Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Sore itu juga Shaka langsung meluncur ke negara tempat Nyonya Marsya berada. Tapi yang menjadi keganjalan adalah Tuan Harsa tidak dapat dihubungi sama sekali. Sedangkan menurut orang suruhan Shaka yang berada di sana, Tuan Harsa tidak berada di rumah sakit tempat Nyonya Marsya dirawat.


Tapi Rania berusaha meyakinkan Shaka agar terus melangkah ke depan, menemui sang ibunda. Meski perasaan Rania selalu diselimuti keresahan pula.


"Apa kamu benar yakin mengijinkan aku pergi? Jika tidak, bicaralah. Mumpung aku masih di sini," bisik Shaka yang sedang memeluk bumilnya dengan rasa yang sulit diungkapkan.


"Aku yakin, pergilah ..." lirih Rania, masih setia menyusupkan wajahnya di dada bidang Shaka. Shaka tersenyum kecut mendengar perkataan Rania. Ia tahu benar, bumilnya ini sedang memendam rasa tak rela jika dirinya pergi.


"Aku tidak jadi pergi, Sayang. Kita ... jalan-jalan saja, yuk!" Shaka melepas pelukannya, lalu menangkup kedua sisi pipi tirus Rania dan menatap dalam manik hitam pekat itu dengan tatapan sendu.


"Kenapa?" Rania balas menatap wajah tampan suaminya dengan raut sejuta pertanyaan.


"Aku ... entah mengapa merasa kalau Mama sedang merencanakan sesuatu yang akan merugikan kita, Sayang,"


"Ssstt ... kamu kok ngomongnya gitu?" Rania meletakkan jari telunjuk di bibirnya, lalu menatap suaminya sengit.


"Karena yang aku dengar dari orang suruhanku di sana, Mama masuk ke rumah sakit dengan berjalan kaki layaknya orang sehat wal afiat. Lalu tiba-tiba, Mama masuk ke ruang dokter tanpa mendaftar terlebih dahulu atau apapun itu," terang Shaka membuat Rania mengerutkan alisnya.


"Bisa jadi Mama check up lalu ternyata keadaannya ngedrop, siapa yang tahu, Mas?" sebenarnya Rania semakin merasa ragu, tapi dia berusaha untuk menjadi orang tengah supaya di lain hari ia tidak akan disalahkan jika sesuatu terjadi.


"Belum tentu, Sayang. Aku takut Mama merencanakan sesuatu. Apalagi, Papa tidak bisa dihubungi sama sekali," ucap Shaka gusar.

__ADS_1


"Lebih baik, kamu cek saja ke sana supaya tahu kebenarannya. Pergilah, ambil sisi buruknya. Kalau ternyata Mama beneran sakit, gimana?"


*


*


*


Shaka benar-benar pergi menyusul sang ibu. Dan di sinilah Shaka berada. Di ruang ICU ... tempat Nyonya Marsya berada.


"Ma ... kok Mama bisa seperti ini?" lirih Shaka lemah, sambil mengelus dahi ibunya dan mengecupnya. Nyonya Marsya tersenyum lemah lalu berkata. "Mama merasa menjadi ibu yang tak berguna, Nak ..."


"Tak berguna?" Shaka terkekeh. "Aku yang tak berguna, karena tidak bisa memiliki seorang anak sampai harus dipaksa menikah lagi dengan orang tuaku sendiri," ucap Shaka sengit.


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Dan Rania juga sedang hamil sekarang," Shaka tersenyum hangat laku mencium punggung tangan sang ibu takzim.


"Benarkah, Nak?" tanya Nyonya Marsya dengan wajah berbinar.


"Ya, dan Mama akan segera menjadi oma. Maka dari itu, jangan berulah lagi supaya kandungan Rania aman,"


"Tapi ... apa Mama jahat jika Mama menginginkan dua menantu di hidup Mama, Nak? Di sisa nafas Mama yang pendek ini, ingin rasanya Mama memiliki menantu seorang dokter. Supaya dia ya g merawat Mama tanpa harus ke rumah sakit,"

__ADS_1


Sejenak Shaka memejamkan mata, lalu meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Jadi ini yang menjadi tujuan Mama menyuruhku kemari? Mama tidak berubah sama sekali, Mama cuma ingin membuatku menderita, Ma!" sentak Shaka tanpa sadar. Hilang sudah kesabarannya yang sudah ia pupuk dengan bahan terbaik selama ini, karena ulah sang ibunda.


"Nak-"


tut tut tut tut tut ...


"Ma! Ma! Bangun, Ma! Mama jangan berpura-pura!" pekik Shaka mengguncang tubuh kurus Nyonya Marsya.


Hingga beberapa saat kemudian, dokter datang dengan langkah tergesa-gesa. Seorang perawat mendorong tubuh Shaka agar keluar dari ruangan tersebut.


"Tolong berikan yang terbaik untuk Mama saya, Dokter!" seru Shaka di depan ruangan yang sudah ditutup pintunya.


"Ya Allah ... apa yang aku lakukan?" Shaka meremas rambutnya kuat frustasi.


"Aku tidak ingin menduakan istriku, aku tidak mau berbagi cinta seperti yang Mama inginkan ..." isak Shaka, dan tiba-tiba Shaka merasa ada tangan hangat yang menyentuh pundaknya.


Shaka menoleh dan melihat seseorang yang sedang menyentuh pundaknya. Tatapan Shaka berubah sengit dan nyalang.


"Aina ..." bisik Shaka geram.

__ADS_1


"Menikahlah denganku, wujudkan keinginan terakhir Mamamu. Sebelum penyesalan menghantuimu," ucap Aina percaya diri.


__ADS_2