semakin menuntut, hingga akhirnya Morgan mengakhiri adegan panas itu sebelum gairahnya membuncah.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Jangan marah lagi ya. Maafkan aku," bisik Morgan yang sedang menempelkan keningnya di kening Rania.
Rania mengangguk memaafkan Morgan.
"Terimakasih," Morgan mengusap bibir Rania yang basah karena ulahnya.
"Bersiaplah untuk nanti malam, aku akan membawamu ke puncak nirwana," bisik Morgan tepat di leher Rania dan sedikit meninggalkan jejak di sana.
Aku belum mahir bikin adegan romantisnya, maap ya 😊
__ADS_1