Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Dimaafkan!


__ADS_3

Pagi yang begitu hangat dan cerah ini tetap terasa dingin dan mendung bagi Shaka yang masih didiamkan oleh istrinya. Pasalnya, lepas shalat subuh tadi Rania menyibukkan diri mengurus segala pekerjaan rumah. Dari menyapu, mengepel, masak dan mencuci pakaian.


Hal itu membuat Shaka resah, menurutnya Rania sengaja menghindari dirinya dari perdebatan. Padahal, Rania melakukan hal itu karena dirinya memang butuh waktu untuk merenung dan introspeksi diri. Tentu hal ini sangat dibutuhkan dalam rumah tangga, agar pasangan suami istri bisa saling mengerti satu sama lain, saling memahami kekurangan masing-masing, serta menghindari perdebatan hebat.


Tepat pukul delapan pagi, Rania sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Ia langsung membersihkan diri dan mengganti pakaian rapi. Rania bermaksud mengunjungi butik yang berada di cabang baru.


Shaka mengernyit melihat penampilan istrinya yang begitu mempesona. Dengan memakai gamis berwarna soft purple bermotif bunga kecil beraneka warna, dipadukan dengan jilbab segi empat polos berwarna senada. Sederhana, tapi begitu menawan. Apalagi, ditambah polesan make up natural dan lipstik warna nude, perfect.


"Cantik sekali, mau ke mana?" goda Shaka yang sebenarnya berunsur kepo.


"Mau cari bujangan tampan. Mau ikut?" jawab Rania sekenanya. Tentu jawaban Rania ini mematik api kecemburuan dalam hati Shaka.


"Apa mau kamu? Aku sudah minta maaf berkali-kali dan menjelaskan apa adanya yang terjadi tanpa ada kebohongan sedikit pun, Nia!" sentak Shaka yang sudah kehabisan akal dalam meluluhkan hati sang istri.


"Mau aku? Aku mau kamu cukup diam, jangan dekati aku sampai emosiku reda. Bukan tanpa alasan, aku tidak mau kamu menemuiku di saat aku sedang melawan ego dan hasutan syetan yang terus melayang dalam pikiranku dan berbisik dalam hatiku. Cukuplah kamu diam, maka setelah amarahku reda aku akan mendatangimu. Mungkin itu lebih baik daripada kita saling beradu mulut yang pada ujungnya akan menambah masalah semakin rumit. Kamu tentu mengerti maksudku, bukan?" ucap Rania penuh penekanan.


Jleb.


"Sedewasa ini kamu sekarang, Nia. Bahkan, aku terlampau jauh dari kamu yang sekarang." batin Shaka perih.


"Maaf, lagi-lagi aku tersulut emosi lagi," Shaka menertawakan dirinya yang kekanak-kanakan.


"Aku sungguh cemburu melihatmu akan keluar dengan dandanan yang begitu cantik seperti ini, Sayang. Kamu begitu sempurna untuk aku yang tak tahu apa-apa, jelas aku takut kamu kepincut laki-laki yang jauh lebih baik dari aku. Aku juga butuh kamu dalam situasi yang seperti ini. Ditekan sana-sini seperti aku tak punya rasa hati dan harga diri. Tolong, mengertilah aku yang saat ini sedang mempertahankan rumah tangga kita agar tetap langgeng sampai kita menua nanti." Shaka menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat berantakan dan frustasi, itu penilaian Rania.


"Dengan mengajak wanita yang bukan muhrim dan beradegan mesra, begitukah maksud dari kalimat mempertahankan rumah tangga?" telak Rania.

__ADS_1


"Itu di luar kendali, Rania. Harus bagaimana lagi agar kamu percaya?" Shaka yang tak tahan itu langsung membawa tubuhnya ke dinding dan membenturkan kepalanya berkali-kali di sana. Hal itu membuat Rania terkejut. Dengan langkah cepat, Rania menahan kepala yang keningnya sudah memerah itu untuk dibenamkan ke dadanya.


"Jangan lukai tubuhmu, karena Allah akan murka. Kamu itu sudah dewasa hampir tua. Logikanya, orang gila saja belum tentu mau melukai dirinya sendiri." ucap Rania dengan nada sarkas, lalu membawa Shaka untuk duduk di sofa panjang yang berada di ruang TV.


Rania mengambil baskom, handuk kecil, dan air hangat untuk mengompres memar di kening suaminya.


"Kalau kamu terus seperti ini dalam menyikapi masalah, lama-lama aku risih sama kamu. Kamu itu pemimpin, imam dalam rumah tangga. Harusnya bisa membawa makmum kamu ke jalan menuju syurga Allah. Bukan malah jedotin kepala ke dinding kaya tadi. Kamu mau, kalau aku dan anak kamu ngikutin caramu dalam menghadapi masalah, hah?" ucap Rania, tak peduli Shaka yang meringis kesakitan karena saat ini Rania sedikit memberi tekanan dalam kompresan tersebut.


"Maaf, aku salah. Aku hanya mengikuti isi pikiranku saja, dan aku sadar ini bukan aku banget. Aku nggak tahu kenapa," Shaka menangkap jemari lentik yang sedang dengan telaten mengompres lukanya, lalu mengecupnya mesra.


"Masa bawaan bayi?" batin Rania bingung. Ia tahu, Shaka tak sebar-bar ini. Shaka memiliki karakter tenang dan dewasa. Tapi, apa tadi? Melukai diri sendiri bukan Shaka banget, pikir Rania.


"Hah ... sudahlah. Aku memaafkanmu, tapi tentu ada hukuman, dong." Rania nyengir kuda. Entah angin mana yang membuat hatinya sangat ingin mengerjai suaminya.


"Tak masalah, apapun asal kamu memaafkan aku. Katakan, apa hukumannya?" tanya Shaka tak sabar.


Deg.


"Sayang, ka-kamu serius? Lima bulan bukan waktu yang sebentar. Kamu pasti tidak akan tahan," decak Shaka kesal.


Plak!


"Haih, kamu yang aku hukum kenapa aku yang dibully? Atau jangan-jangan, kamu senang mendapat hukuman itu?" Rania menyipitkan matanya. Ia meletakkan handuk kecil ke baskom lalu berkacak pinggang di hadapan Shaka, meski dalam keadaan sama-sama duduk.


"Mana ada seperti itu? Aku tentu tidak tahan, tapi kamu pun pasti akan merindukan sentuhanku," ucap Shaka dan tertawa geli melihat ekspresi Rania yang tampak menyesal akan keputusannya.

__ADS_1


Melihat istrinya salah tingkah itu membuat Shaka tak tahan. Dipeluknya wanita cantik di hadapannya serta diciumnya bibir merah merekah itu.


"Ini untuk menghilangkan bekas ciuman Aina,"


Cup.


Shaka kembali mengecup bibir beraroma strawberry itu.


"Ini untuk permintaan maafku,"


Cup.


"Ini untuk cintaku yang begitu besar untukmu,"


Cup.


"Ini untuk permohonan, agar hukuman tak jadi diberlakukan." ucap Shaka lalu mengusap bibir itu lembut. Wanita mana yang tahan dengan sikap manis suami seperti ini? Bisa bayangkan bagaimana wajah Rania saat ini? Semerah tomat matang, pembaca!


"Kamu pandai merayu, mana tahan aku untuk tidak memaafkan kamu. Aku, Queen Rania Pradikta, memaafkan segala kesalahan Shaka Putra Pradikta dengan setulus hati." ucap Rania dengan nada manja.


"Terimakasih, Queen ku. Aku janji, ke depannya tak akan lagi menemui wanita tanpa adanya orang ketiga," ujar Shaka dengan mata berkaca hampir menitikkan air mata.


"Hei, calon Ayah nggak boleh cengeng," bisik Rania, lalu mengarahkan tangan Shaka ke perutnya yang masih rata.


"A-apa maksudmu, Sayang?"

__ADS_1


Hai, ada yang kangen aku nggak?


__ADS_2