Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Hijab Rania


__ADS_3

Fatma dan Nova memasuki ruang pelayanan, sekaligus ruang kerja Fatma sebagai asisten Rania. Fatma duduk di kursi kebesarannya, tak lupa mempersilahkan Fikri dan Amor untuk duduk di depannya.


Kesannya seperti polisi yang sedang mengintimidasi tersangka, bukan?


"Nov, kamu bisa di luar menjaga butik. Aku bisa mengatasi sendiri," ucap Fatma dan langsung dibalas anggukan oleh Nova.


"Baik, Nona Amora. Jas seperti apa yang Anda inginkan untuk calon suami Anda ini?" tanya Fatma dengan raut wajah dingin.


Amora pun merasakan ada perbedaan dalam diri Fatma. Kemarin, mereka baru saja bertemu dan reaksi Fatma sangat menyenangkan. Tapi sekarang?


"Ah, iya Mbak Fatma. Saya mau warnanya dibuat senada dengan warna gaun saya, Mbak," ucap Amor tersenyum manis.


"Baiklah. Kalau begitu, saya akan melakukan pengukuran kepada suami Anda." ucap Fatma dingin dan langsung beranjak guna mengambil meteran.


Fikri masih diam dengan segala pikiran yang berkecamuk. Dalam hati, ingin rasanya ia memeluk gadis tercintanya ini. Juga, rasa benci terhadap orang-orang yang terlibat dalam perjodohan ini kian mendalam, terutama Amora.


"Mas, kenapa diam?" tanya Amor lembut.


"Nggak usah sok peduli," jawab Fikri dingin tanpa menoleh kepada Amor sedikitpun.

__ADS_1


"Tapi aku lihat dari tadi kamu ngelamun terus. Kamu sakit?" tanya Amor lagi dengan penuh kesabaran.


"Aku bilang jangan ikut campur urusanku, Amora!" seru Fikri dengan kilatan amarah. Amora menggigit bibir bawahnya karena takut dan terkejut. Diperlakukan bak seorang Ratu di keluarganya, membuatnya tak pernah merasakan kekerasan, kekasaran, dan penolakan.


"Maaf, Mas." Amora langsung mengunci bibirnya rapat dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.


Fatma pun tak kalah terkejutnya. Selama berpacaran, baru kali ini ia mendengar Fikri menyentak seseorang. Ingin rasa membela Amora, tapi hati tak sanggup membayangkan kebersamaan Amora dengan Fikri setelah pernikahan nanti.


Di kamar Shaka.


Rania telah selesai membersihkan diri. Hari ini, ia berencana mengunjungi butiknya dan setelah itu ke rumah orang tuanya. Ketika Rania duduk di depan kaca besar, matanya menangkap sosok yang sedang bertelanjang dada mendekatinya. Tak lain suaminya sendiri, Shaka.


"Kok dandan? Mau ke mana?" tanya Shaka penuh selidik.


"Hari ini aku mau ke butik, Kak. Setelah dari butik, aku mampir ke rumah Papa Mama. Boleh?" Rania berbicara sambil menatap bayangan suaminya lewat kaca besar di depannya.


"Boleh, tapi aku antar. Dan lagi, jangan panggil aku Kakak, Sayang. Aku suami kamu, loh," Shaka berdecak.


"Hehe ... maaf,"

__ADS_1


Setelah selesai mengeringkan rambut, Rania langsung mengambil jilbab untuk menutupi kepalanya.


"Sayang! Kamu pakai jilbab?" tanya Shaka antusias.


"Iya. Dulu aku pernah memiliki keinginan, setelah menikah nanti, aku akan langsung berhijab. Dan aku baru ingat tadi malam. Bahkan, setelah aku menikah dengan Morgan, aku nggak ingat keinginan itu. Selain itu, berhijab itu kewajiban setiap perempuan, kan?" ucap Rania panjang lebar.


"Alhamdulillah, semoga istiqomah ya, Sayang. Kita akan bersama-sama menyempurnakan ibadah kita dengan saling memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah," Shaka memeluk pinggang ramping Rania dari belakang.


"Aamiin, Kak Sayang. Kami cepetan mandi, gih. Keburu siang, ntar pulangnya kemalaman," Rania mengelus pipi glowing Shaka dan meninggalkan cubitan kecil di hidung suaminya.


"Siap, Adek Sayang. I love you." Setelah mengatakan itu, Shaka langsung ke kamar mandi untuk melaksanakan perintah sang istri tercinta.


Hei Readers Dear ...


Kasih like buat aku dong 🥺


Setiap hari 650 pembaca, masa yang ngasih like cuma 3 orang🤧


Kasihanilah othor abal-abal ini😁

__ADS_1


__ADS_2