
Setelah kepergian Aslan, Nova mendudukkan tubuhnya ke lantai. Entah mengapa, ucapan Aslan membuat tubuhnya bereaksi lain. Ada desiran aneh yang membuat hatinya bagaikan dikelilingi emoticon love-love seribu kali.
"Aku kenapa ini? Aneh sekali." gumam Nova. Tak ingin berlarut dengan dugaan-dugaan yang tak tentu kebenarannya, Nova memutuskan ke lantai atas untuk memberitahukan perihal perintah Aslan mencari pekerja baru. Fatma yang mendapat kabar itu pun turut bangga.
Fatma langsung menyuruh para penjahit mencarikan orang atau teman untuk dipekerjakan di bagian pengrajin tangan. Setelah itu, Nova dan Fatma kembali ke bawah menemui Giska-pelayan butik untuk menyuruhnya membeli makan siang.
**
Di tempat lain, entah mengapa Rania begitu merindukan si kelinci kecil Rara. Lama tak melihatnya membuat rindu Rania begitu menggebu.
Ia merengek kepada suaminya untuk mengantarnya ke kediaman Brahma. Sebenarnya Shaka enggan, akan tetapi Rania membawa-bawa bayi mereka sebagai dalang di balik keinginannya.
Mau tidak mau, akhirnya Shaka mengantar Rania pergi ke kediaman Brahma.
Sesampainya di rumah besar itu, Rania berlari memasuki pintu utama menuju kamar Mbok Mun, selaku pengasuh Rara.
Melihat kedatangan anak majikannya tersebut, entah mengapa raut wajah Mbok Mun berubah cemas. Dan hal itu tertangkap jelas oleh penglihatan Shaka.
Sesampainya di kamar Mbok Mun, Rania celingukan mencari kandangan kelinci kesayangannya yang entah mengapa tak ditemukannya sama sekali.
__ADS_1
Penasaran, Rania berniat menanyakannya kepada Mbok Mun. Akan tetapi, belum juga bertanya, tiba-tiba wanita paruh baya itu bersimpuh di kaki Rania yang sedang berdiri.
Hal tersebut tentu membuat Rania dan Shaka terkejut. Wanita itu menangis tersedu-sedu sampai membuat kedua orang yang menyaksikannya heran.
"Ada apa, Mbok? Jangan seperti ini. Mana pantas Mbok Mun bersimpuh di kakiku yang statusnya adalah anak asuh Mbok," Rania memegang kedua bahu Mbok Mun dan membawanya berdiri.
"Non, maaf, Mbok tidak becus mengurus Rara," isak Mbok Mun yang menunduk tajam. Mendengar penuturan Mbok Mun, Shaka menyimak dengan seksama agar bisa memahami situasi.
"Ada apa, Mbok? Ceritakan baik-baik," ucap Rania lembut.
"Rara sudah tidak ada, Non. Salah Mbok yang tidak becus menjaga Rara," tangis Mbok Mun semakin menjadi-jadi. Bahkan, Mbok Mun kembali bersimpuh dan memeluk kaki Rania.
Shaka menuntun Mbok Mun berdiri, lalu dibawanya tubuh gemuk itu ke sofa ruang keluarga.
"Mbok, jangan meratapi apa yang sudah terjadi. Semua telah berlalu dan kematian Rara itu sudah takdir dari yang Maha Pencipta. Kita tidak akan menyalahkan Mbok Mun atas apa yang telah terjadi. Kita percaya, Mbok Mun sudah berusaha merawat Rara sebaik mungkin," ucap Shaka menenangkan, sambil mengusap punggung Mbok Mun.
"Benar, Mbok. Meski sedih, aku tetap ikhlas. Mungkin, Allah sedang menegurku dan Mas Shaka karena tidak menjaga ciptaan-Nya dengan baik, kami tidak amanah. Mungkin itu lebih baik daripada Rara harus merasakan penderitaan yang luar biasa," lirih Rania dengan air mata yang sudah meluncur bebas membasahi pipi mulusnya.
"Maafkan Mbok, Non. Tiga hari yang lalu, Rara tiba-tiba tidak mau makan dan minum. Dia hanya tiduran saja. Mbok pikir, dia kelelahan karena setiap hari bermain di taman sama Mbok. Tapi belum ada satu hari Rara tak nafsu makan, tau-tau Rara sudah meninggal di dalam kandangnya. Mbok takut menghubungi Non. Takut Mbok dipecat," isak Mbok Mun di pelukan Rania.
__ADS_1
"Tidak, biarlah ini menjadi pelajaran untukku dan Mas Shaka, agar ke depannya kami bisa lebih amanah dalam menjaga apa yang Allah titipkan kepada kami. Sudah, jangan menangis. Nanti cantiknya nambah," goda Rania berusaha mencairkan suasana. Rania tak tahu, bahwa suami yang sedang berada di sampingnya begitu bangga dan semakin terpesona oleh sikap Rania dalam menguasai keadaan saat ini.
*
*
*
Di sisi lain, Nyonya Marsya uring-uringan karena Shaka tidak mudah terpikat oleh rayuan Aina.
"Pa, cari cara lain supaya Shaka mau menikahi Aina!" seru Nyonya Marsya kepada suaminya yang sedang berbaring di sampingnya.
"Jangan berteriak, Ma. Papa sudah mendapat cara yang mujarab. Kali ini, Shaka pasti akan mau menikahi Aina, secepatnya." ucap Tuan Harsa menyeringai tajam. Rencana kali ini, merupakan sesuatu yang sangat ditakuti Shaka.
"Rencana apa, Pa? Paling gagal lagi," sungut Nyonya Marsya.
"Mama cukup diam dan jangan banyak berteriak. Bisa robek mulutmu lama-lama," ucap Tuan Harsa ketus.
Orang tua yang begitu egois itu tanpa sadar sedang berusaha membuat buah hatinya menaiki tangga kesengsaraan. Kebahagiaan yang sedang Shaka rajut, tak begitu saja membuat mereka turut merasa bahagia.
__ADS_1
Lantas, definisi kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua versi mereka yang bagaimana?