
"Kakak jahat! Masa lupa sama hari ulang tahunku?" sentak Rania dengan wajah ditekuk.
"Maaf, Tuan Putri. Akan tetapi, saya memiliki sesuatu sebagai bentuk permohonan maaf saya, apakah Anda bersedia menerima?" tanya Aslan sambil menundukkan tubuhnya.
"Nggak mau, paling-paling kerupuk udang. Aku bosen," ucap Rania mencebik. "Tiap Kakak lupa hari spesial ku, Kakak pasti belikan aku kerupuk udang di warung Mbok Giyem. Udah jadi rahasia umum, Kak," Rania melipat kedua tangannya di dada.
"Makanya, jangan asal nebak. Merem dulu," Aslan menatap gemas Rania yang semakin lucu ketika marah.
"Maaf, Kak Aslan. Di bawah ada yang nyari," ucap Nova yang tiba-tiba sudah muncul dari belakang.
"NOVAAAA! Aku kan udah bilang, jangan masuk sebelum aku keluar! Ganggu momen romantis aja!" teriak Aslan kesal.
Nova menepuk jidatnya.
"Lupa," setelah mengatakan itu, Nova langsung lari keluar dari kamar tersebut.
"Mana kerupuk udangnya?" tanya Rania sambil menengadahkan satu tangannya.
"Merem dulu, bawel,"
Akhirnya, Rania menuruti keinginan Aslan. Dia memejamkan matanya dengan bibir yang mengerucut karena sebal.
"Happy Birth Day My Queen!" seru Aslan setelah berhasil memasangkan kalung itu di leher Rania.
Setelah Rania melihat kalung yang terpasang di lehernya, sontak ia terbelalak. Setelah itu, dia berjingkrak saking senangnya.
"Aaaa ...makasih. Kamu so sweet banget, deh," ucap Rania, dan setelah itu dia mengecup pipi Aslan dengan kasar. Keakraban kakak beradik ini terlihat seperti sepasang kekasih, bukan?
__ADS_1
"Dasar bocah," Aslan tersenyum samar, sambil melihat Adiknya yang sudah berlari keluar.
Beberapa saat kemudian, Rania sedang menemui seseorang yang katanya ingin membicarakan sesuatu tentang proyek butik.
Dan orang itu adalah orang yang mencari Aslan tadi. Tanpa rasa curiga sedikitpun, Rania menemui orang tersebut yang rupanya sudah menunggunya di dalam mobil.
"Maaf, Tuan. Tadi saya ada kepentingan sebentar dengan Kakak saya," ucap Rania di depan kaca mobil sambil mengatupkan tangannya di depan dada.
Bukannya menjawab, orang itu langsung menarik Rania masuk ke dalam mobil dan langsung membawanya pergi.
Tak ada seorang pun yang curiga, bahkan Aslan dan lainnya tidak melihat kejadian itu.
"Apa mau kalian?" tanya Rania, berusaha untuk tetap tenang. Meski detak jantungnya berdegup kencang.
"Lihat sendiri saja nanti setelah kita sampai, Nona," ucap orang tersebut dingin.
"Benar, Nona. Saya Adi," ucapnya datar.
"Oh, jadi aku mau diserahkan ke Banteng Buntung itu?" Rania tersenyum miring. "Katakan padanya, tak perlu menculik segala. Cukup pakai jurus telepati nya. Aku pasti akan datang," ujar Rania dan langsung dibalas dengan anggukan oleh Adi.
"Dasar! Atasan dan bawahan nggak ada bedanya," Rania mencebik.
"Heh, kamu Pak Sopir! Berhenti di depan kedai itu. Aku mau beli Thai Tea Boba dulu. Penculiknya nggak perhatian soalnya," Alvin menatap Adi melalui kaca spion, Adi memahami tatapan itu dan memberi izin.
"Kalian mau nitip sekalian nggak? Biar dapet diskon lima ribu kalau beli tiga," ucap Rania setelah mobil berhenti.
Keduanya kompak mengangguk.
__ADS_1
"Oke, jangan ikuti aku. Aku nggak mau dianggap Sultan sama orang yang melihat," ucap Rania ketus.
"Tapi, perintah Tuan--"
"Ikuti perintahku atau aku teriak sekarang juga kalau aku diculik? Aku nggak akan kabur," Rania menajamkan matanya.
"Baiklah, saya tunggu di mobil saja," Adi pun menghela nafasnya kasar.
"Makanya, kalau mau nyulik jangan pakai baju Presiden! Gaya-gayaan pakai baju formal, giliran gratisan Boba aja, mau!" sindir Rania. Kedua pria di dalam mobil itu melotot dengan wajah memerah.
"Mau bagaimanapun itu, perempuan selalu menang dan laki-laki selalu kalah, Vin," desah Adi.
"Sudah kodratnya kali," Alvin menggelengkan kepala pasrah.
Beberapa saat kemudian, Rania datang dengan membawa tiga minuman yang berbeda rasa.
"Buat Pak Sopir yang rasa capuccino, Adi Mocca, ini aku," seperti membagikan permen untuk anak kecil, Alvin dan Adi langsung menerima minuman tersebut dengan cepat dan langsung menyeruputnya.
"Ngomong-ngomong, ini minuman beneran diskon loh, Di. Tapi aku hutang seribu sama Mbak-nya. Aku cuma ada uang tiga puluh ribu, padahal totalnya tiga puluh satu ribu. Mbak-nya judes lagi," celoteh Rania, setelah mobil berjalan.
"Kenapa tidak minta saya, Nona? Saya ada uang seribu, kembalian bayar parkir tadi pas makan di masakan padang," jawab Adi.
"Eh, orang ganteng kaya kamu doyan masakan padang? Aku juga suka banget loh," ucap Rania antusias.
"Baru kali ini, yang diculik tenang, yang nyulik senang," batin Alvin dalam hati sambil menyedot kembali boba gratisannya.
TBC 😊
__ADS_1