![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Nagisa tak sadarkan selama setidaknya hampir dua jam lamanya. Ketika bangun, Lug mencoba untuk membuatnya kembali beristirahat, tetapi gadis itu tidak mau. Dia tahu bahwa Lug datang dengan tujuan yang sangat penting. Dikarenakan Nagisa bersikeras, maka lelaki itu mengikuti keinginannya.
Mereka berdua dan Raini berdiskusi di kamar Raini itu.
"Aku butuh kekuatan yang sangat besar untuk bisa mengambil benda itu dari Lucifer," papar Lug.
Nagisa dan Raini tidak terkejut karena mereka sudah mendengar bahwa Lug akan melawan para dewa.
Nagisa mengangkat tangannya. "Kakak, bagaimana cara kita untuk menuju ke dunia para dewa? Dunia mereka sangatlah jauh, kita tidak bisa ke sana," tanyanya bingung.
Raini mengangguk setuju. "Nagisa benar, dunia mereka terlalu jauh," ia menimpali.
Lug melipat kedua tangannya, dia menyeringai seakan memiliki rencana dan sudah mempersiapkan segalanya. Tapi setelah itu, tampang Lug terlihat lebih serius. "Nagisa, Raini," panggilnya sembari menatap kedua gadis yang dipanggilnya itu bergantian. "Aku ingin tahu tentang kesetiaan dan kepercayaan kalian terhadapku, ini sangat kubutuhkan."
Nagisa tersenyum. "Kakak, kau tak perlu meragukanku, aku sangat percaya kepadamu," sahutnya.
Tetapi wajah Raini malah memerah. Dia memalingkan wajahnya–malu untuk memandang Lug. "Aku ... Aku juga seperti Nagisa- tak usah ... Ragu lagi dengan kepercayaanku padamu," sahutnya juga.
Lug tersenyum melihat tingkah laku Raini yang salah tingkah, sementara Nagisa malah bingung.
"Baiklah, aku tidak akan meragukan lagi kepercayaan kalian," ucap Lug sembari tersenyum lucu, "Tapi ingatlah!" Pada saat itu juga mata Lug berbinar dan tatapannya begitu mengerikan dan sangat tajam. "Jangan pernah ceritakan ini kepada orang-orang, biarlah kita saja yang tahu tentang ini."
Melihat tatapan Lug, Raini berkeringat dingin karena ketakutan, sementara Nagisa membalasnya dengan tatapan tegas.
"Baiklah, aku berjanji, kakak Lug!" janji Nagisa dengan tegas.
Raini juga berjanji, "Aku juga berjanji kepadamu, Lug."
Lug tersenyum senang melihat kedua gadis di depannya yang sedang duduk di atas ranjang menyatakan janji mereka. Lalu ia menceritakan tentang masa lalunya yang mana itu adalah tentang dirinya yang seorang reinkarnator.
Sontak cerita itu membuat Nagisa dan Riani tertegun saat itu juga. Mereka tak tahu harus bertanya perihal apa lagi.
"Sebelum aku bereinkarnasi, aku telah menurunkan beberapa benda ke dunia ini untuk berjaga-jaga ketika aku sudah bereinkarnasi seperti sekarang ini. Dan sekarang benda yang kubutuhkan berada di dunia iblis dan dunia dwarf. Aku sudah mengirim 5-O-V ke dunia dwarf, karena mereka adalah orang kepercayaanku," jelas Lug dengan serius.
Nagisa merasa ada yang janggal. "Bukankah seharusnya 4-O-V? Kenapa jadi 5?" tanyanya.
Lug menghela nafas dan tersenyum. "Aku sudah menambahkan dua Vlamera- tanpa aku, mereka sekarang berjumlah lima," jelasnya.
__ADS_1
Nagisa sedang terjelaskan, dia mengangguk paham dengan penjelasan barusan. Sementara Raini sendiri sedikit bertanya-tanya tentang siapa itu 5-O-V? Hanya saja dia merasa familiar dengan sebutan tersebut.
"Kesampingkan tentang mereka! Yang sekarang kubutuhkan adalah kekuatan dan jumlah orang yang harus kubawa," tutur Lug.
Nagisa bertanya, "Apa kita bertiga cukup? Bukankah seharusnya kita butuh anggota tambahan?"
Lug mengangguk. "Aku punya rencana yang mungkin akan sangat mengejutkan. Yang pertama adalah kita membutuhkan Zephyr sebagai anggota tambahan kita, di mana dia sekarang? Bertugas?"
"Ya," jawab Raini. "Dia sekarang bertugas di dinding perbatasan."
Lug tersenyum lagi. "Baguslah, kita tidak perlu mencarinya lagi," sahutnya.
Wajah Nagisa menjadi sedikit lebih tegang. Dia seperti sedang dikelilingi oleh pertanyaan pertanyaan. "Kakak Lug, kita tidak bisa asal masuk ke dalam dunia iblis begitu saja, akan ada masanya di mana portal penghubung akan terbuka setiap Minggunya," jelasnya.
Lug menyeringai. "Baru saja aku bercerita kepada kalian bahwa akulah leluhur yang membentangkan dinding besar itu. Jadi aku punya cara untuk menembusnya tanpa menggunakan cara yang digunakan oleh manusia sekarang ini," jelasnya.
Nagisa memukul telapak tangannya sendiri. "Benar juga, ya? Kenapa aku tidak terpikirkan, ya?"
"Sudahlah," tutur Lug. "Aku akan menjelaskan lagi tentang rencanaku berikutnya, inilah yang sedikit mengejutkan."
"Menyinkronisasikan sumber jiwa dengan orang lain dapat membuat keduanya memiliki ikatan yang lebih kuat dari metode Benang Spiritual. Dan juga keduanya akan diberkahi kekuatan yang luar biasa. Sementara itu, menyinkronisasikan sumber jiwa, biasanya dilakukan dengan ... " ucapan Lug terhenti–wajahnya memerah.
Nagisa menyadari apa yang dimaksud oleh Lug. Wajahnya juga memerah. "La- lalu siapa dan dengan siapa yang akan menyinkronisasikan sumber jiwa?" tanyanya malu-malu.
Raini tak tahu alasan kenapa wajah mereka berdua tiba-tiba saja menjadi merah dan tingkah mereka menjadi aneh. Dia sampai membatin, Kenapa dengan mereka berdua? Apa ada sesuatu hal yang mereka sembunyikan dariku?
"Aku butuh kekuatanmu, Nagisa!" tuntut Lug, tapi wajahnya merah padam, seakan keluar asap dari kepalanya.
"Hah?!" Sontak Nagisa juga terkejut. Dia sangat tahu dan paham dengan perkataan Lug. "Kakak Lug ... Kita masih muda- emmm ... Apa ini tidak terlalu cepat?" tanyanya malu-malu.
Lug menghirup nafas dalam-dalam. "Harus! Kita harus menikah!" tegasnya dengan sangat berani.
Raini terkejut setengah mati, seakan jantungnya baru saja melompat karena saking terkejutnya. Dia kini mulai mengerti dengan ucapan Lug yang sebelumnya. Menyinkronisasikan sumber jiwa memang biasanya dilakukan pada saat pernikahan, seperti pada saat pernikahan Rakt dan Teressa.
"Kakak Lug ... Kau yakin dengan- keputusanmu itu?" tanya Nagisa yang masih malu dan ragu, tapi dalam hatinya, itulah yang sangat diimpikannya.
Lug mengangguk mantap. "Aku sangat yakin dengan ucapanku!"
__ADS_1
Lantas dia menatap ke arah Raini, diikuti oleh Nagisa yang tahu pandangan Lug ke arah sahabatnya yang ada di sampingnya. Raini sendiri malah malu ketika ditatap. Wajahnya memerah dan dia langsung buang muka pada saat itu juga.
"Aku akan menepati janjiku padamu, Raini," ucap Lug.
Raini diam dan wajahnya semakin memerah.
Nagisa bertanya-tanya dengan apa yang dijanjikan Lug kepada sahabatnya itu. "Apa yang kaujanjikan pada Raini, kakak?" tanyanya penasaran.
Lug tersenyum masam. "Kumohon kau jangan marah kepadaku, Nagisa. Ini adalah janji yang kuberikan kepada Raini ketika kau tak sadarkan diri."
"Karena ini membahas tentang ... Ekhem- pernikahan, apa kalian juga sedang membahas hal yang berkaitan?" tanya Nagisa yang masih penasaran.
Lug merasa bahwa Nagisa cukup pintar membaca situasi. "Nagisa, aku menjanjikan ... Sebuah pernikahan padamu- dan Raini," terangnya.
Sontak itu membuat Nagisa terkejut, dia langsung menundukkan kepalanya tak berani menatap Lug.
Sementara Lug sendiri dan Raini malah khawatir dengan Nagisa.
"Nagisa, kumohon maafkan aku. Jika kau tidak suka, aku akan meminta Lug untuk menarik kembali janjinya padaku. Maafkan aku, Nagisa. Sebenarnya dari dulu aku juga menyukai Lug, dia benar-benar berbeda dengan lelaki lain yang pernah kukenal selain kakak Zephyr," jelas Raini menenangkan Nagisa.
"Nagisa ... Aku tahu bahwa aku memanglah b*jingan. Jika kau berkehendak, kau bisa memutuskan hal apapu- "
"Sudahlah, kakak Lug," ucap Nagisa memotong ucapan Lug. Bibirnya tersenyum seakan tak terjadi apapun dengannya. "Asalkan aku bersamamu, meskipun kau mempunyai istri yang banyak sekalipun, aku tak peduli. Aku hanya ingin terus bersamamu saja, tak peduli mau sebanyak apapun kau bersama dengan wanita. Aku juga tahu bahwa kau telah bertunangan dengan seorang gadis bernama Alice dari keluarga Claudia yang telah menjanjikan pertunangan dengan dirimu."
Saat itu juga, Lug mengerti perasaan Nagisa dan langsung memeluknya dengan hangat. "Nagisa, sekarang aku yang bertanya balik denganmu. Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanyanya penasaran.
Nagisa membalasnye dengan pelukan yang hangat pula. "Aku yakin dengan keputusanku ini. Lagipula, seorang pria sejati harus menepati janji yang telah diucapkannya," jawabnya dengan suara yang terdengar sangat tulus.
Di saat itu, Lug dan Nagisa saling bertatap mata. Mereka saling bertukar senyuman hangat satu sama lain. Dan Lug mencium dahi Nagisa dengan penuh perasaan cinta.
Raini yang melihatnya merasa terharu karena Nagisa menerima dirinya di dalam kehidupannya bersama dengan Lug.
Nagisa menoleh pada gadis itu. Dia mangayunkan jarinya mengisyaratkan kepada Raini untuk mendekat.
Dan ketika mendekat, Raini langsung dipeluk oleh Nagisa dan Lug dengan hangat. Gadis itu terkejut sampai air matanya mengalir, namun dia justru tersenyum bahagia. Dia juga membalas dengan memeluk mereka berdua.
Bersambung!!
__ADS_1