
Shaka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pandangannya sudah menggelap. Dunianya hancur, runtuh tak bersisa. Kabar meninggalnya sang Ibunda meremukkan hatinya, bagai lebur bersama masa depannya.
Ibu ... cinta pertamanya, separuh hidupnya, surganya, begitu tega meninggalkannya. Ah ... kehilangan sosok ibu memang semua akan merasakannya. Hanya saja, ketika masa itu terjadi dengan kita, rasanya tak sanggup melewati fase ini.
Begitu pula dengan Shaka. Baru saja ia ditinggalkan sosok adik tunggal yang begitu ia cintai--Morgan, kini ia harus dihadapi dengan kenyataan kepergian sang ibu.
Rania, mau tak mau ia harus menemani Shaka meski dalam kondisi hamil muda. Tapi sebelumnya, dia sudah menghubungi Aslan dan kedua orang tuanya. Sedangkan Aina, perempuan itu duduk di jok belakang sambil menatap Shaka iba.
"Mas, tahan emosimu. Ada bayi kamu di perutku. Jangan sampai kamu membahayakan kita," gerutu Rania, bukan tak larut dalam suasana duka, tapi keadaannya yang begitu takut akan kecepatan membuatnya lupa akan berita yang terjadi saat ini.
"Maaf, Sayang. Jangan marah, aku nggak mau dalam suasana duka seperti ini aku harus melewatinya tanpa payung cinta dari istriku." Shaka terpaksa menghentikan laju mobilnya untuk hanya sekedar mengecup punggung tangan Rania.
"Iya, aku tahu. Tapi kamu harus bisa mengendalikan diri agar tak terhasut oleh bisikan setan. Di sini ada aku, anak kita, dan maduku. Tolong, lapangkan hatimu, ya, Mas?" Rania menangkup pipi Shaka yang sudah mulai basah.
__ADS_1
"Terimakasih, Bidadariku." Shaka mengecup kening Rania dan mengusap puncak kepala Rania yang terbalut hijab berwarna coklat susu, sangat soft dengan kulitnya yang putih mulus tanpa cela.
Aina mendengus sebal. Baru saja dia akan iba terhadap suaminya, lagi-lagi ia mengubur dalam rasa iba itu karena ke-uwwu-an pasangan di depannya.
"Mas, bisa kita lanjutkan perjalanannya?" tanya Aina dengan nada yang mulai meninggi karena terbakar api cemburu.
Shaka dan Rania terdiam tak ingin menjawab. Mereka saling melempar pandangan, lalu segera melajukan mobilnya. Karena pesawat mereka telah menunggu.
Sesampainya di bandara, Rania tak henti-hentinya melafazkan ayat-ayat Allah. Berharap bayi di kandungannya tak bermasalah dalam perjalanan kali ini.
Sedangkan di sudut lain, Airin tengah duduk di pinggir jalan sambil menatap kosong pandangan gelap di depannya.
"Tuhan ... mengapa aku mengenaskan sekali? Apa ini balasan untukku karena telah berbuat jahat terhadap Rania dan Shaka?" isak Airin, menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku sangat menyesal, Tuhan. Ampuni aku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri,"
Ya, wanita berusia 25 tahun itu kini tengah menjadi gelandangan pasca ditipu oleh kekasih barunya. Sempat ingin balas dendam terhadap Shaka yang telah mengurungnya di tempat yang paling gelap dan berbau anyir. Sayangnya, Airin harus terpesona oleh seorang yang mengaku pengusaha makanan terkenal di kotanya. Sehingga, Airin berencana untuk memeras harta laki-laki itu, dan setelah itu baru dia akan melancarkan aksinya.
Tapi sayang, justru Airin-lah yang dimanfaatkan. Laki-laki itu menyuruh Airin melakukan beberapa hal secara paksa. Seperti menjadi model dewasa dan melakukan syuting prostitusi. Sempat berontak, tapi Airin mendapatkan siksaan fisik di tubuhnya.
Beruntungnya, Airin diselamatkan oleh seorang pemuda yang mengaku sebagai tukang foto di studio pemuda penjebak itu.
Hingga akhirnya, Airin menjadi seorang gelandangan yang kini tengah kelaparan. Beberapa hari ini, tak ada seorang pun yang membuang bakas makanannya. Dia hanya mampu meminum air dari keran di pinggir jalan untuk mengganjal perutnya yang kelabakan ingin makan.
Sempat berusaha mencari pekerjaan, tapi sayang, tak ada satupun yang menerimanya. Bahkan mendaftar jadi ART pun ditolak. Entah, memang ini hukuman Tuhan atau memang nasibnya yang sedang sial.
Yang pasti, teruslah berbuat baik selagi ada kesempatan. Karena setiap perbuatan, ada balasan. Apa yang kau tanam, itu yang akan kamu tuai.
__ADS_1
TBC_