Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Flashback Part 3


__ADS_3

"Bukankah itu istri Tuan Harsa, si pemilik perusahaan interior dan perusahaan tekstil nomor 1 di negaranya?" bisik seseorang melirik tajam ke arah Nyonya Marsya yang sedang asyik bersenda gurau dengan teman sosialitanya.


"Aku tidak tahu sama sekali. Tidak penting juga." jawab seseorang yang lain acuh.


Nyonya Marsya yang sedang asyik memamerkan cincin batu giok asli yang hanya ada lima di seluruh dunia itupun merasa terusik oleh pandangan para pengunjung kafe.


"Kamu kenapa, Sya? Kaya nggak nyaman gitu duduknya?" tanya salah satu teman Nyonya Marsya.


"No problem, lanjutkan saja," ujar Nyonya Marsya tersenyum.


"O iya, besok aku harap kehadiran kalian semua dalam acara satu bulanan cucu pertamaku, ya?" ucap wanita paruh baya yang memakai dress berwarna merah menyala.


"Wah ... senangnya punya cucu pertama. Baru menikah dua bulan udah hamil saja. Tok cer sekali putramu," sahut wanita yang memakai blouse kuning kunyit.


"Iya, dong. O iya, bukannya putra Nyonya Marsya sudah menikah hampir 10 bulan, ya? Sudah punya anak belum?" tanya wanita yang memiliki cucu baru.


"A-anu, me-mereka masih me-menikmati masa ... masa pacaran setelah menikah. Aku memaklumi itu. Karena, mereka ingin menggunakan waktu dengan sebaik mungkin sebelum ada baby yang pastinya akan merubah suasana pernikahan mereka," ucap Nyonya Marsya gugup.


"Tapi nggak mandul, kan?"

__ADS_1


Deg.


**


"Huhuhu ... aku malu sekali, Pa. Putraku telah menikah 10 bulan lamanya. Tapi sampai sekarang belum ada anak juga," isak Nyonya Marsya yang sedang memeluk manja Tuan Harsa di sofa panjang rumahnya.


"Tenang, Ma. Anak itu rezeki, kalau belum dikasih ya berarti belum rezekinya. Jangan menekan Shaka hanya karena ucapan teman-temanmu itu,"" ucap Tuan Harsa berusaha menghibur istrinya.


"Apa kita nikahkan saja Shaka dengan perempuan lain yang bisa cepat hamil, Pa?"


"Ma! Apa-apaan kamu ini! Shaka sudah bahagia dengan pernikahannya. Jangan rusak kebahagiannya. Cukup Morgan yang menjadi korban keegoisan kita!" sentak Tuan Harsa murka.


"Apa Mama lebih mementingkan teman-teman sosialita ketimbang anak sendiri?" ucap Tuan Harsa sambil menatap Nyonya Marsya tajam.


Bruk.


"Loh, kok malah pingsan sih, Ma? Kamu selalu saja penuh drama." gumam Tuan Harsa sambil membenarkan posisi Nyonya Marsya yang sudah tak sadarkan diri dalam keadaan duduk bersandar di sofa.


"Kalau sudah begini, aku bisa apa? Siapa perempuan yang mau menikah dengan Shaka dan yang bisa cepat hamil? Susah kalau begini konsepnya," Tuan Harsa menghela nafasnya berat.

__ADS_1


"Apa Aina saja ya, yang aku nikahkan dengan Shaka? Bukankah dia sudah tahu kalau Shaka sudah menikah? Dan juga, bukankah keluarganya berhutang banyak padaku?" gumam Tuan Harsa sambil mengelus puncak kepala Nyonya Marsya.


"Apa aku sebejat itu? Apa aku harus menyingkirkan hati nurani untuk saat ini?" Tuan Harsa mengusap wajahnya kasar.


**


"Bagaimanapun juga, kamu berhutang banyak padaku, Man. Tolong, bantu aku untuk kali ini saja. Hitung-hitung, kamu sedang membalas semua jasa yang pernah aku berikan untuk keluargamu," ucap Tuan Harsa yang sedang berhadapan dengan Tuan Sarman-ayah Aina, di ruangannya.


"Aku memang berhutang banyak kepadamu, tapi aku tidak akan pernah menjadikan putriku sebagai alat untuk balas budi. Dia lebih berharga daripada apapun," jawab Tuan Sarman tegas.


"Kalau begitu, kembalikan semua yang sudah aku berikan untukmu, sekarang juga. Atau kau akan berhadapan denganku di pengadilan, bagaimana?" Tuan Harsa menyeringai.


"Beri aku waktu dua hari, maka aku akan mengembalikan semua yang sudah kau berikan padaku,"


"Tidak. Hari ini juga, semuanya harus kembali. Termasuk rumah yang sedang kamu dan keluargamu tempati," Tuan Harsa semakin merasa sedang berada di atas angin.


"Kalau begitu, akan aku coba membujuk putriku untuk bersedia menikah dengan putramu yang sudah beristri itu. Bersabarlah, karena ini tidak akan mudah," ucap Tuan Sarman pasrah.


"Fine, aku tahu itu."

__ADS_1


TBC_


__ADS_2