
Shaka benar menepati janjinya.
Dia membiarkan Rania bebas, meski tetap apartemen Shaka yang menjadi rumahnya. Hal tersebut membuat kebencian Aslan terhadap Shaka semakin menjadi. Karena menurutnya, Rania dijadikan layangan yang ditarik ulur sembarangan.
Meski mendapat tantangan dari Aslan, Rania tetap menjadi Rania yang penurut. Dia hanya ingin melunakkan hati Shaka yang telah membeku. Susah memang, tapi tekad Rania sudah bulat. Baginya, ketenangan Morgan mengalahkan apapun.
Airin, dia rutin mengunjungi apartemen Shaka setiap sore, sampai membuat Rania jengah.
Sore ini, sepulang kuliah Rania menyempatkan diri pulang ke rumahnya untuk mengambil Rara.
Sesampainya di rumah Brahma, Rania langsung mencari Mbok Mun yang selama ini mengasuh Rara. Rania pun sudah mengetahui tentang kepergian kedua orang tuanya. Meski kecewa, dia yakin Papa Mamanya pasti bahagia di sana.
"Mbok! Rara mana?" seru Rania kepada Mbok Mun yang sedang asyik mendengarkan lagu dangdut kesukaannya.
"Eh, Non sudah pulang. Rara di kamar Mbok, Non," kata Mbok Mun sambil mematikan radio jadulnya.
"Oh, ya sudah. Aku ambil ya, Mbok," ujar Rania, langsung melangkahkan kakinya mengambil Rara.
Beberapa menit kemudian, Rania keluar dari kamar Mbok Mun sambil menggendong Rara.
"Mbok, aku langsung pulang ke apartemen kak Shaka, ya," pamit Rania, dan menyalami Mbok Mun.
"Hati-hati ya, Non. Semoga masalah Non cepat selesai," ucap Mbok Mun berkaca.
"Aamiin, Mbok. Kabari aku kalau Mama Papa pulang, ya,"
"Baik, Non," Mbok Mun mengantar Rania ke depan. Dengan motor vespa favoritnya, Rania melaju menuju apartemen Shaka.
Dalam perjalanan, Rania melamun. Dia teringat dengan perkataan Shaka yang mengatakan "Kalau kamu macam-macam, nasib kedua orang tuamu berada di tanganku. Mereka sedang berbahagia dengan hartaku, maka kamu harus membayarnya," begitu kira-kira ancaman Shaka waktu Rania izin masuk kuliah.
Tiiiinn ...
Tiba-tiba, suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Membuat Rania oleng dan hilang keseimbangan.
Bruk!
__ADS_1
Rania terjatuh bersama motornya.
Tap, tap, tap
Seorang laki-laki yang keluar dari mobil sport itu menghampiri Rania yang tertindih motor.
"Kamu tak apa? Maaf, aku membuatmu terkejut, ya?" tanya laki-laki itu sambil membantu Rania berdiri.
"Sssshh ...iya tak apa, Mas. Aku yang salah karena belok secara tiba-tiba," desis Rania, menahan perih di lutut dan sikunya.
"Lain kali, kalau mau belok lihat depan belakang dulu, lampu reting juga dinyalakan. Jangan seperti tadi, ya?" ujar laki-laki itu sopan.
"Baik, Mas. Maaf sekali lagi," Rania mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Iya. Eh, ini lukamu aku obati dulu, ya? Atau mau aku antar ke rumah sakit?" laki-laki itu tiba-tiba jongkok di depan lutut Rania yang terluka.
"Tidak perlu, Mas. Saya pamit pulang dulu saja. Hari sudah hampir gelap," Rania beranjak perlahan menuju motornya.
"Baiklah, hati-hati. Jangan ngelamun lagi!" seru laki-laki itu yang dibalas anggukan oleh Rania.
"My Queen, ternyata kamu memang semakin cantik," gumam laki-laki itu, tersenyum miring.
Sesampainya di apartemen Shaka, Rania langsung masuk ke kamarnya. Tak lupa Rania membawa Rara juga.
Setelah itu, Rania bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Urusan bersih-bersih selesai, Rania menuju dapur untuk memasak. Ini adalah rutinitas Rania setiap sepulang kuliah atau dari butik.
Saat Rania asyik dengan kegiatannya, remang-remang Rania mendengar suara yang berasal dari kamar Shaka.
Karena penasaran, Rania pun mendekati kamar yang terletak di lantai atas itu. Ternyata, pintu itu tidak ditutup rapat oleh si pemilik. Membuat Rania semakin mudah melihat apa yang terjadi di dalam.
"Aaaaaahhh ...Shaka, lagi ..ya, seperti itu," desah seorang perempuan dari dalam sana.
Deg!
Rania terkejut melihat pemandangan di depannya itu. Dua insan berbeda jenis itu sedang bergulat saling bertukar keringat. Yang satu sudah tak berpakaian sedikitpun, yang satu masih lengkap namun, sudah kusut berantakan penampilannya.
__ADS_1
Tubuh Rania bergetar hebat, ia menggigit bibir bawahnya menahan sesak yang menekan dada.
Rania bahkan tak sadar jika di sampingnya ada vas bunga yang terbuat dari kaca. Dan-
Prang!
Vas bunga itu terjatuh. Rania, Shaka, dan Airin sama-sama terkejut mendengar suara itu. Shaka yang sedang dibakar gairah itu langsung berlari keluar melihat apa yang terjadi.
Shaka terbelalak menyadari pintu yang tidak terkunci, dan semakin terbelalak lagi melihat siapa yang berada di luar kamarnya.
"Nia ..."
Gadis kecil itu sedang membereskan pecahan beling vas bunga itu. Mendengar namanya di panggil, Rania pun mendongakkan wajahnya.
"Ya, ada apa?" jawab Rania dingin.
Shaka akhirnya sadar, ternyata yang di dalam bukan Rania. Itu hanya bayangannya saja. Lalu siapa?
Shaka memastikan siapa perempuan yang ia gagahi. Begitu dia melihat dengan jelas siapa perempuan itu, api kemarahan dalam diri Shaka semakin membara.
"Sial! Aku dijebak," Shaka mendesah frustasi. Gairahnya belum tersalurkan, ditambah Rania yang pasti akan semakin membencinya.
Menyadari Rania sudah tak ada di depannya, Shaka langsung mengejar Rania yang pasti ada di kamarnya.
Sesampainya di kamar Rania, Shaka lega karena dugaannya benar.
"Rania, maafkan aku," ucap Shaka lirih sambil melangkahkan kakinya mendekati Rania.
"Tak apa, Kak. Santai saja," jawab Rania enteng.
"Maaf, tadi aku melihat Airin itu kamu. Dia menggodaku, makanya aku langsung--"
"Ssssst, jangan berisik. Rara lagi tidur, Kak," ucap Shaka menempelkan jarinya di bibir Shaka.
Mendapat sentuhan itu, tubuh Shaka bagaikan tersengat aliran listrik. Gairah yang sempat tertunda itu muncul kembali.
__ADS_1
Haaaiihh, panas dingin akunya ðŸ˜