
Keesokan paginya, Tuan Harsa tiba di SHD Group. Pria tua berusia 55 tahun bertubuh jangkung itu berjalan dengan angkuhnya, melalui beberapa koridor hingga sampai di ruangan yang ia tuju.
Shaka menatap heran dan selanjutnya, pria berwajah tampan itu tersenyum ke arah sang ayah tercinta.
"Duduk, Pa. Biar aku minta Adi buatkan kopi dulu," ucap Shaka lembut. Tuan Harsa merasa iba jika melihat sikap putra semata wayangnya ini. Tak pernah sekalipun Shaka menunjukkan kemarahan atau kekerasan di depan orang tua, meski dalam keadaan kecewa sekalipun.
Adi pun langsung memberi perintah kepada salah seorang OB agar segera membuatkan kopi untuk atasannya. Setelah itu, Adi melangkahkan kakinya menuju ruang khusus dirinya, yang berada tepat di sisi ruang tuan mudanya. Ia tau diri untuk tidak mengganggu pertemuan antar ayah dan anak itu.
Tuan Harsa menuruti perkataan Shaka, ia duduk di sofa panjang, yang berada di sudut ruang tersebut.
"Nak, Papa tidak akan berbasa-basi. Papa mohon, menikahlah dengan Aina. Mama kamu selalu marah tiap kali mendapat cibiran dari teman-temannya karena ..." Tuan Harsa tidak melanjutkan ucapannya. Shaka menatap pria tua di depannya dengan seringai tajam.
"Aku mandul, begitu? Atau istriku yang mandul maksud Papa," Shaka menyentak nafasnya kuat.
"Jika istriku hamil, apa kalian akan tetap memaksa aku untuk menikahi Aina?" tanya Shaka serius.
"Tentu tidak, Nak. Papa akan menjadi orang paling bahagia jika benar menantuku hamil," jawab Tuan Harsa tak kalah serius.
"Kalau begitu, akan aku beritahu kabar bahagia ini. Istriku sedang hamil, dan Papa akan menjadi Kakek sebentar lagi," Shaka menggenggam tangan Tuan Harsa.
"Tolong, jangan beri aku tekanan seberat ini, Pa. Hanya demi cucu, kalian ingin menghancurkan rumah tanggaku. Sungguh, aku merasa aku ini bukan anak kalian. Dengan ancaman demi ancaman yang Papa kirim belakangan ini, sudah menjadi bukti bahwa kalian bukan sosok orang tua, lebih tepatnya kalian adalah musuh bagiku," ucap Shaka penuh penekanan.
__ADS_1
"Rania hamil? Benarkah itu, Nak?" tanya Tuan Harsa antusias.
"Benar, saat ini baru berusia enam minggu,"
"Alhamdulillah ... maafkan Papa, Nak. Papa terhasut oleh perkataan Mamamu yang tak berdasar itu. Maafkan Papa, Papa akan menyuruh Aina supaya berhenti mengganggu rumah tanggamu." Tuan Harsa memeluk Shaka erat, lalu menepuk pundak lebar putranya bangga.
"Jangan melawan ketetapan Allah. Jika aku belum diberi keturunan, mungkin Allah sedang menguji kesabaranku, menguji keimananku, atau ada hal yang masih harus aku perbaiki lagi." Shaka membalas pelukan Tuan Harsa haru.
"Maaf ... Papa memang tak pantas disebut orang tua. Papa akan segera memberitahukan berita bahagia ini, supaya tak ada lagi gosip miring di sekitar kita. Papa bangga kamu tetap berdiri tegak di tengah terpaan badai yang Papa buat, Nak." Tuan Harsa melepas pelukannya dan kemudian mengusap titik-titik air mata yang menggenang di pelupuk mata.
"Tak apa, Pa. Oh ya, Papa sudah makan?" Shaka berusaha mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan.
"Assalamualaikum," suara Aina menghentikan obrolan Shaka dan Tuan Harsa. Aina terhenyak melihat ada orang lain di dalam ruangan tersebut.
"Ada apa?" tanya Shaka datar.
"Ah, maaf mengganggu. Aku hanya mampir sebentar kok." Aina terkekeh malu.
"Katakan!" sentak Shaka, membuat Aina maupun Tuan Harsa terjingkat kaget.
"Aku mau memperlihatkan sesuatu padamu." Aina berjalan mendekati Shaka dan Tuan Harsa, lalu mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya.
__ADS_1
Aina memberikan ponselnya ke tangan Shaka.
"Lihat, itu kelakuan istrimu di luar sana,"
Melihat gambar yang ada di layar ponsel tersebut, Shaka mengetatkan rahangnya hingga terdengar giginya bergemeletuk, tatapan matanya tajam seperti hendak menerkam mangsa di depannya.
Melihat reaksi Shaka, Aina yakin kali ini akan terjadi perang besar sepasang suami istri.
"Jadi ini yang membuatmu datang sepagi ini?" tanya Shaka penuh penekanan. Tangannya mengepal erat di bawah sana.
"Sure," Aina menaikkan sebelah alisnya percaya diri. Tuan Harsa yang tidak tahu apa-apa hanya mampu mengunci mulutnya rapat-rapat agar tak salah arah.
"Cih, percaya diri sekali." Shaka menarik sudut bibirnya hingga terbentuk senyuman tipis, sangat tipis.
"Aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri, Shaka. Mereka sangat mesra,"
"Tapi dia ... kakak iparku sekaligus kakak kandung istriku. Bagaimana? Masih punya nyali untuk percaya diri, hah?" telak Shaka, emosinya tak dapat dibendung lagi.
Aina tercenung, sangat malu. Jika ada lubang jangkrik saat ini, Aina dengan senang hati akan bersembunyi di dalam sana.
"Keluar! Jangan sampai aku melihatmu lagi barang sedetikpun! Adi ...!" seru Shaka emosi, membuat Aina gemetar ketakutan, begitu pula Tuan Harsa.
__ADS_1