Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Sah Juga Akhirnya


__ADS_3

Rania tiba-tiba merasa sesak di bagian dadanya. Entah mengapa, sejak keberangkatan Shaka sampai sekarang, tak ada kabar sekalipun dari suaminya itu. Enam belas panggilan keluar dan lima puluh satu pesan chat tak dibuka sama sekali.


Rania memilih untuk menenangkan pikirannya dengan menulis novel komedinya. Bertolak belakang sekali dengan rasa yang dia idap saat ini. Bukannya merusak mood, justru Rania dibuat cekikikan membaca komentar para pembaca yang kocak.


Sejenak Rania dapat melupakan kegalauannya karena sang suami yang tiada kabar. Hingga akhirnya, Rania lelah dan memilih untuk tidur.


Sedangkan si SHD Group, Tuan Harsa uring-uringan karena tidak mendapati Shaka di ruangannya. Ia menyuruh Alvin untuk mengubungi Adi, barangkali menemukan petunjuk.


"Maaf, Tuan Besar. Saat ini, Tuan Muda sedang berada di negara X karena Nyonya Besar masuk ICU. Dan kabar buruk yang saya dengar dari Adi, katanya Tuan Muda akan melangsungkan pernikahan dengan dokter Aina hari ini juga," ujar Alvin menunduk tajam.


"Mama," lirih Tuan Harsa geram.


"Kita terbang ke sana sekarang juga. Tolong rahasiakan masalah ini, jangan sampai bocor apalagi sampai ke telinga menantuku." ucap Tuan Harsa tegas dengan tatapan nyalang. Tidak, kemarahannya sudah tak dapat dikendalikan lagi. Tuan Harsa mengetatkan rahangnya keras dan tangan terkepal erat di bawah meja sana.


"Baik, Tuan. Saya akan menghubungi pihak pesawat agar bersiap," Alvin bergegas menelepon seseorang dengan raut wajah serius.


"Shaka pasti tertekan saat ini. Ya Allah, jaga anakku dari kedzaliman. Singkirkan ia dari segala masalah dan mara bahaya," lirih Tuan Harsa, lalu ia menutup matanya sejenak. Menikmati rasa sesak yang menekan dadanya.


Istrinya tak begitu saja melepaskan Shaka, meski dalam keadaan sulit pun itu.


"Semua sudah siap, Tuan. Kita akan berangkat sekarang," Alvin mempersilahkan Tuan Besarnya jalan terlebih dahulu, dan menunduk hormat.

__ADS_1


"Hah, semoga belum terlambat ya, Vin," gumam Tuan Harsa yang nasih terdengar oleh telinga Alvin.


"Semoga saja, Tuan," sahut Alvin yang berada di belakang Tuan Harsa. Meski ia sendiri tak yakin.


**


Sementara itu, di rumah sakit X Shaka sedang bersiap dengan segala keperluan ijab qabulnya. Aina sedang berdandan agar tetap memberi kesan cantik di pernikahan sederhananya.


Semua sudah siap. Dengan langkah gontai, Shaka duduk di kursi yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Disusul Aina yang juga duduk di sebelah Shaka dengan wajah berbinar. Sama berbinarnya dengan Nyonya Marsya yang menyaksikan pernikahan putranya tepat di samping putranya melaksanakan ijab qabul meski dalam posisi berbaring.


Sah!


Penghulu meminta Aina untuk menyalami suaminya. Aina pun meraih tangan Shaka yang kaku lalu mencium punggung tangan suami sirinya. Akan tetapi, Shaka menarik tangannya dengan cepat sebelum bibir Aina menyentuh punggung tangannya.


Setelah acara ijab qabul selesai, Nyonya Marsya menyuruh Aina dan Shaka untuk beristirahat di rumahnya. Sempat menolak, tapi ada hal yang harus Shaka selesaikan saat ini, tanpa sepengetahuan ibunya.


Shaka membawa Aina pergi dari rumah sakit lalu membawanya ke rumah kedua orang tuanya. Tak ada percakapan apapun di antara keduanya. Dan Aina juga tak berani membuka topik. Melihat wajah Shaka yang garang saja sudah membuatnya takut setengah mati. Apalagi mengajaknya ngobrol, sama saja dengan mencoba bunuh diri.


Sesampainya di rumah mewah itu, Shaka menarik tangan Aina ke dalam kamar tamu. Shaka menghempaskan tangan Aina kasar sampai Aina mengaduh kesakitan.


"Sudah puas bisa membuat aku menikahimu?" tanya Shaka dengan nada sarkas.

__ADS_1


"Mas ... aku, aku tidak bermaksud memaksamu. Tapi Mama yang mendesak kita menikah. Kamu dengar sendiri, kan?" ya, kali ini Aina mengubah panggilan terhadap Shaka menjadi Mas. Sontak Shaka semakin murka dibuatnya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Hanya Rania yang berhak memanggilku dengan sebutan spesial itu, mengerti?" Shaka menatap Aina tajam, semakin tajam sampai-sampai mau bernafaspun Aina merasa takut.


"Tapi bukankah itu wajar untuk sepasang suami istri?"


"Sepasang suami istri yang saling mencintai, Aina. Tidak dengan kita. Aku tidak mencintai kamu, bahkan sebaliknya. Aku sangat membencimu," ucap Shaka penuh penekanan.


Aina terdiam, ia merasa nyeri yang teramat di bagian dadanya. Ya, dia sakit hati oleh perkataan Shaka. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur basah dan juga, keinginannya untuk menjadi istri Shaka sudah terpenuhi. Tinggal jalani dan nikmati. Ia yakin, suatu saat nanti Shaka pasti akan merubah kata bencinya menjadi cinta yang tiada tara.


Hai, Readers setiaku!


Aku mau pamer nih!


Aku launching novel kedua, loh!


Kalian mampir ya, judulnya "Selingkuh yang Indah"


Semoga suka ...


Lap yu al

__ADS_1


__ADS_2