Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Rencana Talak


__ADS_3

"Sayang, kamu masak apa? Baunya enak banget," Shaka memeluk Rania dari belakang, lalu menciumi tengkuk Rania yang begitu memabukkan.


"Masak mi goreng udang, Mas. Gimana Aina?" tanya Rania, tetap fokus dengan masakan di depannya.


"Udah, biarin aja. Aku mau kamu aja yang gemesin,"


Aina menyaksikan sendiri bagaimana keromantisan sepasang suami istri itu. Dia merasa iri, marah, dan cemburu sekaligus menjadi satu.


Aina berinisiatif mendekati Rania dan Shaka.


"Hem ..." Aina berdehem, sambil melipat tangannya di dada.


"Ah, Dokter. Ada apa?" Rania segera melepas kedua tangan Shaka yang tengah melingkar cantik di perutnya.


"Emmm ... Nona, bolehkah saya meminta sesuatu?"


"Apa itu?" tanya Rania, sembari minum susu hamil yang baru saja dibuatkan suaminya.


"Mas Shaka ini kan suamiku juga. Lalu, izinkan saya untuk tidur dengan Mas Shaka malam ini,"


Uhuk! Uhuk!


Rania tersedak sampai air yang baru saja dia minum keluar dari hidungnya. Shaka segera mengambil tindakan dengan menepuk pundak Rania sembari memberinya pijatan lembut di sana.

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan, Aina?!" sentak Shaka, wajahnya memerah karena amarah yang begitu besar.


"Aku hanya meminta hakku, Mas. Sedari kita menikah sampai sekarang, kamu belum pernah membawaku tidur di sampingmu," protes Aina, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Mimpi, kamu," Shaka terus memijat pundak Rania yang masih merasa panas di dadanya.


"Kamu yang keterlaluan, Mas. Kamu nggak adil!" seru Aina.


Rania menghembuskan nafasnya kasar. Masih tidak menyangka dengan Aina. Dia seorang dokter, tapi sama sekali tak memiliki empati terhadap orang yang sedang membutuhkannya.


"Mas, malam ini tidurlah dengan Aina. Buat dia puas." Rania melangkah pergi setelah selesai menuang masakannya ke piring.


"Sayang!" Shaka mengejar Rania. Takut kehamilannya terganggu oleh ulah Aina.


Rania tengah duduk di balkon kamarnya, menatap kosong ke arah tumbuhan rimbun di ujung sana. Ia sangat merindukan Ibunya. Hatinya yang tengah terluka, membutuhkan sosok penenang yang dapat dia jadikan tempat berkeluh kesah. Tempat bersandar ketika sudah tak mampu berdiri lagi.


Air matanya tak mau lagi berdiam diri. Mereka terjun bebas ke pipi tirus wanita yang terluka. Entah sampai kapan semua ini akan usai. Tak dapat dipungkiri, kali ini ia sangat lelah. Lelah menghadapi cobaan yang tiada habis, lelah mempertahankan cinta yang ia yakini adalah cinta sejati, lelah dengan semua yang menimpa dirinya saat ini.


"Aaaaahh ...! Aku ingin istirahat, Ya Allah!" pekik Rania, berharap beban di hatinya sedikit berkurang setelah menyentak alam.


Dari belakang, Shaka turut merasakan apa yang Rania rasakan saat ini. Pria tampan itu mendekati sang istri, lalu memeluknya erat.


"Katakan, apa yang harus aku lakukan agar rasa sakitmu terobati? Katakan, cara apa yang bisa menebus dosaku kepadamu? Katakan, Sayang. Aku tak sanggup melihatmu seperti ini," isak Shaka di tengah pelukannya.

__ADS_1


"Tidak, Mas. Aku yang seharusnya bisa lebih kuat. Tapi entah mengapa, hatiku tak mampu menahan beban. Aku terlalu cengeng, Mas. Ini jelas bukan aku." Rania semakin membenamkan kepalanya ke dada sang suami. Sungguh tak rela jika membayangkan suaminya tidur bersama perempuan lain.


"Aku tak mau egois, Mas. Aku akan berdosa jika ingin terus tidur di sampingmu, sedang di ruang lain ada perempuan yang juga menginginkan kehadiranmu. Malam ini, aku mohon tidurlah bersama Aina. Aku mohon," lirih Rania, menahan denyutan dahsyat di dalam relung hatinya.


"Tidak, Sayang. Lebih baik, aku mentalaknya sekarang daripada harus tidur bersamanya," tolak Shaka.


"Tapi bagaimana dengan Mama, Mas? Aku takut Mama mengira aku yang menyuruhmu menjatuhkan talak kepada Aina,"


"Aku nggak peduli. Aku memiliki istri dan calon anak yang harus aku lindungi. Tak peduli sekalipun Mama yang menentang atau Papa yang melarang. Aku akan tetap menjadi orang pertama yang berdiri di garda terdepan untuk melindungi kamu dan calon bayi kita, Sayang. Izinkan aku menjatuhkan talak padanya, malam ini." Shaka mengecup puncak kepala Rania, lalu turun ke bibirnya.


"Percayalah, menikahi Aina adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Pernikahan ini melukai orang-orang yang aku sayangi. Ini bukan poligami yang diridhai Allah,"


"Lakukan apa yang menurutmu baik, Mas. Setidaknya-"


Ting! Ting!


Ponsel Shaka berdering.


"..."


"Ya, saya sendiri," jawab Shaka.


"..."

__ADS_1


"Apa!".


__ADS_2