Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Misterius


__ADS_3

Shaka baru saja menidurkan Rania yang selalu ingin dipeluk sepanjang tidurnya. Shaka kecup dahi Rania lalu dia lepas hijab yang menutupi surai hitam nan indah milik wanita cantik teman hidupnya.


Aroma tubuh Rania selalu berhasil membuatnya tak ingin lepas dan jauh. Cintanya pada wanita bernama Rania semakin dalam. Sedalam perjuangannya untuk mendapatkan wanita itu.


"Kamu sangat cantik, Sayang," bisik Shaka, dan beralih ke perut Rania yang mulai nampak buncit.


"Hai, anak Apa. Lagi ngapain, sih? Jangan nakal, kasihan Ama. Apa dan Ama sayang kamu," bisik Shaka sembari mengelus lembut perut Rania.


"Terimakasih, telah sudi mengandung anakku, Sayang," bisik Shaka, lalu mengecup bibir Rania yang tertutup rapat.


"Sama-sama, Sayang. Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri. Aku ikhlas, karena inilah jihadku," balas Rania dengan mata sayu.


"Sayang ..." Shaka menyatukan dahinya dengan dahi Rania, lalu mengecup bibir tipis itu kembali.


"Ya?"


"Bolehkah--"


Ting! Ting!


Dering ponsel berhasil membuat Shaka berdecak kesal.


"Wa'alaikumsalam, kenapa?"

__ADS_1


"Syukurlah ... kalau begitu, kamu beristirahatlah. Bawa saja mobilku ke rumahmu, besok kamu jemput aku dan Rania untuk kembali ke rumah Papaku,"


"Wa'alaikumsalam,"


Tut.


Panggilan terputus.


"Ada apa, Mas? Kabar Nova?" tanya Rania.


"Iya, kata Adi ... Nova hanya kelelahan dan stres. Kamu, bumil ... juga jangan lelah dan stres kaya Nova. Kata orang, salah satu cara menghilangkan stres bisa dengan cara ..."


"Alah, modus. Udah, deh. Katanya aku nggak boleh lelah, baru juga mau tidur udah dimintain jatah lagi." Rania berdecak kesal.


"Alah ... kamu juga dosa maksa istri hamil muda buat melayani kamu. Pakai aja botol shampo buat kamu masukin. Licin, wangi lagi," kekeh Rania.


"Kok kamu mesum, sih, Yang?"


"Astaghfirullah ... kan kamu yang mesum, Mas? Kok malah jadi aku, sih?" protes Rania dengan nada manja.


"Baiklah, pokoknya yang jelek-jelek itu aku. Kamu yang baik-baik aja,"


"Gitu, dong. Jadi suami emang harus banyak ngalah sama istri. Udah, sekarang aku mau tidur. Jangan ganggu." Rania melotot tajam, lalu tersenyum licik dan tidur lagi.

__ADS_1


Sedangkan tuan Yudi dan nyonya Irene baru saja selesai menemani para tamu sampai mereka pulang satu per satu. Tampak wajah lelah nyonya Irene yang sedang duduk sembari memijit kakinya yang terasa pegal.


"Kamu capek, Ma?" tanya tuan Yudi basa-basi.


"Sangat. Udah tahu nanya," gerutu nyonya Irene.


"Mau Papa pijitin?"


"Boleh. Tapi jangan pijit plus-plus, Mama mau istirahat," ketus nyonya Irene. Mendengar itu, tuan Yudi menghela nafasnya kasar dan menyesal telah menawarkan jasa pijit yang original. Tapi tetap dia laksanakan hingga sang istri tertidur pulas di ranjang empuk yang telah lama tak mereka tiduri.


Berbeda dengan pasangan tuan Yudi dan nyonya Irene, tuan Harsa yang baru sampai di kediamannya tengah menatap bingkai besar yang terdapat foto keluarganya.


"Ma, Morgan ... bolehkah aku merindukan kalian?" lirih tuan Harsa, setetes air hangat meluncur bebas membasahi pipinya yang mulai keriput akibat termakan usia.


"Aku merindukan kebersamaan kita. Aku, kamu, dan anak-anak kita. Aku menyesal tak mempergunakan waktu dengan baik saat kalian masih ada. Aku ingin bertemu kalian meski dalam mimpi," isak tuan Harsa semakin merasa perih di ulu hatinya.


"Papa ..." suara sosok laki-laki yang sangat tuan Harsa rindukan terngiang di telinganya.


"Ah ... karena terlalu merindukan kalian membuat aku terbayang-bayang suara kalian rupanya," kekeh tuan Harsa sembari menundukkan kepalanya.


"Pa ... tengok ke belakang," pinta suara misterius itu. Tuan Harsa menggelengkan kepalanya dan semakin menundukkan wajahnya.


Akan tetapi, sepasang tangan kekar memeluk tubuh tuan Harsa yang gemetar dari belakang.

__ADS_1


"Aku rindu Papa juga," bisik suara misterius itu. Merasakan sentuhan nyata, tuan Harsa mendongakkan wajahnya dan berbalik ke belakang, ke pemilik tangan yang melingkar di tubuh tuanya.


__ADS_2