
Adzan maghrib telah berkumandang. Rania membuka matanya perlahan, mengembalikan nyawa yang kono katanya sedang berjalan-jalan. Ia sempat melupakan harta karun termahal di dunia yang baru sore tadi ia dapatkan. Seutas senyum terukir manis di bibir wanita itu kala melihat dua testpack yang berada dalam genggamannya. Matanya berkaca mengingat ada nyawa lain yang sedang hidup di perutnya.
Tapi tunggu, bagaimana suaminya tidak memberi kabar barang sekalipun meski hanya sekedar chat? Lagi-lagi kedua alis tebal tanpa sulam itu mengkerut, pertanda kesedihan tengah melanda hati.
"Sayang, semoga ayahmu tidak benar-benar pulang larut malam, ya. Bunda tidak sabar memberi tahu ayahmu tentang kabar bahagia ini." ucap Rania mengelus lembut perutnya, berharap si jabang bayi yang pasti ukurannya masih sebesar biji kacang hijau itu mendengar ucapannya.
"Kita shalat maghrib dulu, yuk. Nanti kita coba hubungi Ayah, oke." Rania melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk berwudhu dan setelahnya, ia melaksanakan shalat maghrib dengan khusyu'.
Selesai menunaikan kewajibannya, Rania baru ingin menghubungi suaminya. Tapi niatnya berhenti kala ia melihat ada chat dari nomor tak diketahui. Penasaran, Rania segera membuka isi chat dari nomor tak dikenal tersebut.
Rania membelalakkan matanya melihat sebuah gambar yang nomor misterius itu kirimkan. Tangannya bergetar, begitu pula kedua matanya yang langsung menahan laju air matanya.
"Ini beneran kamu, Mas? Setega itu kamu sama aku?" lirih Rania yang sudah tak kuasa membendung air matanya.
"Bukankah dia ini dokter Aina, sahabatmu? Kamu sungguh akan menikahinya demi seorang anak yang bahkan sudah kamu miliki sejak hari ini, Mas?" tubuh Rania ambruk ke lantai dengan isakan tangis yang begitu pilu. Bagaimana tidak? Suaminya yang begitu ia cintai tengah berpelukan mesra dan bahkan berciuman di pantai yang bahkan Rania belum pernah ke tempat itu. Hatinya semakin perih kala membaca keterangan chat yang ada di bawah gambar.
"Mereka menikmati senja bersama, tanpa nama Rania di antara mereka. Serasi, bukan?" begitulah bunyi chat yang orang itu kirimkan.
"Mungkin aku tak akan percaya jika hanya berpelukan, Mas. Tapi tidak jika kamu berciuman dengan dia seperti ini. Bagaimana cara aku mempercayaimu. Ya Allah ... ada apa lagi ini? Belum cukupkah cobaan demi cobaan yang sudah Kau kirimkan untuk rumah tangga kami?" isak Rania di tengah hatinya yang hancur lebur bagai butiran debu.
Tak ingin larut dalam kesedihan yang belum tentu kebenarannya, Rania bergegas ke dapur untuk mengisi perutnya yang kosong. Meski tak bernafsu makan sekalipun, sebagai calon ibu Rania tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjaga janinnya agar tetap tumbuh dengan baik.
Hingga malam menjelang, suaminya tak kunjung pulang. Alhasil, Rania mengurungkan niatnya untuk memberitahu perihal kehamilannya kepada sang suami. Ia sembunyikan dua testpack itu ke dalam kotak perhiasannya.
__ADS_1
Dan untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak stres yang pastinya tidak baik untuk janin, Rania memilih menghubungi mamanya melalui panggilan video.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Rania dengan ceria seperti biasanya.
"Wa'alaikumsalam putri Mama yang cantik. Gimana kabarnya, Sayang?" tanya Mama Irene di seberang sana.
"Alhamdulillah baik, Ma. Mama juga baik, kan?"
"Tentu, Sayang. Sudah malam kok belum tidur? Lagi ada masalah?" firasat seorang Ibu memang dahsyat, bukan?
"Tidak, Ma. Oh iya, Papa mana?" alih Rania untuk menghindari kebohongan yang berlarut.
"Papa lagi meeting mendadak di luar, Nak. Biasalah, Mama serasa gadis lagi selama di sini. Papa jarang pulang, ketemu paling pagi kalau nggak ya, Mama yang nyamperin ke kantor,"
"Apa kamu tidak bahagia, Nak. Cerita ke Mama, ada apa sebenarnya. Tidak biasanya wajahmu sembab seperti itu,"
"Aku baik-baik saja, Ma. Kalau begitu, aku mau bikinin kopi Mas Shaka dulu ya, Ma. Assalamualaikum."
Lagi-lagi, air mata itu luruh dengan begitu derasnya. Menyembunyikan keadaan yang menyakitkan sungguh sangat sulit.
"Aku harus kuat, aku tidak sendiri. Ada janin yang menemaniku saat ini." gumam Rania lirih. Ia meraih gelas berisi air putih yang berada di atas nakas samping ranjang tidurnya.
Lepas itu, Rania berusaha memejamkan matanya berusaha tidur. Akan tetapi, belum sempat terlelap Rania mendengar suara mobil suaminya masuk ke halaman rumahnya. Malas menyambut, Rania lebih memilih untuk pura-pura tidur. Sekilas ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
__ADS_1
"Demi perempuan itu kamu rela pulang jam segini?" lirih Rania tanpa laju air mata.
Ceklek.
Shaka menatap istrinya yang tengah terlelap itu dengan tatapan sendu. Perasaannya yang begitu kacau membuat tubuhnya merasakan lelah yang teramat sangat. Perlahan, ia mendekati ranjang yang sedang istri cantiknya tiduri.
Terkejutlah ia kala melihat wajah cantik istrinya begitu sembab dan masih mengeluarkan sisa-sisa air mata.
"Maafkan aku, Sayang." entah maaf untuk apa yang Shaka maksudkan. Tapi yang jelas, Rania mencium bau parfum lain yang sudah bisa ditentukan bahwa, Aina pemiliknya.
Semakin hancur hati Rania saat ini. Ingin rasanya ia meninju laki-laki yang ada di depannya tanpa ampun.
"Kamu pura-pura tidur, ya?" tanya Shaka yang menyadari mata Rania bergerak.
"Maaf, aku tidak menghubungimu sama sekali. Pekerjaan kantor sangat menumpuk, alhasil baru bisa pulang jam segini," kekeh Shaka.
"Syukurlah jika hanya pekerjaan kantor yang mengganggumu. Semoga, tidak ada urusan lain yang membuatmu pulang selarut ini," ucap Rania dingin.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Shaka heran.
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya takut, jika kamu terlalu nyaman di luar sana, jadi selalu pulang larut. Itu saja," Rania bergegas bangun dari tidurnya untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya.
"Sayang, tunggu. Apa maksud kamu?" Shaka menarik lengan Rania lalu memeluk tubuh ramping itu erat.
__ADS_1
"Jangan peluk aku dulu. Aku tidak nyaman dengan parfum barumu. Mandi dulu, biar hilang bau parfum asingmu ini. Aku jijik." ucap Rania penuh penekanan, dan segera berlalu dari hadapan Shaka.