Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Kebahagiaan Keluarga Kecil


__ADS_3

Kelahiran Raishaka begitu menggemparkan dua keluarga. Apalagi proses melahirkan yang dirahasiakan. Tentunya, dengan alasan tak ingin membuat ibu Rania khawatir. Dan kini, Tuan Harsa, Tuan Yudi, dan Nyonya Irene tengah berada di kamar inap Rania. Ketiganya berebut ingin menggendong Baby Dirga.


"Biar aku saja, Pa, yang gendong Baby Dirga. Takutnya, kalau Papa yang gendong bisa-bisa penyakit encok Papa kambuh. Ya, Nak, ya? Raishaka sama GrandMa aja, ya!" Ucap Irene, tangannya terulur mengelus lembut pipi merah Baby Dirga yang tengah tertidur dengan pulasnya.


"Iya, Pa, biar Mama saja. Takut Raishaka kebangun kalau pindah-pindah," timpal Rania. Tuan Yudi pun menurut, pria itu mengangguk lalu membawa tubuhnya duduk di sofa, bersebelahan dengan Tuan Harsa.


"Ran, cucu Mama ini sebenarnya mau dipanggil siapa? Dirga apa Raishaka, sih?" tanya Nyonya Irene, sambil menatap hangat cucu dalam gendongannya.


"Apa saja boleh, Ma," sahut Shaka tersenyum ramah.


Selain itu, Aslan dan Nova tengah dalam perjalanan menjenguk Rania. Mereka tak sabar melihat buah cinta Shaka dan Rania. Tak lupa, mereka membawa serta bayi mereka yang baru berusia dua bulan. Bayi perempuan itu bernama Slava Amora Pradikta, atau sering dipanggil Slava. Bayi itu berbulu mata lentik, bibir mungil, hidung mancung, dan pipi tembem. Sangat menggemaskan, ditambah rambutnya hitam dan tebal.


"Sayang, apa kita perlu membawakan sesuatu untuk Rania?" tanya Aslan, dengan mata fokus menatap jalanan padat di depan.


"Boleh, Kak. Mau beli apa?" Nova balik bertanya.


"Menurut kamu, kita beli apa, Sayang?" Aslan menepikan mobilnya, lalu menatap Nova yang tengah menyusui Baby Slava. "Kapan kamu kembalikan minuman Papa, Sla?" rengek Aslan, dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Aih, kamu tu dari kemarin itu mulu yang dibahas," jawab Nova dengan wajah merona malu.


"Aku rindu rasa choco chips itu, Sayang. Kamu nggak kasihan sama aku?" Aslan mulai usil menggerayangi bagian yang tak disentuh Slava.


"Kakak!" teriak Nova, lalu dia segera menutup bagian yang sedang menganggur alias tak disentuh Slava. "Jalan lagi saja, Kak. Kita nggak punya waktu lama. Kasihan Slava kalau pulang kesorean," kata Nova, dengan bibir mengerucut.


"Ya sudah, kita mau ke mana?" tanya Aslan, tangannya usil mencubit hidung bangir Nova.


"Ke toko perlengkapan bayi yang di ujung jalan ini saja," ucap Nova ketus. Aslan pun hanya menanggapi dengan senyuman lembut, lalu dia segera mengemudikan mobilnya menuju toko perlengkapan bayi yang istrinya maksud.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Aslan dan Nova telah sampai di toko perlengkapan bayi tersebut. Setelah memilah beberapa perlengkapan, akhirnya Nova memilih stroller bayi yang berwarna hijau muda. Nova tahu jika Rania belum sempat membeli stroller tersebut.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Aslan menemukan kamar inap adik dan keponakannya.


Tok! Tok!


Aslan mengetuk pintu, sedangkan Nova asyik mengajak bercanda Slava. Dan ketika pintu dibuka, suasana di kamar tersebut semakin ramai.

__ADS_1


"Wah, Gadisku!" seru Tuan Yudi, sembari beranjak dari duduknya, lalu merentangkan tangannya untuk menyambut sang cucu pertama.


Slava tampak telah mengenal kakeknya dengan baik. Buktinya, Slava tersenyum lebar dengan kaki dan tangan bergerak lincah menyambut kakeknya. Tuan Yudi lantas mengangkat tubuh mungil Slava dengan hati-hati dan mulai sibuk bermain dengan bayi perempuan imut itu.


Sedangkan Aslan dan Nova menghampiri Rania dengan senyum lebar tanpa surut, turut merasakan kebahagiaan yang tengah menyelimuti keluarga kecil itu.


"Selamat Ran, akhirnya perjuanganmu dimulai," ucap Nova, sambil mengelus pundak Rania.


"Makasih, Kak Nov. Benar, perjuanganku menjadi seorang ibu baru akan dimulai. Dan aku telah lama menantikannya," jawab Rania antusias.


"O iya, siapa nama keponakan jagoanku?" Aslan menatap Shaka yang sedang duduk bergelayut manja di pundak Rania.


"Raishaka Dirga Pradikta, Kak," sahut Shaka.


"O iya, bawakan stroller untuk Raishaka, loh. Lihatlah!" Nova mendorong stroller itu ke sisi ranjang Rania. "Aku tahu, kau belum sempat beli benda ini, kan?" imbuhnya lagi.


"Wah, makasih, Kak. Ini sangat berguna," jawab Rania, dengan wajah berbinar.

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong, kamu kan lagi bocor lama, Ran. Bagaimana tanggapan Shaka?"


Seketika, semua orang di dalam ruangan tersebut terdiam dan menatap Aslan dengan tatapan horor.


__ADS_2