Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Air Mata Rania


__ADS_3

Tes ...


Kedua mata Rania tiada henti mengeluarkan cairan kristal bening, hingga terlihat jelas wajahnya sembab dan merah. Semalaman dia tidak bisa tidur karena sibuk menangis. Bantal yang menjadi alas tidurnya sampai basah kuyup akibat air mata yang tiada henti.


Pukul enam pagi, Rania mengerjapkan matanya ketika merasakan sesuatu menindih perutnya. Ia meraba benda yang ada di perutnya dengan mata yang masih sayup.


"Tangan?" gumam Rania. Lalu sejurus kemudian, Rania terbelalak menyadari sesuatu.


"Mas-" ucapan Rania terpotong kala bibir tipisnya dibuat bungkam oleh bibir tebal Shaka.


Rania memukul dada bidang Shaka sekuat tenaga ketika merasakan pasokan oksigen dalam paru-parunya mulai habis.


Menyadari hal itu, Shaka melepaskan tautan bibirnya lalu mendekap Rania erat.


"Sejak kapan kamu pulang?" tanya Rania dingin sembari merasakan sisa-sisa ciuman ganas yang dilakukan oleh suaminya.


"Sepuluh menit yang lalu. Aku tidak bisa jauh darimu terlalu lama, Sayang," ucap Shaka sendu.


"Kalau kamu pulang, bagaimana dengan istri barumu? Ah, apa kelelahan bermalam pertama mungkin?" Shaka terhenyak mendengar penuturan Rania.

__ADS_1


"Sayang, aku sama sekali nggak menyentuh dia. Aku terpaksa memenuhi permintaan Mama. Kondisi Mama sangat parah, Sayang," ucap Shaka sendu. Rania masih menyimak penjelasan suaminya.


"Kamu tahu, aku dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit. Aku nggak mau menyakiti kamu, tapi di samping itu aku pun takut menyakiti Mama," bisik Shaka tepat di telinga Rania.


"Aku sama sekali nggak cinta sama Aina. Percayalah, ini semua aku lakukan hanya demi Mama." Shaka mengecup dahi Rania lama.


"Lalu, bagaimana dengan kewajibanmu sebagai seorang suami? Kamu nggak takut Allah murka? Ingat, Mas. Apapun alasannya, kamu tetap seorang suami dari dua istri yang sah di mata agama. Kamu jangan dzalim terhadap istrimu karena berbuat tak adil, Mas," Shaka terdiam mendengar perkataan Rania yang ada benarnya.


"Aku akan segera menjatuhkan talak kepada Aina. Aku tidak bisa berbuat adil, aku tidak bisa menunaikan kewajibanku sebagai suami Aina," lirih Shaka dengan raut sendu.


"Kamu pikir, perempuan seperti kita nggak punya hati, Mas?" sergah Rania.


"Stop, Mas! Aina tu cinta sama kamu, dia pasti sangat bahagia bisa menikah sama kamu, Mas!" sentak Rania sambil menghempaskan tangan Shaka yang masih bertengger mesra di perutnya.


"Sayang, kok kamu kaya nyuruh aku buat mencintai Aina juga?" tanya Shaka mulai tersulut emosi.


"Aku nggak nyuruh, aku cuma berpikir seandainya aku berada di posisi Aina. Pasti sangat kecewa dan sangat sakit. Aku nggak mau kamu dzalim, Mas. Harusnya aku yang emosi, bukan kamu. Aku yang kamu hianati, bukan kamu yang terhianati, kok malah jadi kebalik?" Rania beranjak meninggalkan Shaka masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa kantuk yang melanda karena baru bisa tidur dua jam, hilang seketika karena kedatangan Shaka.


Di bawah guyuran air dingin yang membasahi tubuhnya, Rania menumpahkan air mata sepuas-puasnya. Tentu tak mudah bagi seorang istri menyuruh suaminya mencintai wanita lain. Apalagi dalam keadaan tengah hamil muda.

__ADS_1


"Kuatkan aku ya Allah ... sesak sekali dadaku. Ah ...!" isak Rania memukul dadanya berulang untuk mengurai rasa sesaknya.


Sedangkan di bagian bumi lainnya, Aina sedang mengunjungi Nyonya Marsya. Wanita tua itu masih setia tinggal di ruang ICU. Detak jantungnya semakin lemah, pasokan oksigen dalam paru-parunya pun mulai menyusut.


"Pagi, Mama Sayang ..." sapa Aina tersenyum cerah.


"Pagi juga anak Mama, bagaimana pernikahanmu?" tanya Nyonya Marsya tersenyum hangat meski terlihat sangat dipaksakan.


Raut wajah Aina berubah masam kala mendengar Nyonya Marsya membahas pernikahannya.


"Hah ... Shaka tetap saja tidak mau menyentuhku, Ma," Aina menghela nafasnya kasar.


"Kamu yang sabar ya, Nak. Suatu saat nanti, pasti Shaka mau menyentuhmu," ucap Nyonya Marsya menenangkan Aina.


"Tapi sampai kapan, Ma?" Aina mencebik kesal.


"Kamu yang sabar, tetap dekati Shaka dan lakukan hal-hal yang membuat Shaka senang. Mama yakin, Shaka pasti akan jatuh cinta sama kamu," papar Nyonya Marsya lemah.


"Baiklah, tapi Mama juga harus tetap memaksa Shaka supaya dia mau belajar mencintaiku," rengek Aina manja.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Mama akan usahakan." Nyonya Marsya meraih jemari Aina dan sedikit meremasnya, agar Aina yakin akan perkataannya.


__ADS_2