Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Kepergian Nyonya Marsya


__ADS_3

Pagi ini, jenazah Nyonya Marsya telah disemayamkan di pemakaman keluarga Pradikta. Yang berarti, Nyonya Marsya melakukan perjalanan dari negara X ke negara asal.


Shaka, Rania, dan Aina terpaksa melakukan perjalanan bolak-balik demi mengurus kepulangan jenazah Nyonya Marsya. Untuk urusan rumah dan para pelayat, ada Aslan dan kedua orang tua Rania yang bersedia mengatur semuanya.


Sedangkan Tuan Harsa sendiri tak ingin jauh dari istrinya. Saat ini dia bahkan tengah memeluk batu nisan Nyonya Marsya dengan tangisan yang begitu pilu. Laki-laki itu sungguh terpuruk akan kepergian istrinya yang tiba-tiba. Menyesal, karena ia belum sempat menjenguk Nyonya Marsya ketika masih dirawat di rumah sakit.


"Pa, Papa harus kuat. Papa nggak sendiri. Ada aku, Rania, dan calon cucu Papa yang akan selalu menemani Papa. Tolong, jangan seperti ini. Kasian Mama," bisik Shaka, sambil menyentuh pundak Tuan Harsa.


"Papa menyesal terlalu mengabaikan Mamamu, Shaka. Kabar tentang Mamamu yang masuk rumah sakit saat itu Papa abaikan. Karena Papa kira, dia cuma pura-pura seperti biasanya," isak Tuan Harsa.


"Pa, kematian merupakan takdir dari Allah yang tak bisa diubah. Setiap yang hidup akan mati, begitu pula kita. Kita juga akan menyusul Mama. Jadikan semua ini hikmah besar dalam hidup Papa. Jangan meratap, karena dengan meratap akan memberatkan orang yang meninggal," Shaka menuntun tuan Harsa untuk berdiri dan membawanya ke tempat parkir.


Aina tak turut serta mengantar jenazah nyonya Marsya ke pemakaman. Dia lebih memilih untuk menyalami para pelayat yang hadir untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa.

__ADS_1


Sedangkan Aslan dan kedua orang tua Rania pamit pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan acara do'a nanti malam.


Sesampainya di Mansion Utama keluarga Pradikta, Shaka memapah Papanya untuk beristirahat di kamarnya. Diikuti Rania di belakang Shaka dan tuan Harsa.


"Mas, sepertinya malam ini kita harus menginap di sini dulu, deh? Kasihan Papa kalau kita tinggal pulang," bisik Rania, setelah memastikan tuan Harsa tertidur lelap.


"Benar, Sayang. Nanti malam juga kan masih ada acara do'a dan pengajian. Untuk sementara waktu, kita tinggal di sini dulu. Nanti aku suruh Adi menyiapkan kebutuhan kita selama di sini," ucap Shaka, lalu mencium pipi Rania.


Dari jauh, terlihat Aina menatap bengis Shaka dan Rania yang sedang beradegan mesra.


"Tega banget kamu, Mas. Kamu bahkan tak sudi menatapku. Tapi kamu puji istri pertamamu. Lalu, apa fungsiku di hidupmu?" Aina mengepalkan tangannya, dendam semakin menyala di dadanya.


"Aku harus merebut hati Shaka. Shaka itu milikku, Rania," gumam Aina, sambil menatap tajam ke arah Shaka dan Rania.

__ADS_1


"Kalian yang memulai duluan. Aku hanya memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan." pungkasnya, lalu segera berlalu pergi akan tak semakin panas hati. Sungguh tak tahu diri.


"Kalau gitu, kamu istirahat dulu, Sayang. Kasihan bayi kita, dari semalam dia nemenin Bundanya bolak-balik urus kepulangan neneknya," ucap Shaka, lalu mengecup dahi Rania dan menghirup dalam aroma mawar milik Rania.


"Kamu juga butuh istirahat, Mas," balas Rania.


"Nanti aku menyusul. Masih ada pelayat yang harus aku temui," papar Shaka, lalu menuntun istrinya menuju kamar lamanya.


Maaf jika sedikit membosankan,


Karena aku lagi ngejar novel baruku yang berjudul "Selingkuh Yang Indah".


Kalian mampir, dong!

__ADS_1


__ADS_2