![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
"Apa monyet termasuk hewan buas?" tanya Nagisa.
Sekarang dia dan Zephyr bertemu dengan sekumpulan monyet yang bergelantungan di atas pohon. Mereka berjumlah belasan yang juga beberapa dari mereka menatap balik dua orang yang ada di bawah mereka.
Zephyr menjawab, "Sepertinya iya, mereka itu kelihatannya buas, lihat saja dari cara mereka menatap kita!"
Para monyet itu tersenyum melihat Nagisa dan Zephyr. Mereka itu seolah anak kecil yang menemukan mainan baru, namun mainan hidup. Memang pada umumnya monyet termasuk hewan buas karena akan mencakar siapapun yang hendak mendekatinya–karena dirasa mengancam. Dan mereka juga memiliki kelebihan berupa kecerdasan di atas rata-rata hewan pada umumnya–sering dikatakan memiliki pemikiran layaknya manusia, serta mereka itu sangatlah lincah karena dapat menggunakan kakinya sebagai tangan ataupun sebaliknya, tangan sebagai kaki.
Lantas Zephyr melirik Nagisa. "Sekarang pikirkan, bagaimana caranya kita akan memburu monyet monyet itu?" paparnya.
Zephyr tidak akan selalu menggunakan Cahaya Kosmik miliknya untuk menerangi hutan, itu malah akan menyulitkannya dalam menggunakan sihir.
Akan tetapi ketika Zephyr menatap Nagisa, dia terlihat kagum melihat gadis itu yang tampak sangat tenang di dalam situasi seperti sekarang ini. Tatapan Nagisa sangatlah tajam ketika menatap para monyet yang bergelantungan di atas pohon. Itu membuat Zephyr berpikir, hebat! Gadis ini sepertinya pernah menghadapi situasi seperti ini. Ya- sedikit mengingatkanku dengan Lug, haha ...
*****
"HACHIU!!!" Lug bersin. "Aahh ... Siapa lagi yang sedang membicarakanku kali ini?" gumamnya kesal.
Kemudian Nagisa menoleh kepada Zephyr. "Apa kau terbiasa bergerak di kegelapan?" tanyanya.
Zephyr sedikit terkejut. "Tidak, aku jarang sekali melakukan hal seperti itu. Bertarung pun- ya, kau tahu? Baru baru ini saja, terakhir kali kita berlatih tanding sebulan lalu, kau yang mengajakku, itu pun bukan di kegelapan," sahutnya.
Nagisa tersenyum dan mengangguk. "Baiklah kalau begitu."
Gadis itu tiba-tiba berjongkok dan memposisikan tangannya seolah sedang memegang bola. Dia mengumpulkan mana alam di sekitarnya dan menempatkannya di satu titik.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zephyr penasaran. Ia tak bisa melihat mana alam yang di sekitarnya sedang berkumpul.
Nagisa tidak menjawab, dia masih berkonsentrasi dengan apa yang dilakukannya sekarang ini.
Sepertinya aku tidak boleh mengganggunya sekarang ini, batin Zephyr.
Kemudian gadis yang sedang jongkok itu mengalirkan mananya sendiri ke titik yang sama dengan mana alam yang sedang dikumpulkannya. Namun mananya itu telah dimanipulasi sedemikian mungkin, sehingga ketika menyentuh mana alam ...
BUM
Itu membentuk sebuah bola cahaya kuning yang cuku terang, bahkan lebih terang dibandingkan Cahaya Kosmik-nya Zephyr.
"Wah, kau sangat keren, Nagisa," Zephyr memuji.
"Terima kasih, kakak Lug yang mengajariku, ini namanya adalah metode memanipulasi mana," ucap Nagisa.
BLAAAM
Tiba-tiba saja ada seekor monyet yang menyambar bola cahayanya. Seketika monyet tersebut tewas karena ledakan mana pada bola cahaya yang disambarnya. Tepat ketika bola cahaya itu meledak, bola itu memancarkan sinar yang sangat terang, mengakibatkan mata Nagisa dan Zephyr menjadi buta sesaat. Semua yang mereka lihat hanyalah warna putih terang.
"Wow!" seru Zephyr bersemangat ketika matanya telah pulih. "Itu sungguh sangat keren, luar biasa sekali!" Dia begitu senang melihat metode seperti itu.
Namun Nagisa masih mengalami kebutaan, seluruh penglihatannya masih menjadi putih sepenuhnya dan ketika membaik, matanya malah berkunang-kunang, kepalanya juga terasa sedang berputar-putar. Meski begitu, dia ikut senang atas pujian Zephyr terhadapnya.
"Kau tak apa-apa, Nagisa?" tanya Zephyr memastikan. Dia mencemaskan gadis di sampingnya itu.
__ADS_1
Nagisa masih merasakan pusing di kepalanya, namun ia menggeleng dan berkata, "Tenang saja, aku tidak apa-apa."
"Tapi-"
"Sudahlah- aku merasa sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya."
Meski begitu, kekhawatirannya tak akan hilang begitu saja. Zephyr tak percaya dengan ucapan Nagisa yang mengatakan dirinya baik-baik saja. Hingga Nagisa sudah bisa melihat dengan baik dan kini dia tersenyum hangat menatap Zephyr tanda terima kasihnya karena telah mengkhawatirkannya. Lelaki yang ditatapnya itu malah terpesona, di dalam hatinya ia berkata, astaga, gadis ini manis sekali. Wajah Zephyr merah merona.
Nagisa bingung melihat wajah Zephyr yang memerah. "Kau demam?" tanya gadis itu cemas. "Wajahmu merah, lho- kalau kau sakit, kita bisa kembali saja."
Zephyr menggeleng. "Tidak tidak- i-itu tadi ... Aku hanya senang saja," ucapnya tergagap.
"Senang? Karena apa?"
"A ... Y-ya ... K-karena ... Kau baik-baik saja. T-tadi kupikir terjadi sesuatu padamu, j-jadi bagaimana nanti aku menjelaskannya kepada Lug?"
Nagisa malah cekikikan melihat Zephyr yang tampak gugup di hadapannya. Namun lelaki itu tersenyum malu-malu dan malah teringat dengan wajah Phieri. Seakan Zephyr sedang merindukan gadis yang dibayangkannya itu. Tapi memang tak bisa dipungkiri bahwa Phieri telah mencuri hatinya.
Astaga, Phieri ... Kenapa aku sekarang malah memikirkanmu? Aku ingin segera kembali saja, batin Zephyr berharap. Aku malah terpesona dengan Nagisa.
Mau bagaimanapun juga sebelumnya Zephyr memang sudah terpikat dengan kecantikan Nagisa. Walaupun ia suka dengan gadis tersebut, namun dia tahu bahwa gadis itu tidaklah menyukainya. Nagisa jauh lebih menyukai Lug yang mana adalah kakak angkatnya.
Setelah itu, Nagisa membuat lebih banyak lagi bola cahaya di tempat tempat yang cukup berjauhan. Hal tersebut dikarenakan ia tak ingin mengalami kebutaan seperti barusan bersama Zephyr–ledakan cahayanya memiliki lingkup yang cukup luas.
"Lebih baik kita tangkap mereka saja, jangan dibunuh," Nagisa menyarankan.
"Baiklah," Zephyr mengangguk.
Karena dirasa terlalu lama berbicara, beberapa monyet mulai menyerang mereka berdua. Dan ada beberapa monyet bodoh yang berusaha mengambil bola cahaya dan berakhir kematian pada mereka–namanya juga hewan.
Tak berselang lama, Nagisa dan Zephyr mendapatkan apa yang mereka mau. Beberapa monyet berada di tangan mereka. Dan ketika mereka berdua hendak kembali, ada tiga ekor kelinci bermutasi dengan ukuran yang cukup besar–setidaknya lima kali lipat lebih besar dari ukuran kelinci pada umumnya.
Nagisa merasa kelinci kelinci itu lucu. Hingga pada akhirnya ia hendak memegangnya, namun karena diserang, gadis itu marah. Hingga dia membunuh seekor kelincinya, tetapi kelinci yang lainnya seolah memiliki perasaan takut kepada Nagisa. Dan mereka malah menjadi hewan penurut di hadapan gadis itu.
Apa-apaan itu? Aneh sekali, batin Zephyr terheran-heran.
Nagisa menjadi senang karena bisa mendapatkan dua ekor kelinci yang menurutnya imut, tapi tidak bagi orang lain–bayangkan kalian memegang kelinci yang ukurannya lebih besar dari perut kalian.
Setelah mereka berdua kembali, Nagisa mengingatkan kepada kelincinya agar tidak mengganggu pondok yang berisikan gadis tak dikenal itu–begitulah Nagisa memberitahu kelincinya, meskipun tidak menggunakan bahasa kelinci, tapi setidaknya mereka paham.
Kelinci kelinci itu bersembunyi di semak-semak dan melindungi di kegelapan malam. Dan Zephyr mengikat beberapa monyetnya di pohon dan cukup jauh dari pondok.
Sebelum tidur, Zephyr dan Nagisa sempat mengobrol terlebih dahulu.
"Oh iya, Nagisa, kenapa pada saat itu tiba-tiba Lug menghentikanmu untuk menggunakan sihir besar itu?" tanya Zephyr yang teringat ketika Nagisa hampir menembakkan sihir Pusaran Badai Cahaya, namun dihentikan oleh Lug.
Nagisa menjawab, "Sejujurnya saja, ini rahasia."
Zephyr merasa kecewa dengan jawaban itu, tapi dia merasa bahwa seseorang pasti memiliki rahasianya masing-masing.
"Tapi- kakak Lug mengizinkan aku untuk menceritakannya padamu," lanjut Nagisa.
__ADS_1
Zephyr terkejut. "Apa kau tidak apa-apa menceritakannya padaku?"
Nagisa mengangguk. "Iya, tidak apa-apa," katanya. "Hanya saja jangan beritahukan ini kepada siapapun."
"Oke."
"Pada saat itu, aku memang berusaha untuk menciptakan sebuah sihir lima lingkaran. Sihir setingkat itu memanglah sangatlah masif. Tapi apa kau tahu? Kakak Lug mengehentikanku bukan karena itu, melainkan aku malah membentuk sihir enam lingkaran."
"Tunggu! Apa?!"
Zephyr merasa bahwa pada saat itu matanya tidak salah melihat bahwa sihir yang diciptakan Nagisa adalah sihir lima lingkaran, bukan enam lingkaran.
Tetapi Nagisa mengatakan bahwa sihir itu berubah menjadi enam lingkaran yang mana itu Lug lah yang memberitahu. Zephyr tahu seberapa kuat sihir enam lingkaran itu.
Dikatakan bahwa sihir lima lingkaran memiliki tiga kekuatan yang berbeda; kelas bawah; kelas menengah; dan yang terakhir, kelas atas. Tiga pembagian kekuatan itu berdasarkan dari kekuatan penghancur dan pengaruh dari sihirnya. Sihir lima lingkaran kelas bawah saja memiliki kekuatan penghancur setara dengan menghancurkan desa–desa kecil seperti desa Nedhen bahkan bisa hancur dalam satu serangan sihir lima lingkaran. Sementara sihir lima lingkaran kelas atas sendiri memiliki kekuatan penghancur setara dengan menghancurkan sebagian besar kota kerajaan Da Nuaktha,–luas kota kerajaan itu sendiri hampir mencapai 15 hipagrit atau 15000 regrit–tidak termasuk wilayah luar yang mana itu terdiri dari pedesaan, hutan, gunung, maupun lautan.
Note :
(Yang berarti luas 15000 regrit \= 18750 m²)
Jika sihir lima lingkaran kelas atas saja memiliki kemampuan sedestruktif itu, bagaimana dengan sihir enam lingkaran kelas bawah? Maka itu memiliki kekuatan yang setara dengan menghancurkan seluruh kota kerajaan dan bahkan mungkin saja, beberapa wilayah di sekitarnya akan ikut terkena dampaknya–kekuatannya hampir setara dengan menghancurkan gunung kecil.
"Mustahil! Apa memang benar seperti itu?!" Zephyr tidak percaya.
Walau seperti itu, Nagisa mengatakan apa adanya. "Aku sekarang ini sedang berterus terang padamu, tak ada sedikitpun yang kusembunyikan. Memang terdengar tak bisa dipercaya, tapi ini kakak Lug sendiri yang mengatakannya padaku," terangnya.
Zephyr tertegun mendengarnya. Ia memandangi tangannya sendiri yang menurutnya sudah sangat destruktif, tapi ternyata ada yang lebih lagi dari itu. Aku masih bingung untuk percaya atau tidak, batinnya.
Pada akhirnya, Nagisa tidak menjelaskannya lagi karena ia tahu bahwa Zephyr pastinya tidak akan mempercayainya.
Beberapa jam kemudian, mereka berdua telah terlelap di pondok masing-masing. Bahkan Sintya pun juga sudah terlelap sebelum mereka berdua kembali.
Beralih kepada Lug, dia kini malah membawa seekor harimau yang cukup besar. Dia menungganginya seolah-oleh itu adalah seekor kuda. Entah bagaimana caranya, harimau tersebut tampak sangat penurut dan sama sekali tidak menunjukkan sikap ganas di hadapan Lug.
"Harimau pintar," ucap Lug sembari mengelus kepala harimau itu. Terlihat hewan buas tersebut seperti sedang menangis karena ketakutan.
Setelah itu, Lug turun dan mengambil daging babi mentah di atas batang kayu besar. Ia melemparkannya kepada harimau itu, dan hewan itu melahapnya. Tampak ada rasa senang di wajahnya, dan Lug juga terlihat menyukainya. Harimau itu juga senang bisa memakan daging, dia seolah merasa bahwa manusia di hadapannya itu masih memiliki perasaan yang baik terhadap hewan. Ya, memang aneh hewan bisa mengerti watak manusia.
Beberapa saat kemudian, Lug mengikat harimaunya itu di sebuah pohon besar. Itu karena ia hendak tidur–dia bosan.
Sebelum tidur, dia sempat melihat-lihat Semesta Sihir miliknya. Di alam bawah sadarnya, terdapat ruangan yang sangat luas berwarna putih dengan triliunan huruf huruf asing berwarna emas menyala yang melayang. Sedikit demi sedikit, huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, Lug membacanya. Dia berusaha untuk meningkatkan pemahamannya terhadap sihirnya sendiri.
"Semua sihir kumiliki," Lug bergumam. "Tapi aku benar-benar lupa bahwa seharusnya aku tidak terlahir di dunia ini, aku melupakan tugasku."
Menjadi manusia sebenarnya tidaklah berat baginya, justru itu sangat menyenangkan. Berkali-kali Lug mendapatkan masalah, ia juga menyelesaikannya dengan baik meskipun akan menimbulkan masalah baru lainnya.
Dan sebelum Lug menjadi manusia, dia bukanlah makhluk tanpa tujuan yang tiba-tiba saja muncul di suatu dunia dan menjadi pahlawan tanpa identitas.
Setelah itu, Lug mencoba untuk membaca masa depan yang cukup jauh–berjarak beberapa hari dari sekarang ini. Dia tampak senang setelah melihat apa yang ada di masa depan. Namun seperti biasa, kepalanya menjadi sangat pusing dan berat.
Dan kini, Lug memutuskan untuk segera tidur saja daripada kepalanya semakin parah. Karena begitulah caranya sekarang agar dia bisa tidur.
__ADS_1
Bersambung!!