
Tangisan Rania mulai mereda, namun sesaknya masih terasa. Nyeri di dadanya tak kunjung reda, mengiringi kepergian sosok sahabat tercintanya. Sahabat yang rela mencelakainya dan calon bayinya, hanya demi balas dendam semata. Tapi bagaimana bisa Rania membenci sosok Fatma begitu saja, sedangkan orang yang selalu ada saat dirinya tersiksa adalah Fatma?
Shaka memeluk erat Rania, diusapnya punggung rapuh itu dengan sapuan lembut.
"Semua akan baik-baik saja. Aku yakin, Fatma akan mendapatkan pasangan yang tepat. Bukankah do'a lebih mustajab dari apapun?" tanya Shaka lembut. Rania mengangguk lemah sebagai jawaban.
"Aku antar kamu ke kamar, ya! Kamu harus banyak istirahat. Ingat kata dokter, kamu tidak boleh banyak tekanan. Ingat! Ada Shaka kecil di dalam perut kamu yang menggemaskan ini," ujar Shaka seraya mengelus perut Rania.
"Aku merasa nggak tega melihat Fatma digelandang polisi seperti itu, Mas," isak Rania.
__ADS_1
"Sudah, jangan kamu pikirkan lagi, ya! Ayo berdiri, jangan sampai perutmu kembung," kata Shaka, sedikit memberi ketegasan kepada istrinya. Rania menurut, berdiri lalu berjalan perlahan menuju kamar utama.
Sesampainya di kamar, Rania membawa tubuhnya berbaring di ranjang yang berukuran king size. Dengan penuh ketelatenan, Shaka merebahkan tubuh istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Tak lupa, selimut tebal menutupi tubuh Rania sebatas dada.
"Istirahatlah! Fokus dengan kehamilanmu. Fatma akan baik-baik saja di sana. Percayalah padaku," ucap Shaka lembut. Tangannya bergerak mengusap dahi basah Rania akibat keringat dingin.
Sedang di tempat lain, Aina tengah sibuk dengan peralatan memasaknya. Saat yang lain istirahat, maka Aina akan sibuk dengan mini restauran miliknya. Ya, dia masih memiliki sedikit tabungan dan ia manfaatkan untuk usaha kuliner. Tepatnya di halaman rumah yang luas dan asri, Aina mendirikan usaha tanpa karyawan. Hanya dirinya dan sang Bunda tercinta yang melayani para pembeli. Tak jarang, setiap jam istirahat mereka berdua akan kuwalahan melayani para pengunjung.
Aina telah berubah. Dia telah melupakan Shaka atas bimbingan bundanya. Meski tak sepenuhnya lupa, setidaknya hatinya telah dibalut sinar kebaikan oleh tutur kata lembut wanita yang disebut Ibu.
__ADS_1
"Sayang, istirahatlah! Biar Bunda yang melayani mereka. Wajahmu pucat sekali!" seru Bunda Aina panik. Bukannya mendengar omelan ibunya, justru penglihatan Aina semakin kabur, telinganya berdenging. Tubuhnya lemas bagai tiada tulang. Singkat cerita, Aina jatuh tak sadarkan diri. Namun, sebelum tubuhnya ambruk, dua tangan kekar berhasil menangkap tubuh Aina lalu dibawanya tubuh lemah itu ke dalam rumah oleh sosok tersebut.
Ibunda Aina panik bukan main. Wanita rapuh itu terus menangis tanpa henti, seolah takut kehilangan sang putri.
"Dia hanya kelelahan, Bu," kata Adi. Ya, sosok itu adalah Adi, orang kepercayaan Shaka satu-satunya. Saat itu, Adi memang iseng ingin melihat keadaan Aina. Meskipun telah ditolak beberapa kali, rupanya cintanya untuk Aina tak pupus jua.
Langkah Adi terhenti, tercengang mana kala melihat keramaian di depan rumah perempuan yang dicintainya. Bibirnya tersungging ke atas membentuk sebuah senyuman, ketika perempuan itu menampakkan wajah ayunya. Tapi Adi merasa aneh saat melihat tatapan sayu Aina. Wajah Aina yang biasa segar, tampak pucat dan lelah.
Menyadari ada yang tidak beres, Adi segera ambil langkah seribu dan masuk ke area mini resto tersebut. Dan benar saja, tubuh Aina terhuyung ke samping. Dan dengan langkah cepat, Adi segera menangkap tubuh Aina sebelum tubuh ramping itu jatuh ke lantai.
__ADS_1