
Morgan masih merasa bagaikan mimpi karena telah dijodohkan dengan perempuan yang telah menyakiti wanita yang dicintainya. Ingin menolak tapi tak mampu. Ia takut sampai mengecewakan Tuan Harsa. Mau tak mau, Morgan menyetujui perjodohan itu.
Tuan Harsa tersenyum puas dengan jawaban Morgan. Pria tua itu memilih Fatma untuk menjadi menantunya juga bukan tanpa alasan.
Saat itu ...
"Tuan, saya sangat menyesali perbuatan saya. Saya terlalu tergila-gila terhadap putra Anda, sehingga membuat saya gelap mata dan refleks menyakiti sahabat saya--Rania," ucap Fatma kepada Tuan Harsa, ketika pria berusia lima puluh tahun itu tengah melakukan kunjungan terhadapnya.
"Tapi perbuatanmu itu sungguh keterlaluan, Nak," ucap Tuan Harsa, membuat Fatma menundukkan wajah menahan rasa malu.
"Saya tahu, Tuan. Karena itu, saya bersedia menerima segala bentuk hukuman yang diputuskan dalam persidangan. Saya sangat menyesali perbuatan saya, sampai saya tak punya muka untuk bertemu dengan Rania, Shaka, maupun Morgan. Saya merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia ini, karena terlalu nekat menyakiti orang lain. Saya--"
__ADS_1
"Cukup, Nak. Aku paham dengan perasaanmu sekarang. Berubahlah dan perbaiki kesalahanmu. Mereka yang kamu sakiti juga buka sosok pendendam. Yakinlah, akan ada pelangi setelah hujan, akan ada musim semi setelah badai menerjang," tutur Tuan Harsa bijak.
"Iya, Tuan. Jika saya harus mendekam di penjara selamanya pun saya bersedia. Asal Rania benar-benar memaafkan saya," ucap Fatma lagi, membuat Tuan Harsa menatap iba kepada gadis di depannya itu.
"Lalu, apa kau tak memikirkan masa depanmu?" Tuan Harsa bertanya seraya menautkan kedua alisnya.
"Saya tak lagi memikirkan masa depan. Ibarat kata, saya tengah terjebak dalam jurang penyesalan. Saya hanya akan memperbaiki diri di sini dan menerima konsekuensi atas perbuatan saya di sini. Ya ... saya hanya ingin menikmati fase inni." Fatma terkekeh pelan.
Tuan Harsa merasa Fatma adalah sosok yang tulus. Hanya saja, Fatma terlalu dibuatakan oleh cinta sehingga membuat matanya gelap hingga melakukan halnekat. Bukan membenarkan, hanya saja terkadang kita perlu menatap seseorang dari segala sisi. Bukan dari sisi negtifnya saja.
"Tuan, saya seorang penjahat. Bagaimana bisa Anda meminta saya untuk menjadi menantu Anda?" Fatma sedikit ragu dengan permintaan Tuan Harsa yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku ingin putraku memiliki pendamping hidup. Sepertinya, kamu memiliki karakter yang cocok untuk dia."
Empat Bulan Kemudian.
"Kak, jika kamu tidak ingin perjodohan itu berlanjut, batalkan saja tidak apa-apa," ucap Fatma kepada Morgan. Kini, mereka sedang berada di restauran pinggir Pantai. Ya, Fatma telah bebas tiga hari yang lalu dan ini adalah kali pertama Fatma bertemu dengan Morgan.
"Tidak! Justru, aku ingin perjodohan itu berlanjut hingga ke jenjang pernikahan nanti," ucap Morgan, dingin.
"Maksudnya? Kakak mau kita menikah, gitu?" tanya Fatma hati-hati. Morgan mengangguk kecil sebagai jawaban. "Apa alasannya, Kak?" lanjut Fatma bertanya.
"Karena aku ingin mengenalmu lebih dalam, itu saja dan jangan banyak bertanya," ucap Morgan, singkat, padat, dan ketus.
__ADS_1
"Baiklah." Fatma pun tak lagi banyak bertanya. Dia memilih menikmati makanan di depannya. Ada gurita crispy dan cumi saos tiram kesukaannya. Sedangkan Morgan hanya memesan nasi putih dan udah goreng tepung saja.
'Aku merasa ada yang tidak beres dengan keputusannya. Jangan-jangan, dia hanya ingin balas dendam saja.' Fatma berkata dalam hati seraya menyisir wajah Morgan. Mencoba mendeteksi adanya niat buruk yang sedang Morgan sembunyikan darinya.