
Siang itu, Morgan tengah terlelap karena pengaruh obat yang dia konsumsi. Hal itu dijadikan kesempatan bagi Rania, untuk membicarakan perihal dia yang akan kembali ke apartemen milik Morgan.
Kebetulan, keluarganya baru saja pulang menghadiri acara kerabat mereka.
"Ran, kamu kenapa nerima laki-laki kurang ajar itu lagi, sih?" tanya Aslan menahan kesal.
"Maaf, Kak. Aku akan menjadi istri durhaka jika tidak bisa memberi kesempatan yang kedua kali untuknya," Rania menghembuskan nafasnya berat.
"Aku mencintainya, Kak. Mana bisa aku mengabaikannya ketika dia meminta maaf kepadaku. Bahkan, dia menyesali segala perbuatannya,"
Irene dan Yudi yang melihat perdebatan kedua anaknya ikut nimbrung menengahi serta memberi pencerahan.
"Aslan, Rania benar. Dia sudah menjadi istri durhaka selama satu minggu ini. Dia mengabaikan Morgan tanpa kabar sedikitpun! Itu sudah cukup menjadi pembelajaran untuk Morgan," ucap Yudi menghela nafasnya kasar.
"Seorang anak perempuan yang sudah menikah, akan menjadi milik suami. Sedangkan anak laki-laki yang sudah menikah, akan tetap menjadi milik ibunya, paham?" Yudi menautkan alisnya.
"Aslan, maksudmu memang benar ingin melindungi Adikmu. Tapi, caranya yang salah. Biarkan Rania menentukan jalan hidupnya, jika dia terluka lagi karena ulah Morgan, baru kita ambil dia dan mengobati lukanya. Kebahagiaan Rania, biar dia yang menentukan, Nak," ucap Irene lembut.
Aslan menundukkan kepalanya.
"Baik, kali ini saja! Aku akan menuruti keinginanmu, Rania." Setelah mengatakan itu, Aslan bergegas meninggalkan ruang keluarga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah berbincang dengan kedua orang tuanya, Rania melangkahkan kaki menuju kamarnya. Dia tersenyum melihat suaminya masih tertidur dengan pulas.
Rania mendekati Morgan dan menatapnya sendu.
"Jangan ulangi kesalahanmu lagi ya, Mas," ucap Rania mengelus kening suaminya.
__ADS_1
Morgan yang merasakan ada sentuhan lembut di keningnya, perlahan membuka kelopak matanya. Dan yang pertama kali dia lihat adalah wajah cantik sang istri yang tengah tersenyum memandangnya.
"Sayang," lirih Morgan dan langsung menarik pinggang Rania. Membuat Rania jatuh menindih Morgan.
"Mas, aku berat. Nanti kamu sakit!" pekik Rania sambil menutupi wajahnya menahan malu.
"Nggak berat, yang berat itu ketika jauh dari istri tercinta berhari-hari. Aku nggak akan kuat menahan beban rindu yang terus menghantui pikiranku," ucap Morgan mengelus lembut pipi Rania.
Cup!
Morgan mengecup bibir Rania kilat.
"Tumben sebentar?" tanya Rania.
"Ooh ... Kamu mau yang lama?" Morgan meninggikan alisnya genit.
"Enggak, maksudku-"
"Hah, mana bisa aku menahan hasrat sampai nanti malam?" ucap Morgan lirih, namun masih bisa didengar oleh Rania.
Rania tertawa mendengar celotehan suaminya, bahkan matanya sampai berair.
"Kamu kaya bahagia kalau aku tersiksa?" tanya Morgan mencebik.
"Enggak. Gini loh, kamu nyium aku duluan. Tapi kamu sendiri yang kecewa terus nuduh aku kaya tadi. Yaudah kalau mau, tinggal lakukan aja semau kamu, Mas. Ini hak kamu, dan aku berkewajiban menuntaskan hasratmu," celoteh Rania sambil mengusap rambut Morgan yang agak berantakan.
Morgan terkesiap, seketika raut wajah Morgan berubah yang semula kepompong menjadi kupu-kupu.
"Sungguh, Sayang?" tanya Morgan memastikan.
__ADS_1
"Iya," ucap Rania tersipu.
Tanpa menunggu lama lagi, Morgan langsung merebahkan tubuh Rania. Bibirnya terus ******* bibir Rania. ******* itu berpindah ke leher jenjang Rania, membuat sang pemilik bagaikan tersengat aliran listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Rania menggigit bibir bawahnya, dia merasa ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam, ketika Morgan mulai menyentuh dua gunung squishy milik Rania.
Kini, tubuh Rania tanpa sehelai benangpun, begitu pula dengan Morgan. Rania berusaha untuk menutup area intimnya menggunakan kedua tangannya. Morgan terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Jangan ditutup, itu milikku," bisik Morgan tepat di telinga Rania. Bulu kuduk Rania meremang mendengar bisikan Morgan.
"Pelan-pelan ya, Mas. Kata Fatma, itu sakit banget." Rania memejamkan matanya, karena kini Morgan telah berubah menjadi bayi yang kehausan.
"Sekarang, ya?" Morgan menatap Rania dalam. Wajahnya memerah, peluh membanjiri keduanya.
Rania menganggukkan kepalanya.
Morgan berusaha untuk membobol goa misterius milik Rania, sulit.
Morgan terkesiap. Ia ingat bagaimana dirinya memaki Rania dengan kata-kata kotor yang menuduh Rania tidak suci. Namun ini ...
Morgan menitikkan air matanya dan jatuh tepat di perut Rania.
"Kenapa, Mas? Aku nggak sakit, kok," ucap Rania lirih. Bohong, tentu saja. Yang namanya pertama kali jelas terasa sakit.
"Maaf, telah menuduhmu sekejam itu," bisik Morgan.
"Tak apa, aku memaafkanmu."
TBC..
__ADS_1
Dah ini aja ya, takut khilap 🤣