Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Menyerang Aina


__ADS_3

Setelah pergumulan panas itu, Shaka baru saja selesai membersihkan diri. Sedang Rania masih tertidur pulas di ranjang empuknya. Shaka menatap putri tidur di depannya dan mengecup keningnya dalam.


"Aku mencintaimu, Sayang."


Rania tersenyum menikmati kecupan suaminya. Harum semerbak yang keluar dari tubuh Shaka menggelitik hidung Rania sampai membuat tidurnya terganggu.


"Sudah bangun? Maaf mengganggu," bisik Shaka dan mengecup hidung Rania.


"Sudah dari tadi, waktu kamu keluar dari kamar mandi." sahut Rania nyengir kuda.


"Hmmm ... kamu menipuku, ya?" tanya Shaka, pura-pura cemberut.


"Tentu. Aku mau tahu, apa yang akan kamu lakukan saat aku tertidur," Rania mengalungkan kedua tangannya ke leher Shaka.


"Mas ... aku mau mandi," rengek Rania manja. Shaka tersenyum menanggapi rengekan Rania yang menggemaskan dan segera menggendong Rania menuju kamar mandi.


"Aku mandikan sekalian?" tawar Shaka genit.


"Kalau kamu yang mandiin aku, ntar yang ada mandi dua kali," gerutu Rania.


"Kamu memang istri yang pengertian," kekeh Shaka.


"Bukan pengertian. Lebih tepatnya, terlalu hafal sama mesumible kamu yang gada obat itu," celoteh Rania yang sudah memulai melepaskan satu persatu kancing bajunya.


"Kamu bilang ... aku mesumible? Sayang, kita udah halal. Mesum sama istri itu wajar, yang nggak wajar itu kalau aku mesum sama istri orang, godain istri orang, apalagi ada pepatah mengatakan janda memang menggoda, tapi istri orang luar biasa." sontak perkataan Shaka ini mematik api kemarahan dalam diri Rania membara. Dia kembali memakai pakaiannya dan beranjak keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Ada yang salah sama ucapanku? Aku kan cuma mengikuti yang lagi trend kata-kata masszeech. Bumil emang sensian," Shaka menghela nafasnya kasar.


Sedang di luar kamar, Rania tengah meminum air putih sampai menghabiskan tiga gelas sekaligus untuk meredakan emosinya.


"Bisa-bisanya dia bilang istri orang lebih menggoda? Huh, dia nggak tahu aja di luar sana pasti ada pria yang berkata demikian ketika melihatku," gerutu Rania kesal.


"Ada apa, Nona Rania? Kelihatannya sedang tidak baik-baik saja?"


Rania mengatupkan bibirnya rapat-rapat, jantungnya berdegup bagai hendak melompat. Ia baru sadar, dirinya bukan hanya berdua dengan Shaka. Melainkan masih ada satu makhluk tak kasat mata, biasa disebut pelakor yang meresahkan masyarakat warga setempat.


"Ah, aku baik-baik saja. Dokter sudah makan?" Rania berusaha menormalkan nada bicaranya agar tak terlihat ada tambahan racun emosi di setiap perkataannya. Gengsi dikit depan pelakor!


"Belum. Masih menunggu suamiku keluar," Rania menajamkan telinga dan matanya, meresapi perkataan Aina yang baru saja keluar dari mulut perempuan pelakor tersebut.


Benar saja, Aina segera memalingkan wajahnya menyembunyikan amarahnya.


"Aku panggilkan ayah dari anak dalam kandunganku dulu, ya? Nanti kita makan bersama," kata Rania penuh penekanan.


Rania segera beranjak pergi menuju kamarnya. Ternyata, orang yang ia cari sedang asik membaca ayat-ayat suci yang begitu menyejukkan hati.


Tak terasa, bulir-bulir air mata merembes dan jatuh dari pelupuk mata. Perlahan, Rania mendekati Shaka dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


Merasa pundaknya basah, Shaka menghentikan kegiatannya dan menoleh menatap Rania.


"Sayang, kamu kenapa?" bisik Shaka, sambil menatap dalam manik mata istrinya.

__ADS_1


"Mas, apakah aku terlalu egois ingin memiliki kamu seutuhnya, sedangkan kamu adalah milik Allah Sang Pencipta?" isak Rania menunduk tajam.


"Sssst ... Sayang, kamu kenapa? Aina berbicara sesuatu yang menyakitimu?" Shaka segera merengkuh bahu Rania dan ia benamkan kepala Rania ke dada bidangnya.


"Tidak. Aku hanya merasa, aku ini egois karena ingin memilikimu sendirian. Padahal, sudah jelas kamu ini milik Aina juga," Rania semakin mengeratkan pelukannya. Rasa cemburu sekaligus marah semakin sesak memenuhi rongga dadanya.


"Sayang, sudah aku katakan berkali-kali, bukan? Aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Kamu hanya milikku, dan aku hanya milikmu. Camkan itu," ucap Shaka tegas. Shaka yakin, istri keduanya pasti telah mengusik hati istri pertamanya yang baru saja hendak sembuh lukanya.


"Baiklah. Semoga Allah memudahkan segala urusanmu, Sayang. Sungguh, aku takut kehilangan kamu. Aku takut anak ini akan lahir tanpa seorang Ayah, aku takut aku akan membesarkan anak ini sendirian, aku takut-" ucapan Rania terpotong karena bibirnya tengah dibungkam oleh bibir Shaka.


Tak hanya itu saja, Shaka segera menggendong tubuh Rania untuk dia bawa ke kamar mandi.


Rania melepas tautannya dan berganti dengan raut wajahnya yang merah dan terlihat galak.


"Kenapa lagi, Sayang?" Shaka menghela nafasnya kasar.


"Aku mau dimandiin," ucap Rania ketus, sembari mengerucutkan bibirnya. Mendengar itu, Shaka langsung tersenyum cerah seperti kucing yang dikasih makan ikan asin.


"Dengan senang hati, Tuan Putri." Shaka segera melepas pakaian Rania dan pakaiannya sendiri.


"Loh, Mas. Kamu kok lepas baju juga?" Rania mengernyitkan dahinya.


"Iya. Karena sore ini, sudah kuputuskan untuk mandi dua kali. Kamu tinggal menghayati dan menikmati."


Dan setelah itu ... kalian tahu sendiri apa yang terjadi di dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2