Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
pertengkaran hebat


__ADS_3

Sore ini sepulang kuliah Aslan hendak menemui sang adik tercinta.Ia ingin menanyakan tentang perasaan adiknya yang sesungguhnya.Ia tak habis pikir dengan kedua orang tuanya,bisa-bisanya mereka menikahkan anak mereka dengan pria sakit-sakitan.Apa alasan harta dan tahta?


Satu jam kemudian Aslan telah sampai di apartemen adiknya.Sebelumnya dia sudah mengirim pesan kepada sang adik tentang kedatangannya dan menanyakan letak apartemen Morgan.


"Ini nih apartemen si Morgan itu." gumam Aslan,tangannya bergerak mengetuk pintu itu dengan keras.


"Cepet amat sampainya Kak? Rara nggak dibawa lagi.Aku kan udah minta kakak untuk bawa Rara kesini" Rania berdecak sebal.


"Maaf,kakak nggak bisa bawa Rara hari ini.Kamu aja yang ambil dia.Suamimu?"Aslan celingukan mencari sosok laki-laki yang dia benci di semua penjuru ruangan tersebut,namun hasilnya nihil


"Dia lagi tidur Kak,duduklah aku ambilkan minuman"


"Tidak perlu,kakak cuma mau memastikan sesuatu" ucap Aslan serius.


"Tentang?" Rania mengernyitkan Alisnya.


"Tentang hatimu,otakmu,dan perasaanmu" jawab Aslan enteng.


"I'm okay Kak.Jangan khawatir"

__ADS_1


"Bohong,hanya dengan melihat wajahmu saja aku tau kamu nggak baik-baik saja,cerita!" Aslan menatap adiknya lekat. "Aku kakakmu,aku punya hak untuk selalu melindungimu,aku punya hak untuk menentukan kebahagiaanmu." imbuhnya lagi.


Tiba-tiba Rania menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Aslan.Ia mengeluarkan seluruh air matanya hingga tanpa sadar ia menancapkan kuku-kukunya ke punggung sang kakak.Aslan hanya meringis menahan perih karena tancapan kuku tersebut.Ia membiarkan adiknya menangis hingga lega.


Setelah tangisan itu reda,akhirnya Rania memberanikan diri untuk bercerita mengenai perasaannya.Ia menghembuskan mafasnya kasar


"Kak,sebenarnya aku bingung dengan perasaanku.Aku mencintai suamiku tapi di sisi lain,laki-laki yang kusebut sebagai kakak ipar itu selalu saja menghantui pikiranku.Aku merasa sangat berdosa karena membiarkan lelaki lain hadir di dalam otakku" Aslan masih setia mendengar cerita adiknya.


Dan tanpa mereka sadari,Morgan sedang berdiri mematung di samping dinding pembatas ruang makan dengan ruang tamu.Niatnya mengambil air minum malah pengakuan Rania yang di dapat.Dan Morgan menyimpulkan bahwa Rania mencintai kakaknya tanpa mendengar percakapan itu hingga selesai.Ia kembali ke kamar dengan membawa segudang kemarahan yang memenuhi hatinya.


"Aku selalu mengingat adegan demi adegan ketika aku menggoda dia Kak,sungguh aku selalu memikirkan hal itu.Bayangin Kak,aku menggoda kakak iparku sendiri.Aku mencumbu bibirnya dan dia mencumbu seluruh tubuhku hiks hiks" Rania mengeratkan pelukannya,membenamkan wajahnya di pelukan kakaknya yang terasa begitu nyaman.


"Aku mengalami kejadian tragis dan dinikahkan di waktu yang sama Kak.Aku bercumbu dengan Pak Shaka tapi aku dinikahkan dengan adiknya hahaha" Rania tertawa miris,menertawai dirinya sendiri.


"Kakak paham Ran,sangat paham dengan perasaanmu.Kamu hanya korban keegoisan para orang tua.Orang tua kita hanya memandang harta dan kasta,sedangkan mertuamu hanya berusaha menuruti kemauan Morgan tanpa memikirkan perasaanmu." Aslan mengepalkan tangannya erat.Entah dengan siapa ia harus marah.Karena di sini semuanya salah.Semuanya hanya memikirkan perasaan mereka tanpa peduli dengan orang yang paling terluka.


Setelah mendengar jawaban sang adik,akhirnya Aslan memutuskan untuk pulang.Rania lega karena ia bisa mengeluarkan segala uneg-unegnya.


Rania baru ingat,saat ini waktunya minum obat.Morgan memang tidak memerlukan waktu yang lama untuk berlama di rumah sakit itu karena kecelakaan itu tidak meninggalkan luka yang serius.Justru dari kecelakaan itu malah menguak penyakit parah yang di derita Morgan.Namun dokter menyarankan untuk mengutamakan kebahagiaan Morgan tanpa terkekang di rumah sakit.Cukup dengan rutin mengonsumsi obat dan menjalankan beberapa terapi.

__ADS_1


Akhirnya Rania menyiapkan obat dan air putih untuk diminum suaminya.


"Mas,minum obat dulu" Belum sampai Rania meletakkan obat dan air putih,ia malah mendapat tamparan keras di pipi mulusnya hingga barang yang ia bawa terjatuh ke lantai.


"Bagus!!! tukang drama lagi sok perhatian sama laki-laki penyakitan ini" kata Morgan dengan nada tinggi dan mata memerah.


"Apa maksudmu mas?" lagi,air mata itu luruh tanpa mampu ditahan,rasa sakit karena tamparan tak dihiraukan,sakit karena tuduhan lebih dalam.


"Nggak usah sok suci.Katakan padaku,apa Shaka sudah berhasil membobol pintu bergembok itu?Ah atau jangan-jangan kamu memang sudah terbiasa menjajakan pintu bawahmu dengan para pria hidung belang?" tanya Morgan sengit.


"Tuduhan apa lagi ini Mas? kami kenapa jadi begini sih?Apa salah aku?" Rania masih berusaha mendekati suaminya,ia takut yang suaminya alami ini merupakan dampak dari penyakitnya.


"Bukan tuduhan,karena semuanya sudah jelas.Kamu mencintai kakakku bukan??"


"Mas,aku mencintaimu...nggak ada dalam pikiranku untuk mencintai kakakmu" Ucap Rania masih dengan isakan tangisnya


"Aku sudah mendengar semuanya Rania..Pantas kamu menolak untuk berciuman ternyata kamu tidak mencintaiku dan kamu jijik untuk melakukan itu padaku!!!" Morgan semakin meninggikan suaranya namun tiba-tiba ia merasa sakit yang teramat di kepalanya dan setelah itu ia jatuh tak sadarkan diri.


up dua bab hari ini,like nya dong kak!

__ADS_1


__ADS_2