Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Nyonya Marsya Sakit?


__ADS_3

"Fat, pesanan souvernir sudah selesai, kah?" tanya Rania melalui sambungan telepon.


"Beres, yang belum beres tuh gajian kita-kita," sungut Fatma.


"Sorry, aku lupa ... nanti sepulang dari sini aku langsung ke sana, oke!"


"Oke, sekalian aku mau ngebahas pemesanan gaun pengantin dan sekitarnya,"


"Alhamdulillah, baiklah ... "


"Kalau gitu, aku tutup dulu. Butik rame nih, assalamualaikum, Sayang,"


"Wa'alaikumsalam."


Setelah panggilan terputus, Rania kembali membersihkan butik barunya yang penuh dengan bekas sampah bangunan. Bermandikan peluh, Rania tetap semangat mengerjakan semuanya sendiri.


Fatma dan Nova sudah menawarkan diri untuk membantunya, apalagi dengan kondisi yang tengah hamil muda, rentan terjadi pendarahan atau bahkan keguguran. Akan tetapi, Rania keukeh membersihkannya sendiri.


Wanita yang memiliki kelainan gila bersih itu dengan sangat telaten membersihkan lantai, kaca, dan beberapa perabot lain yang berdebu. Butik berukuran 150m², design mewah dibantu dengan hiasan lampu, menambah kesan butik semakin cantik dan elegan.


Meski harus menguras ketebalan uang, tentunya tidak akan membuat Rania kelaparan, bukan? Modal butik baru ini, real hasil kerja keras Rania menulis dan pemasukan butik. Tentu hasilnya sangat fantastis.


Ke depannya, Rania bercita-cita membuat yayasan untuk para anak jalanan, termasuk kelima anak yang kini tengah tinggal di butik pusatnya. Ia ingin mengurangi aktivitas mereka yang seharusnya bukan kewajiban mereka, serta mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan untuk mereka.


Baru lima belas menit Rania bergelung dengan butiran debu yang berkeliaran, ia dikejutkan oleh kedatangan Shaka yang tiba-tiba. Lebih mengejutkan lagi, Shaka membawa beberapa petugas kebersihan.


"Mas, ada apa ini? Mengapa kamu membawa orang sebanyak ini? Mau upacara?" tanya Rania heran sambil mengusap keringat yang mengucur di dahinya.

__ADS_1


"Istriku ini sedang hamil muda, tidak boleh bekerja ekstra. Lihat, keringatmu membuat hijabmu basah kuyup seperti ini," Shaka mendengus.


"Maaf, aku cuma ingin membuat butik ini bersih karena sentuhan tanganku. Rupanya, baru beberapa menit saja aku sudah bermandikan keringat seperti ini," Rania menunduk tajam, menyadari kesalahannya. Jika sudah begini, Shaka tak sampai hati memarahi istrinya lebih keras lagi.


"Adi, suruh mereka membersihkan tempat ini sebersih mungkin. Aku akan membawa istriku beristirahat!" seru Shaka kepada Adi yang langsung dibalas anggukan patuh oleh si asisten.


"Sekarang, kamu istirahat," ucap Shaka lembut tapi penuh ketegasan.


"Gendong ..." rengek Rania manja. Shaka tersenyum lebar mendengar rengekan manja yang keluar dari bibir istrinya. Tak menunggu lama, tubuh Rania seperti terpelanting dan langsung masuk ke dalam dekapan dada bidang sang Romeo tercinta.


Kebetulan, di dalam butik tersebut Rania juga menyediakan kamar pribadi khusus dirinya yang sudah dilengkapi dengan kamar mandi.


Sesampainya di dalam kamar bernuansa biru laut dengan pernak pernik bertemakan One Piece itu, Shaka merebahkan tubuh Rania di atas ranjang empuk berukurang sedang.


Dengan penuh ke-telaten-an, Shaka melepas hijab basah Rania lalu membuka sedikit kancing baju istrinya supaya lebih lega.


"Maaf, Sayang. Aku tadi terlalu bersemangat sampai lupa untuk menghubungimu," Rania memeluk erat tubuh harum suaminya, lalu mengecup dagu Shaka mesra. Satu detik, dua detik, tiga detik, Shaka memejamkan matanya merasakan lembutnya daging lembut berwarna pink yang begitu manis baginya. Namun sesaat kemudian, Shaka tersadar bahwa istrinya butuh penyegaran.


"Mandilah, tubuhmu bau asem," Shaka menjepit hidungnya seolah hidungnya mengendus bau yang tidak enak. Sontak hak itu membuat Rania memberenggut kesal. Tapi tetap melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Setelah kepergian Rania, ponsel Shaka berdering. Tertera nama "Mom" di layar utamanya, tanda Nyonya Marsya tengah memanggil.


"Assalamualaikum, Ma," sapa Shaka.


"Apa?! Baik, aku segera ke sana,"


Bersamaan dengan terputusnya panggilan telepon, Rania baru saja keluar dari kamar mandi karena lupa membawa handuk.

__ADS_1


"Siapa yang telepon, Mas? Kamu kok panik gitu mukanya?" Rania mengerutkan alisnya.


"Mama masuk rumah sakit, Sayang. Aku harus ke sana secepatnya," tampak kekhawatiran memenuhi wajah tampan Shaka, membuat Rania iba.


"Pergilah ... hati-hati dan jaga dirimu baik-baik," bisik Rania lembut sambil mengusap pundak suaminya, menyalurkan kekuatan agar Shaka tetap tenang dan dapat mengontrol emosinya.


"Tapi kamu bagaimana? Aku tidak mungkin membawamu ke sana, dokter belum mengijinkan kamu bepergian jauh dengan pesawat, Sayang ..."


"Aku baik-baik saja di sini, Mas. Yang paling utama adalah Mama. Aku dan bayi kita akan aman di sini, okey,"


"Baiklah, aku akan ke sana. Tapi kamu harus berjanji untuk tetap baik-baik saja," Shaka menangkup pipi istrinya lalu mengecup hidung bangir itu gemas.


"Aku janji." tapi entah mengapa, mengijinkan Shaka pergi justru membuat hatinya gusar dan resah, padahal hanya untuk beberapa hari saja.


"Semoga Allah selalu menjagamu untukku dan untuk anak kita, Mas." isak Rania dalam batin.


"Aku meridhaimu, pergilah. Rawatlah Mama dengan baik," Rania memeluk erat suaminya. Entah mengapa, ada rasa perih menancap di relung hatinya.


**Hai, Readers!


Maaf, aku lambat update.


Tapi ketahuilah, aku bukan malas untuk mencari ide, tapi karena dalam beberapa minggu belakangan ini, aku sedang tidak enak body dan harus banyak beristirahat.


Aku harap, kalian tidak bosan membaca cerita amburadul ku, ya!


I Love You, All ...

__ADS_1


Stay healthy and stay happy, okey! 🥰**


__ADS_2