
"Saya cuma membela anak saya, Tuan!" teriak seorang pria yang berada di dalam gua tersembunyi di dalam hutan.
"Membela anak dengan cara menculik dan menyiksa anak orang? Dengan cara memalsukan kematian seseorang?" sahut Adi dingin.
"Karena saya tidak terima ekonomi keluarga saya diinjak-injak oleh keluarga Pradikta! Saya penyuntik dana terbanyak di SHD Group waktu Harsa hampir bangkrut sampai saya rela menjual aset-aset berharga saya. Tapi kenapa Yudi yang menjadi manager utama?! Kenapa bukan saya?!" Amran berteriak histeris disertai peluh keluar membanjiri wajahnya yang pucat.
Ya, Amran tengah dikurung dan diintimidasi di sebuah gua yang terletak di hutan milik SHD Group. Dalam kondisi gua yang gelap, pengap, dan lembab, tangan Amran diikat ke belakang dengan tubuh diikat di sebuah batu besar di dalam gua tersebut.
"Gila jabatan rupanya. Saya tidak ada hak untuk melakukan apapun dengan Anda, karena saya hanya diutus untuk membawa Anda ke sini. Selebihnya, Tuan Muda yang akan bertindak. Saya sarankan, katakan semuanya dengan jujur agar Anda tidak terluka terlalu parah," kekeh Adi. Lalu dia berjalan menjauh keluar dari gua.
"Tuan! Tolong, jangan tinggalkan saya di sini, Tuan!" teriak Amran ketakutan, apalagi remang-remang Amran mendengar suara-suara aneh dari dalam gua.
Adi menghampiri penjaga yang masih setia berdiri di luar gua. Adi meminta mereka untuk mengawasi Amran dari luar saja sembari menunggu Shaka datang.
"Baik, Tuan," seru mereka serempak.
**
Rania mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an di telinganya yang begitu merdu. Perlahan, Rania mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat.
Semakin lebar mata terbuka, semakin jelas pula suara merdu itu terdengar. Rania menggerakkan kepalanya ke kanan, mencari sumber suara tersebut. Dan saat Rania menangkap sosok yang tak asing baginya, Rania menyunggingkan senyum tipisnya.
"Mas ..." Rania memanggil Shaka yang sedang fokus dengan kitab suci milik umat islam. Mendengar suara seseorang memanggil namanya, Shaka mengalihkan penglihatannya.
__ADS_1
"Sayang?" Shaka segera meletakkan Al-Qur'an ke meja, lalu berlari menghampiri Rania dengan mata berbinar. "Kamu sudah bangun, Sayang? Alhamdulillah, Allahu Akbar." Shaka mengecup dahi Rania dalam lalu memeluk Rania erat.
"Mas, aku sesak kalau begini," keluh Rania yang merasa berat akibat ditindih beban berat.
"Ah, maaf, Sayang. Aku terlalu bahagia. Kalau gitu, aku panggil dokter dulu, ya?" tanpa menunggu jawaban, Shaka memencet tombol di atas kepala ranjang lalu mengambil air putih dan dia suapkan air itu ke mulut sang istri.
"Mas, kamu kelihatan bahagia sekali, ya? Pasti aku sudah membuat kamu khawatir, kan?" Rania menatap Shaka sendu.
"Aku sangat takut kehilangan kamu, Sayang. Kamu jahat sekali menghukum aku seberat ini," bisik Shaka sambil mengusap pipi Rania yang semakin tirus.
"Maafkan aku, Mas. Gimana keadaan janin kita?" Rania segera meraba perutnya yang sudah mulai buncit.
"Alhamdulillah ... semua baik-baik saja." belum sempat Rania menjawab, dokter datang bersama dua orang suster di belakangnya.
**
Sedang di tempat lain, Aslan baru saja sampai rumahnya setelah mengurus proses penghukuman Fatma. Dan hal pertama yang Nova lihat ketika membukakan pintu untuk suaminya adalah wajah lesu suaminya.
"Dady kok cemberut?" tanya Nova dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
"Aku lelah sekali hari ini, Beb. Tolong, buatkan aku teh hangat manis, ya? Kamu nggak lagi capek, kan?" tanya Aslan memastikan, takut istrinya kelelahan.
"Tidak, Kak. Kalau gitu, aku buatkan teh dulu. Kamu duduk dulu di sini, ya?" pinta Nova, lalu segera berlalu ke dapur.
__ADS_1
Mbok Mun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja Aslan.
"Biar saya buatkan, Non. Non Nova temani Tuan Muda saja," ucap Mbok Mun tersenyum ramah.
"Baiklah, minta tolong ya, Mbok?"
"Siap, Nona Muda," sahut Mbok Mun patuh.
Nova menghampiri Aslan yang sedang sibuk tiduran di sofa dan terdengar sedang bertelepon ria dengan seseorang.
"Biarkan dia ditangani polisi saja. Aku nggak tega kalau pakai hukum rimba. Bagaimanapun juga, dia sahabat lama Rania."
"Baiklah. Jangan sakiti dia."
"Oke."
Nova termenung sejenak. Sahabat lama Rania? Ditangani polisi? Siapa?
Berbagai pertanyaan berkecamuk di otaknya. Tak sabar, Nova segera duduk di samping Aslan dengan tatapan intimidasi.
"Jelaskan," pinta Nova tegas.
"Apanya?" tanya Aslan pura-pura tak tahu.
__ADS_1
"Sahabat lama Rania, ditangani polisi, hukum rimba. Jelaskan, Kak!"