
Rumah sakit Bina Medika begitu ramai oleh para penjenguk siang itu. Akan tetapi, tak membuat keniatan Rania untuk menikmati bubur khas orang sakit lenyap begitu saja. Dengan semangat yang menggebu, Rania berlari kecil menuju dapur rumah sakit yang berada di lantai dua. Shaka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan istrinya.
Sepanjang perjalanan menuju lantai dua, tak henti-hentinya para suster, OB, bahkan dokter sekalipun menundukkan kepala mereka hormat, baik kepada Shaka maupun Rania. Hal itu membuat Rania heran lantaran ia belum mengetahui siapa pemilik rumah sakit besar tersebut.
"Mas, perasaan dari tadi mereka menundukkan kepala saat berpapasan sama kita. Apa ada yang aneh?" tanya Rania menyisir penampilannya yang masih sama sejak tadi pagi.
"Mereka memang harus seperti itu, Sayang. Tapi kalau kamu tidak nyaman, aku akan menyuruh mereka untuk berhenti memberi hormat. Bagaimana?" tanya balik Shaka sambil mengelus puncak kepala istrinya yang terbalut jilbab.
"Memang bisa?" tanya Rania enteng.
"Apa yang tidak aku bisa, Sayang. Menaklukkan kamu saja bisa, apalagi-"
"Jangan diteruskan lagi. Ayo kita ke dapur dulu." ucap Rania yang sedang membekap mulut Shaka. Tak ada jawaban, Shaka hanya mengedikkan bahunya.
Sesampainya di dapur yang sangat luas, rupanya semua koki rumah sakit pun langsung memberi hormat kepada Rania dan Shaka, lalu bertanya, "ada yang bisa kami bantu, Tuan Muda Shaka?"
Sontak Rania membulatkan matanya lebar-lebar mendengar panggilan koki tersebut terhadap suaminya.
"Buatkan istriku bubur yang enak. Dan jangan membuatku menunggu lama," ucap Shaka tegas.
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda. Sepertinya, istri Anda tengah mengidam, ya?" tanya koki itu terkekeh, kemudian berlalu dari hadapan Shaka untuk membuat pesanan Rania.
"Ngidam? Bukankah itu istilah khusus orang hamil?" gumam Shaka lirih. Rania yang sedang melihat-lihat seluruh isi dapur itu terlalu cuek dengan obrolan Shaka dan koki tadi. Ia lebih tertarik dengan tanaman hias yang tertempel rapih di dinding.
"Wah! Baru kali ini aku melihat dapur rumah sakit seluas, sebersih, dan senyaman ini. Bakalan betah berlama di dapur ini kayanya." ucap Rania tersenyum bangga.
"Loh, memangnya Nona Muda belum pernah ke sini?" tanya seorang koki yang terlihat masih muda.
"Baru kali ini. Nona koki sudah lama di sini?" tanya Rania polos. Membuat si koki tersipu oleh pertanyaan Rania.
"Saya baru enam bulan di sini, Nona Muda. Anda sangat beruntung mendapat suami seperti Tuan Muda Shaka, Nona. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek, amin." ucap koki itu tulus tanpa melihat ke arah Rania yang sedang menatapnya heran.
"Kenapa kamu memanggilku Nona Muda? Aku ke sini hanya mau beli bubur kok,"
Deg!
"Benarkah? Kalau iya, sekaya apa suamiku ini?" batin Rania.
"Sayang, buburmu sudah matang. Ayo makan, keburu dingin nanti," ucap Rania membuat Rania terhenyak.
__ADS_1
"A-ah baiklah." ucap Rania dengan tatapan kosong. Masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Mengapa semua milik suaminya? Dari mall, kafe, rumah sakit, besok apalagi? Pikirnya.
Bubur telah habis tanpa sisa. Rasa bubur itu memang sangat luar biasa. Bagaimana bisa makanan rumah sakit yang biasanya hambar bisa selezat itu? Batin Rania.
"Mas, apa benar rumah sakit ini milik kamu?" tanya Rania setelah membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Benar, kenapa?"
"Aku baru tahu, jadi kaget," ucap Rania ketus.
"Jadi ini yang membuat kamu banyak melamun dari sebelum makan. Gini, ini rumah sakit memang milikku yang merupakan impian Morgan sejak kecil. Dulu, dia sangat ingin memiliki rumah sakit sendiri dan melayani semua orang sakit dengan tulus. Dan itu pun karena suatu alasan. Waktu aku berumur delapan tahun, aku sempat dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi hingga kejang-kejang. Sesampainya di rumah sakit, aku ditangani di UGD sedangkan Morgan usil berlari mengelilingi rumah sakit. Dan entah apa yang dia lihat, tiba-tiba dia murung lalu berkata ingin membuat rumah sakit dan melayani orang sakit dengan tulus," Shaka menyeka sudut matanya yang basah.
"Tapi sayangnya, dia meninggal sebelum impiannya tercapai. Lalu, aku yang mewujudkan impiannya," ucap Shaka tersenyum hangat kepada istrinya yang sedang menatapnya sendu.
"Aku terharu, Mas." Rania menitikkan air matanya, mengingat bagaimana kisah cintanya dulu terhadap suami pertamanya yang telah tiada.
"Sudah, jangan begini. Sekarang, ada yang perlu aku lakukan, penting," ucap Shaka serius.
"Apa?" tanya Rania khawatir.
__ADS_1
"Kamu harus tes kehamilan, Sayang. Kata koki tadi, kamu ngidam. Maka dari itu, mumpung lagi di rumah sakit, kita sekalian periksa kandungan kamu, mau?" Shaka menggenggam tangan Rania lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut.
TBC_