Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Semakin Berani


__ADS_3

Tiga hari sudah Rania menjadi tawanan cantik di apartemen Shaka. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Fatma mempercayai Aslan yang katanya, Rania sedang berada di luar kota untuk beberapa waktu.


Sedangkan kedua orang tua Rania, mereka pindah ke luar negri karena Pak Yudi mendapat kepercayaan memegang perusahaan di sana.


Bukan tanpa sebab Shaka memberikan jabatan setinggi itu. Karena pastinya, itu demi kelancaran aksinya. Pak Yudi begitu bahagia sampai melupakan keberadaan putri semata wayangnya. Itu tujuannya.


Hari ini, Aslan telah selesai menyelesaikan pendidikannya. Dia berhasil mendapat gelar Sarjana Hukum. Dan hari ini juga, Rania menelpon Aslan atas izin Shaka.


"Rania, kamu di mana sekarang? Apa kamu baik-baik saja? Katakan padaku, ke mana aku harus menjemputmu," ucap Aslan tak sabaran.


'Jangan khawatir, Kak. Aku baik-baik saja. Kakak tak perlu tahu aku di mana. Aku menelpon Kakak, karena aku mau memberi ucapan selamat atas keberhasilanmu,' ucap Rania di seberang sana.


"Mana bisa begitu, Sayang. Kamu disekap dan kamu bisa bilang baik-baik saja? Dari mana itu rumusnya?" seru Aslan.


'Dengar, Kak. Jangan bergerak sedikitpun. Mereka tahu kalau Kakak sedang mencariku. Dan itu akan membahayakan Kakak,' terang Rania.


"Mereka? Ada berapa orang di sana? Aku nggak peduli siapapun lawan Kakak. Yang pasti, Kakak mau kamu cepat pulang," ucap Aslan lembut.


'Kak, aku hanya perlu menunggu Shaka ikhlas akan kepergian Suamiku. Aku di sini bukan dijadikan tawanan, malah seperti Ratu. Kakak jangan khawatir. Aku baik-baik saja,'


"Shaka? Jadi benar, Shaka yang mengurungmu?" tanya Aslan.


'Ya, Kak. Shaka sepertinya mau melampiaskan kepergian Morgan padaku. Karena Nova aku ambil, maka aku yang menggantikan Nova,'


"Gila dia. Kematian itu takdir,"


'Itu kan untuk mereka yang sadar. Kalau nggak sadar ya seperti ini,'


"Tapi, kamu sungguh baik-baik saja?" Aslan memastikan.


'Aku baik-baik saja, Kak. Aku akan membiarkan dia mengurungku seperti ini, asal dia bisa ikhlas melepaskan Morgan. Kasian Suamiku, Kak. Dia pasti tidak tenang,'


"Tapi kalau ada alasan lain bagaimana?"


'Tidak mungkin, Kak. Shaka selalu mengigau memanggil nama Morgan,'


"Semoga begitu. Takutnya, ada rasa lain yang menyelinap masuk di hati kalian. Susah itu urusannya,"


'Tidak, Kak. Ya sudah, aku mau mandi dulu. Kakak jaga diri baik-baik dan berhenti mencariku. Urus butikku sebaik mungkin, mengerti,'


"Tentu, Sayang. Kamu juga, jaga dirimu baik-baik. Kalau Shaka melakukan kekerasan, hubungi Kakak,"


'Iya. Assalamualaikum, Kak,'


"Wa'alaikumsalam."


Di seberang sana, Rania memeluk ponsel itu ke dalam dadanya. Ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih yang menekan di dalam sana.


"Aku merindukan kalian."


Di SP Group, Shaka sedang fokus dengan laptop di depannya. Wajah tampan itu terlihat semakin tampan dengan setelan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna navy pilihan Rania.

__ADS_1


Ya, tugas Rania di apartemen itu melakukan semua pekerjaan rumah layaknya seorang ART. Bedanya, ART mendapat gaji, Rania tanpa gaji.


"Permisi, Tuan. Anda sudah ditunggu para klien di ruang meeting," ucap Adi sopan.


Shaka hanya menjawab dengan anggukan. Dia bergegas menuju ruang meeting.


Sesampainya di ruang meeting, Shaka begitu terkejut melihat siapa yang menjadi kliennya saat ini.


"Airin ..." panggil Shaka dalam hati. Namun, enggan melihat orang di depannya. Rapat pun berlangsung.


Shaka memimpin pertemuan itu dengan profesional, hingga acara itu selesai. Shaka menutup acara itu dan langsung keluar dari ruangan, diikuti Adi di belakangnya.


Melihat itu, Airin berlari mengejar Shaka.


"Ka, tunggu aku!" seru Airin kepada Shaka.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Shaka dingin, tanpa memberhentikan jalannya.


"Aku hanya ingin berteman denganmu, apa salah?" tanya Airin lembut.


Shaka terus diam dan terus berjalan dengan langkah cepat.


Grreeb!


Airin mencekal lengan Shaka dan memeluk Shaka erat. Beruntung, di lorong itu tak ada seorang pun yang melihat, kecuali Adi.


"Apa-apaan kamu, Rin!" sentak Shaka, menghempaskan tubuh Airin kuat, hingga tubuhnya ambruk ke lantai.


"Maaf, aku tak bermaksud menyakitimu," Shaka membantu Airin berdiri dan memapah ke ruangannya.


Sesampainya di ruangan, Shaka mempersilahkan Airin duduk di sofa. Shaka pun memijat pundak Airin dengan telaten sampai Airin tertidur dalam posisi duduk.


...****************...


Sore berlalu, Airin belum juga bangun. Hingga akhirnya, Shaka terpaksa membangunkan Airin dengan menyipratkan air ke wajahnya.


"Maaf, Ka. Aku ketiduran ..." ucap Airin tersipu.


"Tak apa, ayo pulang. Biar aku antar," Shaka membereskan berkas-berkas untuk dimasukkan ke laci meja.


"Iya, maaf merepotkanmu," ujar Airin.


"Anggap saja ini permintaan maafku," ucap Shaka dingin.


Hening.


"Bolehkah aku menginap di rumahmu semalam saja? Aku baru saja diusir pemilik kontrakan, karena sudah tiga bulan tidak membayar," ucap Airin menunduk.


"Biar ku bayar, pulanglah. Tak baik wanita sepertimu nginap di rumah laki-laki," ucap Shaka penuh penekanan.


"Sayangnya, pemilik kontrakan itu sekarang sedang tidak di rumahnya,"

__ADS_1


"Hah, baiklah. Hanya semalam saja,"


Wajah Airin mendadak berbinar mendengar jawaban Shaka.


Setibanya di apartemen, Shaka mempersilahkan Airin masuk dan menunjukkan kamar Airin.


Ya, Shaka menyuruh Airin tidur di kamar Rania. Rania yang saat ini sedang berada di dapur sedikit terkejut melihat Airin dengan santainya masuk ke kamarnya.


"Kak, siapa dia?" tanya Rania sedikit berbisik.


"Dia teman lamaku. Malam ini, biarkan dia tidur di kamarmu," jawab Shaka dingin.


"Terus aku?" tanya Rania.


"Tidur di sofa kalau tidak mau tidur bersamanya," ucap Shaka sambil meneguk air putih yang diambilkan Rania.


"Kak, aku tidak biasa tidur dengan orang asing," rengek Rania manja.


"Tidur di sofa," Shaka mendudukkan panta*nya di sofa depan ruang TV.


"Hah, baiklah," desah Rania kecewa.


Rania mendekati Shaka dan melepaskan sepatu, dasi, serta jas yang dikenakan pria dingin itu.


"Kak," bisik Rania.


"Hmmm," gumam Shaka tanpa membuka matanya.


"Bolehkah aku mengambil kelinci kesayanganku ke sini?"


Shaka terkesiap. "Bukankah kelinci itu yang mirip dengan Steve?" batin Shaka dalam hati.


"Biar Alvin yang mengambilkannya,"


"Yeay! Terimakasih, Kak," seru Rania saking bahagianya. Hingga tanpa sadar, Rania memeluk Shaka dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Shaka.


Mendapat perlakuan tersebut, Shaka tersenyum samar dan membalas pelukan Rania dengan lembut, serta mengecup puncak kepalanya.


Deg!


Rania mendongakkan wajahnya tanpa melepaskan pelukan itu.


"Kakak menciumku? Nakal," ujar Rania manja.


Shaka balas menatap Rania tajam. "Kamu yang memelukku, jangan lupa itu,"


"Hah, baiklah. Maaf," Rania melepaskan pelukan itu dan bergegas melangkahkan kakinya untuk kembali memasak. Namun, tiba-tiba Shaka mencekal lengannya dan--


Cup!


"Hati-hati, nanti kamu jatuh cinta." bisik Shaka tepat di telinga Rania

__ADS_1


__ADS_2