Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Pesta pernikahan Adi dan Aina telah digelar di sebuah gedung mewah di kotanya. Para tamu undangan telah berdatangan memberi ucapan selamat dan do'a restu. Ada juga yang sedang menikmati hidangan yang tersedia. Akad telah diselenggarakan tadi pagi, kini Aina dan Adi telah sah menjadi suami istri.


Sepasang pengantin baru itu tengah berdiri di panggung dekorasi yang telah dihias sedemikian rupa. Mereka menyalami para tamu undangan yang memberi ucapan selamat dan do'a restu untuk keduanya.


"Huuufftt ..." Aina menghela nafasnya berat.


"Kenapa, Sayang?Apa kau lelah?" tanya Adi setengah berbisik.


"Iya, Sayang. Aku lelah sekali," rengek Aina manja. Adi tersenyum manis, lalu mengusap kepala Aina yang terbungkus hijab berwarna putih. "Sabarlah, masih ada tamu penting yang harus kita sambut dengan istimewa," imbuhnya.


Aina hanya bisa mendesah pasrah, lalu ia kembali duduk.


"Istirahatlah! Biar aku yang menyalami mereka," kata Adi lagi, lalu dikecuplah dahi Aina sekilas. Kedua pipi Aina merona seketika karena tingkah manis Suaminya.


Sedan di sisi lain, Shaka, Rania, dan Raishaka baru saja turun dari mobil mereka. Kali ini, keluarga kecil itu mengenakan baju couple berwarna maroon. Shaka dan Raishaka mengenakan setelan jas dengan dasi kupu-kupu, sedangkan Rania mengenakan longdress cantik dengan pita kecil menempel cantik di bagian belakang.


"Sayang, Mama Papa kok belum keliatan, ya?" Rania celingukan mencari mobil yang biasanya dipake kedua orang tuanya.


"Mungkin masih di jalan, Sayang. Kita masuk aja dulu," jawab Shaka, yang sedang menggendong Raishaka. Rania mengangguk menyetujui. Mereka bertiga masuk ke dalam gedung, sambil bergandeng tangan mesra.

__ADS_1


Sesampainya di dalam gedung, mereka langsung menuju panggung untuk menemui pengantin baru.


"Wiihh ... selamat pengantin baru!" Rania menyalami Aina, dengan senyum mengembang di bibirnya. Tak ada lagi rasa curiga dan takut di hatinya. Rania bahkan memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Aina.


"Terimakasih sudah hadir ke pesta kami, Nona. Padahal saya--"


"Sudah jangan dibahas lagi. Itu sudah masa lalu. Sekarang, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing," cegat Rania, tak ingin masa lalunya diungkit lagi. Atau rasa sakitnya akan kembali singgah di hati.


Sedangkan Shaka dan Adi, mereka saling berjabat tangan. Lalu, Adi menggendong Raishaka dan mengecup pipi gembul bayi tampan itu.


"Selamat, ya, Di. Semoga, rumah tanggamu sakinah, mawadah, warahmah. Senantiasa diberkahi Allah, dan menjadi pasangan dunia dan akhirat," ucap Shaka, tulus mendo'akan.


"Terimakasih, Tuan. Saya akan mengikuti jejak Anda," jawab Adi, menganggukkan kepalanya.


"Semuanya, ya, Di. Pokoknya, malam nanti jangan kasih kendor, genjot terooos," goda Shaka, sontak hal itu membuat Aina tersipu malu.


"Oh, iya, dan ini ada hadiah kecil dari kami untuk kalian." Rania menyodorkan amplop coklat kepada Aina. "Bukalah!" pinta Rania.


Aina menerima amplop dan langsung ia buka karena penasaran. Saat melihat isinya, kedua mata Aina berkaca bahkan air matanya menetes karena rasa haru.

__ADS_1


"Nona, ini ..."


"Ya, itu tiket honeymoon dan sertifikat restauran untukmu," sahut Shaka, sambil mengambil alih Raishaka yang terlihat mulai mengantuk.


"Terimakasih, Tuan. Ini terlalu besar bagi kami,' kata Adi, terharu. Shaka dan Rania hanya saling melempar senyum. Lalu, mereka turun dari panggung untuk mencicipi hidangan yang tersedia di sana.


Tak berselang lama kemudian, Aslan dan Nova tak lupa si cantik Slava yang digendong Ibunya. Mereka memberi selamat kepada mempelai dan barulah mereka bergabung dengan Shaka dan Rania.


"Kak, Mama Papa di mana?" tanya Rania, celingukan lagi.


"Mereka tidak bisa hadir, Ran. Mereka ada urusan mendadak di perusahaan. Tapi aku sudah menyampaikan permohonan maaf dan doa restu dari mereka untuk pengantin," jawab Aslan, mengelus kepala adik tercintanya.


"Oh, iya. Papa Harsa dan Morgan gimana, Mas?" Rania sangat jeli terhadap anggota keluarganya. Shaka pun mengambil ponsel di saku celananya dan segera menelepon Tuan Harsa.


Sambil menunggu suaminya yang sedang menghubungi Tuan Harsa, Rania berbincang dengan Nova seputaran bayi.


"Kak, apa kau sudah khatam puasa?" tanya Rania tiba-tiba, membuat Aslan tersenyum jahil.


"Sudah, Ran. Ternyata Nova kesakitan, loh," bisik Aslan, tersenyum smirk.

__ADS_1


"Benarkah?" Rania menutup mulutnya, terkejut sekaligus takut.


"Iya, Ran. Kan perawan lagi," sahut Nova menimpali.


__ADS_2