Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
End


__ADS_3

Tak terasa hari pernikahan Fatma dan Morgan telah tiba. Selama itu pula Morgan sama sekali tak memperlihatkan gerak-gerik yang membuat Fatma curiga. Morgan tampak biasa saja. Dan kini, Fatma tengah dirias di kamar make up yang telah disediakan petugas hotel. Di sana juga sudah ada Nova dan Rania. Ya, Rania telah memaafkan kesalahan Fatma sepenuhnya. Juga, Rania telah menerima Fatma untuk menjadi adik iparnya.


Meski begitu, Shaka tetap meminta Rania waspada. Nova, Rania, dan Fatma tengah bersenda gurau di ruang tersebut. Sedangkan Slava dan Raishaka dititipkan kepada para ayah.


"Fat, kamu beneran mantap dengan pernikahan ini?" tanya Nova, seraya mengelus lembut rambut Fatma yag tlah dihias sedemikian rupa.


"Ada sedikit keraguan, tapi aku tidak mungkin membatalkan pernikahan ini, bukan?" Fatma balik bertanya, matanya menyisir penampilannya yang begitu manglingi dan mempesona.


"Do'akan saja yang terbaik, Nov. Jangan membuat suasana yang harusnya bahagia menjadi gundah gulana, okay!" timpal Rania. Wanita itu sangat cantik dengan balutan hijab berwarna abu muda dan longdress putih bersih dengan taburan fayet berwarna perak berkilau.


Nova dan Fatma tersenyum. Lantas, ketiganya saling berpelukan. Ketiga sahabat yang sempt terpisah itu kini bersatu kembali dalam status yang berbeda.


Di sisi lain, Morgan telah bersiap duduk di kursi akad yang sah disediakan oleh pihak Wedding Organizer. Di depannya ada penghulu sebagai wali nikah karena ayah Fatma yang telah tiada. Juga da Shaka, Aslan, Tuan Harsa, dan Tuan Yudi yang akan menjadi saksi pernikahan.


"Baiklah, karena semua sudah siap, bolehkah saya memulai acara akad ini?" tanya Penghulu, kepada Tuan Harsa. Tuan Harsa mengangguk sebagai jawaban. Dan prosesi akad nikah pun berlangsung ...


Di balik pintu penghubung antara ruang make up dan gedung, Fatma tengah berdiri dengan gugup, didampingi kedua sahabat di sisi kanan dan kiri.


"Kita sambut mempelai perempuan!" seru seorang Host di dalam gedung.


"Ayo keluar! Kamu sudah dipanggil," bisik Rania, seraya menggenggam lembut tangan dingin Fatma. Nova pun melakukan hal serupa.


Dengan langkah perlahan, ketiga sahabat itu berjalan masuk ke dalam gedung yang pintunya tlah dibukakan oleh petugas. Ibu Fatma menyambut sang putri dengan isakan haru. Rania dan Nova melepaskan genggaman mereka dan menyerahkan tangan Faatma kepada Ibunya. Lalu, mereka berjalan mundur dan mengiringi langkah Fatma dari belakang.

__ADS_1


Morgan sangat acuh dengan suara riuh para tamu undangan. Hingga tiba saatnya ia melirik, matanya terpaku melihat sosok perempuan yang tampak begitu cantik yang sedang berjalan ke arahnya.


"Rania ..." ggumamnya lirih, menatap Rania dengan tatapan memuja. Shaka bukan tak melihat itu, tapi di memilih diam demi kelangsungan acara. Karena cemburu, Shaka memilih menghampiri istrinya.


"au sangat cantik, Sayangku," bisik Shaka, saat dirinya telah berhasil menggapai tangan lembut Rania.


"Apa, sih, Mas?" kedua pipi Rania merona, merasa malu dengan pujian suami tercinta.


Di meja akad, Fatma telah duduk berdampingan dengan Morgan. Lalu, tangan Fatma terulur mencium punggung tangan Morgan dengan takdzim. Penghulu meminta sepasang pengantin baru itu untuk menanda tangani akta nikah. Mereka melakukan hal yang diperintahkan Penghulu. Lantas, mereka berfoto. Namun, ada yang berbeda dari sesi foto kali ini, di mana keduanya tak ada yang menyunggingkan senyuman sedikitpun.


Tak ada yang memnyadari hal tersebut, kecuai Ibu Fatma dan Tuan Harsa. Namun, mereka memilih diam. Karena mereka yakin bahwa benih-benih cinta akan hadir seiring dengan mereka hidup bersama nantinya.


Kini, tiba saatnya bagi Morgan dan Fatma dipajang di panggung dekorasi untuk menyambut para tamu undangan yang memberi mereka ucapan selamat dan do'a restu.


Rania menggandeng mesra lengan Shaka yang sedang menggendong Raishaka. Morgan mengepalkan tangannya erat. Mencoba menahan gejolak kecemburuan yang mendesak butuh pelampiasan.


"Fatma, selamat, ya! Semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia, sakinnah, mawaddah, warahmah. Kalau ada masalah, janga memutuskan sesuatu dalam keadaan hati diselimuti emosi. Itu bumbunya rumah tangga. Serta menjadi pasangan yang bahagia dunia akhirat," ujar Rania panjang lebar.


SEmentara itu, Shaka memeluk Morgan dengan satu tangan karena satu tangannya lagi ada makhluk kecil yang duduk dengan santainya.


"Semoga ini adalah pilihan yang terbaik," bisik Shaka, sembari menepuk lembut punggung adiknya itu. Morgan hanya mengangguk sebagai jawaban. Tatapannya tak mau beralih dari Rana. Rania menyadari hal itu. Ia memilih mendekati Morgan dengan tangannya menggenggam erat tangan Shaka.


"Mor, aku harap kamu bisa menjadi sosok suami sekaligus imam yang baik untuk Fatma. Jangan sakiti dia, jangan sampai kamu kehilangan istri yang kedua kalinya. Sayangi dan cintai istrimu sebagaimana mestinya. Arungi bahtera rumah tangga dengan jutaan cinta kalian berdua," ucap Rania, lalu dia menarik tangan Shaka untuk diajaknya undur diri.

__ADS_1


Malam harinya, Fatma baru saja selesai membersihkan diri. Malam ini, Fatma mengenakan stelan piyama berwarna putih tulang dengan motif bunga berwarna biru. Fatma duduk di depan meja rias dengan perasaan campur aduk. Ia menyisir rambutnya, dan menguncirnya ke belakang. Tampak sangat cantik ditambah leher jenjangnya yang putih mulus.


Morgan baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat cantik di bahunya. Tampak sangat menggoda dengan tetesan air yang jatuh dari ujung-ujung rambutnya.


"Fat," panggil Morgan, dingin.


Fatma menoleh penuh keaguan seraya menjawab, "Iya."


"Pindah ke ranjang!" titah Morgan tegas. Fatma meneguk salivanya kasar. Ia hanya mampu menuruti permintaan Morgan, karena itu adalah pesan dari kedua sahabatnya.


"Ini adalah malam pertama kita. Aku harap, kamu tidak akan menmgecewakan aku. Layani aku sebaik mungkin. Buat aku puas dengan tubuhmu. Buat aku lupa dengan sosok perempuan bernama Rania." detik itu juga, Fatma mematung, dunianya seakan runtuh.


'Tuhan, bagaimana bisa aku menikahi laki-laki yang masih mncintai sahabatku sendiri?' batin Fatma menjerit.


End.


Hai, Readers Setiaku!


Terimakasih untuk kalian yang selalu setia menemaniku dari cerita ini amburadul sampai ke lebih amburadul wkwkwk ...


Jangan tanya kenapa aku buat cerita ini tamat dalam kondisi menggantung di pohon toge, ya! Karena aku masih ingin kalian tetap setia denganku dengan menunggu novel baruku, yang mengisahkan perjalanan cinta Fatma dan Morgan. Penasaran nggak?


Buat kalian yang ingin membaca cerita lainku, ada di judul "Selingkuh Yang Indah" ya!

__ADS_1


Tinkyu winkyu kalian ... ♥️♥️


__ADS_2