Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Nova Hamil?


__ADS_3

"Tidak, Mas! Kamu egois, kamu tidak adil, Mas!" teriak Aina, dia histeris seperti orang kesetanan. Apalah dia ini, lebay sekali.


"Mau tak mau, suka tak suka, ini sudah jadi keputusanku. Aku harap, kamu bisa mendapatkan laki-laki yang tulus mencintai kamu. Jadilah gadis baik, sebaik kamu waktu kecil dulu," ucap Shaka, tanpa menatap Aina sedetikpun.


"Aku beri kamu waktu satu jam untuk berkemas. Setelah itu, pergilah. Temui orang tuamu, Adi akan mengantarmu,"


Ada rasa iba di hati Shaka. Bagaimana pun juga, hati nuraninya masih bekerja. Dan Rania melihat itu. Dia begitu hafal dengan arti tatapan demi tatapan dari mata suaminya.


"Mas, jika kamu belum rela melepas Aina, kembalilah. Aku ikhlas," bisik Rania, entah dari mana Rania punya keberanian itu.


"Aku tidak mencintainya. Kenapa kamu terus mendesakku, Rania?"


Rania terperanjat mendengar pernyataan suaminya. Benar, Rania memang plin-plan. Mungkin, itu sebagian dari bawaan bayi.


"Sayang, satu wanita cukup untuk menjadi pendamping hidupku selamanya. Bukankah sudah aku katakan berkali-kali, hah?" Shaka menangkup pipi Rania. Lalu beralih menatap Aina yang sedang menundukkan wajahnya.


"Aina, cepat bereskan barang-barangmu. Aku tak ingin istriku jadi tertekan karena ulahmu," perintah Shaka tegas, dan dia segera menuntun Rania keluar dari kamar tersebut.


Ternyata, di ruang tamu ada Fatma dan Nova yang sedang berbincang dengan Aslan.

__ADS_1


"Rania!" pekik Nova, lalu segera berlari menghampiri Rania dan memeluknya.


"Kalian ... sejak kapan kalian datang?" tanya Rania kikuk.


"Lumayan lama, sih. Oh iya, kami ke sini turut bela sungkawa atas meninggalnya tante Marsya. Semoga beliau husnul khatimah dan di tempatkan di sisi Allah yang indah." Shaka tersenyum dan mengangguk menanggapi niat baik Nova dan Fatma.


"Terimakasih kalian. Oh iya, butik gimana?"


Nova dan Fatma saling melempar pandangan dan tersenyum.


"Semua aman, bahkan berkembang dengan sangat baik. Pameran kemarin juga berjalan dengan lancar. Yah ... meskipun aku dan Fatma harus menguji ketangkasan dan kecerdasan karena kamu nggak hadir. Jadi, aku dan Fatma mencari model dadakan." Nova menuntun Rania untuk duduk menyusul Fatma dan Aslan.


"Maaf, ya ... aku selalu saja merepotkan kalian," ucap Rania tak enak hati.


"Huuu ... kamu mah, Nov. Tapi bener, sih." semua orang di rumah itu tertawa oleh celotehan Nova dan Fatma. Begitu pula Aslan yang terus menatap Nova tanpa berkedip.


"Ehem, ada yang lagi kasmaran berat, loh!" seru Fatma, lalu melirik Aslan yang tersipu.


"Oh, ya? Siapa?" tanya Rania, sambil menggenggam tangan Shaka.

__ADS_1


"Tuh, si Aslan bin Tarsan." Fatma mengarahkan matanya ke Aslan, lalu ke Nova yang juga sedang tersipu.


"Sialan kamu, Fat. Ganteng-ganteng gini dibilang tarsan," kilah Aslan, masih dengan wajahnya yang merah.


"Tunggu, ini maksudnya apa, sih? Kok ada lope-lope bertebaran di sini?" tanya Rania, pura-pura nggak tahu. Shaka mencubit hidung bangir istrinya yang menggemaskan.


"Rania ... aku kan malu," rengek Nova manja. Rania tergelak, lalu memeluk Nova.


"Selamat datang di keluarga Pradikta, Kakak Ipar,"


"Sialan, resiko punya sahabat ember ya gini. Nggak bisa jaga rahasia bentar aja," decak Nova kesal.


"Nggak papa, aku kan juga sahabat kamu. Masa tega kamu main rahasia-rahasia-an sama aku?" sahut Rania.


"Ya maksudnya kan, ada waktunya tersendiri gitu, loh. Bukan sekarang," rengek Nova manja.


"Ya nggak papa, kan kamu udah bunting duluan. Jadi, aku rasa lebih cepat lebih baik,"


Uhuk! Uhuk!

__ADS_1


"Apa?! Siapa yang hamil duluan?!" pekik Rania. Sontak Shaka segera menyentuh bahu Rania agar emosinya stabil.


"FATMA!!" seru Aslan dan Nova bersamaan.


__ADS_2